Riset: Akses Pembiayaan Dorong Pendapatan UMKM Naik 60 Persen | IVoox Indonesia

April 22, 2026

Riset: Akses Pembiayaan Dorong Pendapatan UMKM Naik 60 Persen

antarafoto-pemprov-kalteng-siapkan-skema-kredit-untuk-pelaku-umkm-1776346648-1
Perajin membuat lawung atau ikat kepala khas Dayak di rumah produksi Jawet Suring, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (16/4/2026). Pemprov Kalimantan Tengah menyiapkan program skema kredit Huma Betang Unggul, Efisien, dan Tangguh (Haguet) dengan plafon kredit maksimal Rp50 juta per debitur yang menyasar 3.000 pelaku UMKM sektor prioritas seperti ekonomi kreatif, pangan lokal, perikanan, hingga hilirisasi produk desa. ANTARA FOTO/Auliya Rahman

IVOOX.id – Laporan Sustainability Report Amartha tahun 2025 mencatat 89 persen UMKM binaan mengalami kenaikan pendapatan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 63 persen setelah memperoleh dukungan modal. Dampak tersebut telah dirasakan oleh sekitar 2,3 juta dari 3,9 juta UMKM binaan yang tersebar di lebih dari 50.000 desa.

Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra menyampaikan bahwa pembiayaan inklusif bukan hanya membuka akses modal, tetapi juga memperkuat ekosistem usaha mikro di tingkat akar rumput.

“Ini menegaskan bahwa pembiayaan inklusif bukan hanya membuka akses modal, tetapi juga menjadi katalis bagi pelaku usaha untuk bertumbuh dan meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Selasa (21/4/2026), dikutip dari Antara.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai penguatan akses pembiayaan menjadi faktor kunci dalam mobilitas ekonomi masyarakat.

Menurutnya, kehadiran teknologi finansial, termasuk pinjaman daring, telah meningkatkan inklusi keuangan hingga 41,5 persen lebih tinggi di negara yang mengadopsinya dibandingkan dengan yang belum.

Hal ini membuka peluang bagi masyarakat miskin untuk lebih terhubung dengan sistem keuangan formal.

“Kehadiran pinjaman daring membuat akses ke layanan keuangan menjadi terbuka lebar dan mendukung program peningkatan inklusi keuangan pemerintah. Di sisi lain, ekosistem keuangan di desa pun terdorong karena adanya pinjaman daring, seperti munculnya agen-agen produk keuangan di desa,” kata Nailul Huda, dikutip dari Antara.

Kisah nyata turut datang dari Mama Redha, nelayan asal Sumba, yang kini memiliki warung kelontong berkat modal tanpa agunan dari Amartha.

“Hasil laut tidak menentu. Dengan modal tanpa agunan, kini saya memiliki warung kelontong yang menjadi sumber pendapatan utama keluarga,” kata Mama Redha, dikutip dari Antara.

0 comments

    Leave a Reply