Tren Rekrutmen 2026 Dorong Strategi Baru Perebutan Talenta Terbaik

IVOOX.id – Memasuki 2026, pasar tenaga kerja Indonesia dinilai memasuki fase yang semakin strategis. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kondisi pasar kerja nasional justru diproyeksikan tetap tangguh dan menjanjikan. Peluang ini tidak hanya bersumber dari pertumbuhan domestik, tetapi juga dari dinamika perdagangan global yang membuka potensi relokasi sebagian industri manufaktur ke kawasan Asia Tenggara.
Momentum ini dinilai menjadi peluang emas bagi Indonesia, dengan catatan mampu bersaing dari sisi infrastruktur, kemudahan berusaha, serta kesiapan sumber daya manusia. Dalam konteks ini, Jobstreet by SEEK menyoroti pentingnya pemahaman tren rekrutmen terbaru untuk menyusun strategi yang relevan dalam menarik dan mempertahankan talenta terbaik.
Tahun 2026 dipandang sebagai fase optimalisasi pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia kerja. Jika periode 2023–2025 menjadi tahap adopsi, maka AI kini telah bertransformasi menjadi bagian integral dari definisi kompetensi. Laporan eksklusif Hiring, Compensation, and Benefits 2025 dari Jobstreet by SEEK mencatat 71 persen perusahaan di Indonesia telah mempertimbangkan pengetahuan AI sebagai salah satu faktor dalam proses rekrutmen.
Acting Managing Director Indonesia Jobstreet by SEEK, Wisnu Dharmawan, mengatakan kebutuhan keterampilan terkait AI akan semakin meluas lintas fungsi. “Dari perkembangan tersebut, keterampilan terkait AI tentunya akan semakin dibutuhkan lintas fungsi. AI tidak lagi eksklusif milik engineer, tetapi menjadi keharusan untuk berbagai divisi termasuk pemasaran, operasional, hingga keuangan. Kuncinya terletak pada AI literacy (kecakapan AI), data literacy, dan kemampuan mengintegrasikan AI ke alur kerja untuk mendongkrak produktivitas,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Kamis (29/1/2026).
Perkembangan ini turut mendorong pergeseran relevansi keterampilan. Pekerjaan yang bersifat repetitif dan administratif semakin rentan terotomasi, sementara nilai tambah manusia bergeser pada kemampuan analitis, pemecahan masalah kompleks, kreativitas, serta pengambilan keputusan berbasis data. Kondisi tersebut menjadi sinyal bagi pekerja untuk mulai berinvestasi pada pengembangan keterampilan baru.
Di tengah isu pemutusan hubungan kerja (PHK), Jobstreet by SEEK menilai tren pasar kerja Indonesia relatif berbeda dibandingkan global. Sejumlah sektor seperti layanan kesehatan, manufaktur, dan ekonomi digital masih menunjukkan tren positif. Fenomena yang justru mengemuka adalah job hugging, yakni kecenderungan pekerja bertahan demi stabilitas karier, meski peluang finansial dan jenjang karier terbatas. Situasi ini menuntut perusahaan lebih proaktif membangun employer branding dan menawarkan jalur karier yang jelas.
“Cara sederhananya, bandingkan deskripsi pekerjaan di perusahaan dengan lowongan terkini di pasar tenaga kerja. Bila pasar mulai menuntut elemen AI, data, atau cloud yang belum dimiliki tim saat ini, itu sinyal perlunya program upskilling terarah dari perusahaan,” kata Wisnu.
Tantangan lain datang dari minat talenta Indonesia bekerja di luar negeri. Laporan Decoding Global Talent 2024 dari SEEK mencatat 67 persen pekerja Indonesia tertarik berkarier secara global. Menurut Jobstreet by SEEK, kondisi ini menjadi peringatan bagi perusahaan nasional untuk memperkuat strategi retensi melalui kompensasi kompetitif, peluang pembelajaran global, dan fleksibilitas kerja.
“Tahun 2026 bukan sekadar tentang siapa yang merekrut paling cepat, tetapi siapa yang mampu memetakan potensi talenta paling akurat. Bagi pencari kerja, portofolio dan kredensial mikro (micro-credentials) akan menjadi bukti kompetensi yang lebih bernilai dibanding gelar semata,” ujar Wisnu Dharmawan.


0 comments