IHSG Tertekan, Mirae Asset Perkirakan Risiko Arus Keluar Dana Asing hingga 11 Miliar Dolar AS

IVOOX.id – Tekanan terhadap pasar saham Indonesia diperkirakan masih berlanjut seiring ketidakpastian status indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai potensi reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market dapat memicu keluarnya dana asing, menekan harga saham, serta memengaruhi valuasi pasar.
Pada perdagangan Selasa, 3 November 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 3,78 persen ke level 4.904. Pelemahan terjadi secara luas dengan 624 saham mengalami penurunan, sedangkan hanya 57 saham menguat.
Investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp760 miliar. Saham BBRI, ANTM, dan BUMI menjadi beberapa emiten yang paling banyak mengalami tekanan jual asing.
Kondisi tersebut mencerminkan masih rapuhnya kepercayaan investor terhadap pasar domestik. Padahal, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perbaikan, seperti surplus perdagangan September sebesar USD3,36 miliar dan peningkatan indeks PMI manufaktur Oktober menjadi 54,0.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menilai reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market sebagai skenario dasar atau base case. Pandangan tersebut didasarkan pada posisi default yang secara eksplisit disampaikan MSCI, perkembangan penegakan hukum terhadap praktik perdagangan terkoordinasi (coordinated trading), serta rekam jejak keputusan lembaga tersebut.
Dalam sekitar 20 tahun terakhir, 10 dari 12 konsultasi MSCI terkait penurunan klasifikasi pasar berakhir dengan reklasifikasi. Wilbert juga menilai perkembangan penegakan hukum di Indonesia masih tertinggal dibandingkan Turki.
Menurutnya, penanganan praktik coordinated trading menjadi salah satu faktor penting yang akan memengaruhi keputusan MSCI terhadap status pasar Indonesia.
“Penegakan hukum perlu dilakukan secara masif dan menyeluruh. Perkembangan penanganan praktik tersebut serta dampaknya terhadap kondisi pasar akan menjadi hal penting yang perlu dicermati dalam melihat kemungkinan perubahan keputusan MSCI,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id pada Kamis (5/11/2026).
Mirae Asset memperkirakan potensi reklasifikasi tersebut dapat menempatkan dana asing senilai USD8 miliar hingga USD11 miliar dalam risiko. Nilai itu termasuk sekitar USD3 miliar yang berpotensi keluar melalui arus keluar pasif atau forced passive outflow. Risiko tersebut terutama terkonsentrasi pada sembilan saham dalam kategori MSCI Standard.
Mengacu pada pengalaman historis sejumlah pasar yang mengalami penurunan klasifikasi, Mirae Asset memperkirakan masih terdapat potensi tekanan lanjutan sekitar 20 persen dalam denominasi dolar AS hingga keputusan MSCI pada Juni 2027. Namun, proyeksi tersebut merupakan skenario berdasarkan pengalaman pasar sebelumnya dan besaran penurunan dapat berbeda di setiap negara.
Dari sisi valuasi, IHSG saat ini diperdagangkan pada rasio forward price-to-earnings (P/E) sekitar 7,3 kali dan price-to-book value (P/BV) sebesar 1,36 kali. Wilbert menilai penurunan valuasi tersebut lebih mencerminkan proses de-rating akibat tekanan arus dana. Meski demikian, risiko revisi estimasi laba perusahaan tetap perlu diperhatikan, khususnya pada saham perbankan berkapitalisasi besar.
“Investor bisa menerapkan strategi wait and see sembari menjaga likuiditas, mempersiapkan kas untuk sementara waktu, dan mulai mencermati saham dengan eksposur investor asing yang relatif rendah serta memiliki potensi dividen tinggi,” kata Wilbert.
Mirae Asset menyarankan investor terus memantau perkembangan kebijakan MSCI, stabilitas nilai tukar rupiah, dan pergerakan arus modal asing. Di tengah ketidakpastian pasar, pemilihan saham secara selektif dengan mempertimbangkan fundamental, likuiditas, serta valuasi emiten dinilai tetap penting dalam menentukan strategi investasi.


0 comments