Tradisi Ramadan Gen Z: Dari Kultum Online sampai War Takjil di Pinggir Jalan

IVOOX.id, Jakarta - Ramadan selalu punya wajah yang berbeda di setiap generasi. Jika dulu suasana bulan puasa identik dengan radio yang memutar ceramah menjelang magrib atau televisi yang menayangkan program religi, kini Gen Z menjalani Ramadan dengan cara yang lebih digital, cepat, dan interaktif.
Di satu sisi, ada kultum online yang bisa diakses kapan saja. Di sisi lain, ada fenomena “war takjil” yang tak kalah viral di media sosial.
Bagi generasi yang tumbuh bersama internet, belajar agama tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Ceramah singkat kini hadir dalam format video satu menit, potongan podcast, hingga siaran langsung di berbagai platform. Banyak anak muda memilih mendengarkan kajian lewat earphone sambil perjalanan pulang kerja atau sebelum tidur. Praktis, fleksibel, dan bisa dipilih sesuai kebutuhan.
Model konsumsi seperti ini terasa lebih relevan dengan ritme hidup mereka yang cepat. Alih-alih duduk lama dalam satu forum, Gen Z cenderung menyukai konten yang ringkas namun tetap bermakna. Kultum digital pun menjadi solusi: singkat, padat, dan bisa diulang kapan saja.
Namun di luar ruang digital, ada tradisi lain yang tak kalah ramai yaitu berburu takjil.
Menjelang magrib, banyak titik jajanan mendadak berubah jadi lautan manusia. Aneka minuman segar, gorengan, kolak, hingga menu kekinian jadi rebutan. Istilah “war takjil” muncul bukan tanpa alasan. Suasananya riuh, antreannya panjang, dan sering kali menjadi ajang konten dadakan.
Fenomena ini bukan sekadar soal makanan. Bagi sebagian anak muda, momen tersebut adalah pengalaman sosial. Bertemu teman, bercanda di antrean, atau sekadar menikmati atmosfer Ramadan di ruang publik. Ada rasa kebersamaan yang sulit tergantikan oleh layar.
Menariknya, dua tradisi ini (kultum online dan war takjil) seolah merepresentasikan dua sisi Gen Z. Satu sisi spiritual dan reflektif, sisi lain ekspresif dan sosial. Mereka tetap ingin terhubung dengan nilai-nilai Ramadan, tetapi dengan cara yang sesuai dengan karakter generasinya.
Ramadan hari ini bukan lagi soal memilih antara offline atau online. Justru kombinasi keduanya yang membentuk pengalaman baru. Mendengarkan ceramah lewat ponsel di sore hari, lalu turun ke jalan membeli takjil bersama teman, menjadi rutinitas yang terasa natural.
Yang terpenting bukan medianya, tetapi maknanya. Apakah konten yang ditonton memberi dampak? Apakah momen berburu takjil hanya sekadar konten, atau benar-benar jadi ruang kebersamaan?
Tradisi boleh berubah mengikuti zaman. Cara menikmati Ramadan pun berkembang. Namun esensinya tetap sama yaitu menghadirkan nilai, kebersamaan, dan refleksi di tengah rutinitas yang padat.
Dan mungkin, di situlah uniknya Ramadan ala Gen yang memiliki nilai spiritual tapi tetap sosial, digital tapi tetap hangat.
Penulis: Maulana Haitami


0 comments