Tetesan Harapan dari Panas Tanah Lua
Tetesan Harapan dari Panas Tanah Lua
IVOOX.id - Dari ujung sebatang bambu, kepulan uap tipis perlahan mengambang di udara. Dari bambu-bambu yang saling tersambung dan tertata dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah itu, tetesan air mengalir dan mengisi jeriken-jeriken.
Seakan terbiasa, sejumlah warga duduk jongkok menanti jeriken-jeriken yang hampir terisi penuh dengan air. Sesekali terdengar obrolan yang diselingi canda dan tawa.
Begitulah suasana sore di salah satu perbukitan berbatu di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Di pulau vulkanik itu, alam hadir dalam wajah yang keras, tanah berbatu, lereng yang kering. Jejak aktivitas Gunung Api Rokatenda masih terasa dari sejumlah titik panas bumi yang mengepulkan uap.
Di tanah yang seolah menyimpan panas hingga ke dalam perutnya itu, warga Palue menemukan cara sederhana untuk bertahan. Mereka tidak menunggu air datang menghampiri, tetapi berjalan mendatanginya.
Setiap hari, langkah mereka mengikuti jalan yang sama, berjarak sekitar tiga kilo meter menuju sumber kehidupan yang tersembunyi di antara panas bumi dan bebatuan.
Bagi masyarakat Tanah Lua (sebutan untuk Pulau Palue), panas bumi bukan sekadar tanda bahwa mereka hidup di sebuah pulau vulkanik. Panas yang menyembul dari tanah justru menjadi bagian dari kehidupan. Uap yang keluar dari perut bumi dimanfaatkan secara sederhana untuk menghadirkan air melalui proses pengembunan.
Bambu menjadi perantara antara panas bumi dan kebutuhan manusia. Batang-batang bambu ditancapkan di sekitar sumber panas, kemudian uap yang keluar dari tanah dialirkan melalui rongga bambu menuju tempat penampungan yang berada lebih rendah.
Di sana, uap bertemu dengan udara yang lebih dingin. Perlahan, ia kehilangan panas dan menjelma menjadi titik-titik air. Satu per satu tetes air terbentuk, jatuh, lalu dikumpulkan dalam wadah yang telah disiapkan.
Tidak ada aliran deras. Tidak ada suara gemericik yang tergesa-gesa. Air hadir dalam kesunyian, setetes demi setetes.
Karena itu, menunggu menjadi bagian dari kehidupan. Warga harus bersabar hingga tetesan yang kecil itu terkumpul menjadi cukup banyak untuk dibawa pulang. Setiap tetes memiliki arti karena di pulau yang sumber airnya terbatas, air bukan sekadar sesuatu yang mengalir, melainkan sesuatu yang diperjuangkan.
Salah seorang warga Pulau Palue, Felly Wea mengatakan tidak sesederhana yang dibayangkan untuk bisa mendapatkan air dari titik fumarole atau lubang di tanah yang mengeluarkan uap panas.
“Kita perlu menggalinya lebih dalam lagi lalu dari lubang tersebut dipasang bambu yang sudah dilubangi dan selanjutnya masih membutuhkan waktu satu pekan agar bisa menghasilkan uap air,” kata Felly.
Dari satu lubang itu, menurut Felly, setidaknya bisa memberikan kehidupan pada satu keluarga berupa air sebanyak dua jeriken dalam sehari.
“Bagi kami air bukan untuk hidup nyaman, tetapi hanya untuk dapat bertahan hidup,” kata Felly Wea.
Sementara itu, Camat Palue Rudolfus Riba mengatakan penyulingan air ini memang telah menjadi kearifan lokal masyarakat Palue di tengah kesulitan wilayahnya yang sulit air.
Meski Rudolfus berharap kearifan lokal ini terus lestari, namun ia juga berharap pemerintah NTT ataupun pemerintah pusat bisa memberikan solusi air bersih yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat Palue.
Di tengah keterbatasan sumber air, cara tradisional itu menjadi salah satu bentuk pengetahuan lokal yang terus diwariskan. Pengetahuan tersebut tidak lahir dari buku atau mesin, melainkan dari pengalaman panjang membaca alam, mengetahui lokasi sumber panas, mengenali aliran uap, memperkirakan suhunya, hingga memahami bagaimana panas dapat dipertemukan dengan dingin untuk menghasilkan air.
Bagi masyarakat Palue cara itu menjadi bukti bahwa manusia selalu memiliki ruang untuk beradaptasi, bahkan ketika alam tidak menawarkan banyak pilihan.
Ketika tanah begitu kering dan sumber air begitu terbatas, manusia belajar membaca apa yang tersedia di sekelilingnya. Alam yang tampak keras ternyata tetap menyimpan celah untuk kehidupan. Air kemudian menjadi lebih dari sekadar kebutuhan. Ia adalah waktu, tenaga, kesabaran, dan harapan.
Foto dan teks: Mega Tokan
Editor: Puspa Perwitasari


0 comments