Siswa SMK di Samardina Meninggal Dunia Gara-gara Sepatu Kekecilan | IVoox Indonesia

May 5, 2026

Siswa SMK di Samardina Meninggal Dunia Gara-gara Sepatu Kekecilan

rumah duka Mandala, siswa SMK 4 Samarinda
Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak ( TRC PPA) Kaltim Rina Zainun saat mengunjungi rumah duka Mandala, siswa SMK 4 Samarinda, di Jalan Tarmidi Samarinda. (Antara/Ho- humas TRC PPA Kaltim)

IVOOX.id – Tragedi memilukan menimpa Mandala Rizky Syahputra (16 tahun) meninggal dunia pada Jumat, 24 April 2026, dini hari. DPRD Samarinda menyebut kematian siswa SMKN 4 Samarinda akibat sepatu kekecilan bukan sekadar musibah, melainkan bukti lemahnya pendataan bantuan sosial (bansos) di kota tersebut.

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh lagi "kecolongan" dalam memastikan bantuan sosial sampai ke tangan yang tepat.

"Kami meminta Dinas Sosial segera memperbaiki dan validasi data penerima bantuan. Ini sangat penting agar distribusi bantuan benar-benar tepat sasaran dan menjangkau mereka yang paling membutuhkan,” ujar Ismail di Samarinda, Senin (4/5/2026), dikutip dari Antara.

Siswa kelas 2 SMK Negeri 4 Samarinda ini harus meregang nyawa akibat infeksi serius yang dipicu oleh sepatu sekolah yang sudah tak muat di kakinya.

Keterbatasan ekonomi memaksa Mandala tetap mengenakan sepatu ukuran 40 meski kakinya berukuran 44. Luka tersebut kian parah dan membengkak setelah

Ia diwajibkan berdiri sepanjang hari selama menjalani program magang sebagai pramuniaga di sebuah pusat perbelanjaan di Samarinda. Pekerjaan tersebut menuntut stamina fisik yang tinggi karena minim waktu istirahat maupun kesempatan untuk duduk.

Kenyataan pahit ini semakin miris karena keluarga korban dikabarkan tidak pernah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pemerintah.

Ismail menyoroti bahwa kejadian ini menjadi bukti adanya celah dalam verifikasi lapangan. Akibat lemahnya akurasi data, warga yang hidup di bawah garis kemiskinan justru terabaikan dari program jaminan sosial pemerintah.

"Jangan sampai karena masalah pendataan yang lemah, masyarakat miskin justru tidak tersentuh bantuan,” tegasnya.

Menanggapi tragedi tersebut, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menekankan pentingnya penajaman data kemiskinan dan kerja sama pemerintah daerah guna mencegah berulangnya kembali tragedi kemanusiaan tersebut.

"Kata kuncinya adalah data dan kita perlu kerja sama dengan pemerintah daerah. Tidak mungkin Jakarta bisa menjangkau seluruh daerah di Indonesia tanpa kerja sama itu. Kita harus pastikan anak-anak dari keluarga yang memerlukan dukungan bisa kita jangkau," kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026), dikutip dari Antara.

Saifullah menjelaskan bahwa kementeriannya tengah memaksimalkan teknologi melalui aplikasi Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIK-NG) yang menghubungkan operator data dari tingkat desa hingga pusat, sebagaimana penugasan penginputan Data Tinggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Langkah tersebut didukung dengan pengerahan petugas dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial di daerah untuk melakukan pengecekan lapangan atau ground check.

"Kalau misalnya kita ketahui sebelumnya dengan data yang ada, kita bisa melakukan intervensi ya. Jadi kita bisa mencegah adanya hal-hal yang memang menjadi bagian dari tugas kita untuk memberikan bantuan," tambahnya.

Selain itu, Saifullah juga menyoroti pentingnya kehadiran Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) di tingkat desa sebagai garda terdepan untuk menampung aspirasi dan keluhan warga kurang mampu, termasuk kasus-kasus mendesak seperti ijazah yang tertahan atau kebutuhan perlengkapan sekolah dasar.

0 comments

    Leave a Reply