Penelitian BRIN Temukan 29 Spesies Flora Baru Sepanjang 2025-2026 | IVoox Indonesia

May 26, 2026

Penelitian BRIN Temukan 29 Spesies Flora Baru Sepanjang 2025-2026

spesies flora baru di Indonesia
Peneliti BRIN menemukan spesies flora baru di Indonesia yang ditampilkan pada kegiatan "BRIN Goes to Stakeholders and Society: Exposing New Species – Flora" di Jakarta pada Senin (25/5/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.

IVOOX.id – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan kolaboratornya berhasil menemukan 29 spesies flora baru yang berhasil di Indonesia, sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, penemuan spesies tanaman baru tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran publik terhadap pentingnya konservasi biodiversitas nasional, mengingat saat ini masih terdapat disparitas antara penemuan flora di Jawa dan di pulau-pulau lain.

"Rahasia alam yang ada di Papua, Kalimantan, dan di luar Jawa itu belum maksimal, itu yang harus kita akui, sehingga dengan ini kita akan terus melakukan ekspedisi ke berbagai tempat di belahan nusantara ini, untuk bisa mendapatkan temuan-temuan dan spesies-spesies baru," katanya di Jakarta, Senin (25/5/2026),dikutip dari Antara.

Menurutnya, dengan penemuan berbagai spesies itu, para peneliti dan pemerintah dapat melakukan bioprospeksi (eksplorasi sumber daya alam hayati untuk komersial), melalui kajian-kajian yang berkaitan dengan penemuan spesies tersebut, sehingga benar-benar bermanfaat, salah satunya untuk pembuatan obat.

"Setiap spesies baru yang ditemukan adalah pengetahuan baru bagi dunia, sekaligus pengingat bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati luar biasa yang harus dijaga bersama. Riset biodiversitas menjadi fondasi penting untuk konservasi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan masa depan pembangunan berkelanjutan Indonesia," ujar dia.

BRIN mencatat, sepanjang periode 1967 hingga 2025, para peneliti BRIN bersama mitra nasional dan internasional telah berhasil menemukan sebanyak 1.583 spesies baru, dengan 712 di antaranya merupakan flora. Dalam kurun 2025 hingga awal 2026 saja, sedikitnya 29 jenis baru flora Indonesia berhasil dideskripsikan secara ilmiah oleh para peneliti BRIN dan kolaboratornya.

Berbagai spesies baru tersebut berasal dari beragam kelompok tumbuhan, mulai dari Rafflesia, Begonia, Homalomena, Rhododendron, Nepenthes, hingga anggrek (Orchidaceae) yang ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penemuan ini membuktikan Indonesia masih menyimpan potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum sepenuhnya terungkap.

"Penemuan spesies baru tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan dedikasi para peneliti, kerja lapangan yang berat, serta dukungan riset yang berkelanjutan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas sains taksonomi dan eksplorasi biodiversitas harus menjadi perhatian bersama," tuturnya.

Menurut Arif, tantangan konservasi biodiversitas saat ini semakin kompleks akibat perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim, polusi, spesies invasif, hingga eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Kondisi tersebut menyebabkan banyak spesies terancam punah bahkan sebelum sempat dikenali secara ilmiah.

"Oleh karena itu, riset biodiversitas harus menjadi bagian dari agenda strategis nasional. Kita tidak hanya berbicara tentang konservasi tumbuhan, tetapi juga tentang menjaga sumber pengetahuan, ketahanan ekosistem, dan masa depan generasi mendatang," ucap Arif.

Spesies terong berduri asal Kalimantan, Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri yang berhasil diidentifikasi oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). ANTARA/HO-BRIN

Spesies terong berduri asal Kalimantan, Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri yang berhasil diidentifikasi oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). ANTARA/HO-BRIN

Spesies Baru Terong Berduri asal Kalimantan

Sebelumnya, tim peneliti BRIN menemukan spesies baru terong berduri dari genus Solanum yang berasal dari Kalimantan, Indonesia. Spesies tersebut diberi nama Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri, yang diambil dari nama anggota tim, yakni Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih dan Muhammad Rifqi Hariri, serta Peneliti Pusat Riset Ekologi BRIN, Siti Susiarti.

Peneliti BRIN, Muhammad Rifqi Hariri mengatakan, Solanum kalimantanense memiliki sejumlah karakter morfologi khas yang membedakannya, seperti ukuran daun yang hampir sama panjang dan lebarnya, lekukan daun yang sangat dangkal, permukaan buah matang berbulu halus dan jarang, serta ukuran buah yang lebih besar dibandingkan Solanum lasiocarpum.

"Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah, termasuk dari kelompok tumbuhan yang telah dikenal dan dimanfaatkan masyarakat," kata Rifqi dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026), dikutip dari Antara,

Ia menyebut analisis DNA menggunakan penanda ITS menunjukkan adanya perbedaan genetik yang cukup signifikan dibandingkan spesies kerabat terdekatnya.

Lebih lanjut, Peneliti BRIN, Tutie Djarwaningsih menyebut pihaknya mendapatkan informasi tanaman ini dikenal masyarakat lokal dengan sebutan terong asam atau terong dayak dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan.

Buahnya banyak dijumpai di pasar terapung Banjarmasin dan umum diolah sebagai sayuran. Selain itu, masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, memanfaatkan daun dan kuncup buah tanaman ini sebagai obat tradisional yang dikenal dengan istilah wikat untuk pengobatan kanker.

Sementara itu, Peneliti BRIN, Esthi L. Agustiani mengungkapkan Solanum kalimantanense ditemukan tumbuh pada berbagai tipe tanah, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam, dengan rentang ketinggian 9–1700 meter di atas permukaan laut, dan tersebar di beberapa wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Berdasarkan kajian awal, spesies ini diduga memiliki populasi terbatas, sehingga berpotensi masuk kategori rentan (vulnerable) menurut kriteria The International Union for Conservation of Nature (IUCN).

"Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat," ujar Esthi, dikutip dari Antara.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 tahun 2026. 

0 comments

    Leave a Reply