Ubah Cara Pandang ! Pendidikan Vokasi Berkualitas

IVOOX.id, Jakarta – Pengembangan pendidikan vokasi harus disertai dengan adanya perubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan vokasi. Masyarakat harus disadarkan bahwa pendidikan vokasi akan memberikan bekal praktis bagi generasi muda.

Pemerintah perlu mengedukasi masyarakat mengenai kelebihan-kelebihan yang ada dalam pendidikan vokasi. Peran pemerintah daerah menjadi factor kunci dalam sosialisasi ini. Pemerintah daerah diharapkan mampu merumuskan 3 prioritas pendidikan didaeranya sekaligus mampu menjelaskan hal tersebut kepada masyarakat.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menegaskan perlu adanya perubahan pola pikir pemahaman terkait pendidikan vokasi. Sebab, sistem pendidikan ini seolah dianggap pendidikan kelas kedua.

Pola pikir yang menganggap pendidikan kejuruan atau permagangan sebagai secondary class inilah yang menjadi alasan mengapa angka pengangguran lulusan perguruan tinggi meningkat. Sebab, tidak sedikit orang tua yang menginginkan anaknya belajar di Perguruan Tinggi, menempuh pendidikan formal dengan gelar sarjan. Padahal, lulusan Politeknik ataupun pendidikan vokasi lainnyalah yang dibutuhkan industri saat ini.

BACA JUGA: Pendidikan Vokasi Dalam Data, Penting Dan Potensial !

Hanif menyontohkan Sistem pendidikan vokasi di Jerman dan negara Skandinavia, yang berhasil mengatasi kendala pengangguran dan kompetensi pekerja. Dengan sistem ini pula, SDM Indonesia akan memiliki kemampuan mumpuni yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

Meski disepelekan, tapi program vokasi masih mendapat minat yang besar. Terbukti dari tingginya angka pendaftar yang mengikuti ujian masuk program vokasi di PTN. Di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta misalnya, jumlah pendaftar yang bersaing memperebutkan kursi di Sekolah Vokasi pada tahun 2017 mencapai 7.041 peserta, sementara jumlah mahasiswa yang dapat ditampung sebanyak 2.266 siswa.

Selain itu, jumlah pendaftar ujian seleksi masuk Program Vokasi Universitas Indonesia juga tidak kalah banyak. Pada 2017, jumlah siswa yang ingin menjadi “anak vokasi” mencapai 9.750 orang, dengan daya tampung sebanyak 330 siswa. Kemudian di Universitas Airlangga Surabaya, peserta ujian masuk vokasi pada 2016 mencapai 3.471 orang, dengan daya tamping sebanyak 1.355 siswa.

BACA JUGA: Pendidikan Vokasi Masa Depan Indonesia

Pendidikan vokasi, seperti halnya program pendidikan tinggi lainnya, mempunyai misi mempersiapkan generasi siap kerja dan profesional. Dalam pendidikan vokasi terdapat dua bagian pendidikan, yakni pendidikan menengah kejuruan dan pendidikan tinggi vokasi.

Pada Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2019, dirumuskan bahwa pemerintah fokus dunia pendidikan saat ini adalah untuk memberikan keterampilan kerja bagi generasi muda, khususnya dalam menyambut bonus demografi dan persaingan yang semakin ketat. Pendidikan dan pelatihan vokasi akan semakin diperkuat seiring bergesernya strategi pembangunan dari pembangunan infrastruktur fisik, menjadi pembangunan manusia.