Polisi Selidiki Cara Enam Aktivis Greenpeace Naik ke Patung Selamat Datang di Bundaran HI | IVoox Indonesia

Polisi Selidiki Cara Enam Aktivis Greenpeace Naik ke Patung Selamat Datang di Bundaran HI

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold E.P. Hutagalung
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold E.P. Hutagalung (tengah) bersama jajaran dan petugas gabungan TNI/Polri melakukan pengawalan aksi unjuk rasa di depan gedung UOB, Thamrin, Jakarta Pusat pada Kamis (24/9/2026). ANTARA/Adimas Raditya

IVOOX.id – Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold E.P. Hutagalung mengatakan, pihaknya akan mendalami cara enam aktivis Greenpeace Indonesia naik ke Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat untuk membentangkan spanduk berisi kritik terhadap pemerintah pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Menurut Reynold pihak kepolisian akan memeriksa pihak-pihak terkait dan menelusuri kamera pengawas atau CCTV guna mengetahui kronologi aksi tersebut.

Diketahui enam aktivis yang membentangkan spanduk di Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia (HI) terdiri dari dua perempuan dan empat laki-laki. Mereka melakukan aksi tersebut sekitar pukul 06.05 hingga 06.15 WIB.

“Sekitar jam 06.00 WIB, itu pembentangan spanduknya. Tentu nanti akan dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan audit kepada pihak-pihak terkait,” ujar Reynold kepada awak media, Selasa (20/10/2026).

Reynold mengatakan untuk mengetahui bagaimana mereka bisa mencapai bagian atas monumen yang berada di kawasan strategis ibu kota itu, pihak kepolisian akan menelusuri rekaman CCTV di sekitar lokasi.

“Saat melakukan hal tersebut sangat dimungkinkan mereka naik pada jam berapa, itu akan dilakukan pemeriksaan dari CCTV untuk lebih lanjut dalam proses waktu yang tepat kapan mereka naik ke atas,” beber Reynold.

Terkait aksi tersebut, Reynold menyebut Bundaran HI telah ditetapkan sebagai struktur cagar budaya berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 271 Tahun 2024. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kawasan tersebut tanpa mengganggu ketertiban umum maupun merusak warisan budaya.

Meski demikian, ia menegaskan kepolisian tetap memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum sesuai ketentuan perundang-undangan.

“Silakan memberikan ekspresi, silakan menyampaikan aspirasinya, menyampaikan pendapat di muka umum, namun jangan mencederai perjuangan-perjuangan dari saudara-saudara Greenpeace,” kata Reynold.

Hingga keterangan tersebut disampaikan, kepolisian kata ia masih memprioritaskan pemulihan kondisi keenam aktivis sekaligus mendalami kronologi aksi pembentangan spanduk di atas Patung Selamat Datang.

“Silakan rekan-rekan menyampaikan pendapat di muka umum, namun jangan mencederai perjuangan-perjuangan aspirasi rekan-rekan,” ucap Reynold.

Aksi Greenpeace Indonesia

Dikutip dari siaran pers, Selasa, 20 Oktober 2026, sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk raksasa dari atas Patung Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta. Spanduk bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” dibentangkan menghadap ke utara ke arah Istana Merdeka, sementara spanduk lainnya bertuliskan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?” menghadap ke selatan Bundaran Hotel Indonesia. Aksi damai tersebut sengaja digelar bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Praobwo-Gibran, demikian siarn pers Greenpeace Indonesia dalam di situsnya.

Aksi tersebut ditujukan untuk mendesak pemerintah agar lebih serius menangani krisis iklim yang kian mengancam kualitas hidup masyarakat Indonesia.

“Greenpeace Indonesia terus menggaungkan suara masyarakat, mendesak Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk membuka mata terhadap krisis iklim yang makin memperburuk kualitas hidup masyarakat,” kata Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia Jeanny Sirait, dikutip dari siaran pers, Selasa (20/10/2026).

Greenpeace Indonesia menyebutkan hasil riset yang tertuang dalam laporan “Besok Harga Naik!” mendapati dampak krisis iklim paling kuat dirasakan pada pola konsumsi dan biaya pangan (41 persen), disusul dengan produktivitas dan pendapatan (39 persen) masyarakat. Sementara itu, 20 persen responden merasakan dampaknya terhadap akses tempat tinggal dan biaya transportasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa krisis iklim bukan lagi semata persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan ekonomi yang langsung memengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Ketua Tim Kampanye Sosial & Ekonomi Greenpeace Indonesia, Atha Rasyadi menyoroti klaim Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR/DPR/DPD tahun 2026 yang menyatakan bahwa ekonomi Indonesia bertumbuh sebesar 5,45 persen dalam paruh pertama 2026. “Presiden mengklaim bahwa angka ini adalah angka pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam 13 tahun terakhir, tetapi siapa yang benar-benar menikmati hasilnya? Karena faktanya pertumbuhan ini tidak dirasakan oleh masyarakat. Ketika pemerintah terus membanggakan angka pertumbuhan, mengorbankan lingkungan secara serampangan, yang pada akhirnya masyarakat justru harus menanggung semua dampaknya,” kata Atha, dalam siaran pers. 

0 comments

    Leave a Reply