Pencarian Jurnalis Hilang Ikuti Pemodelan Arus Selat Sunda

IVOOX.id – Komandan Pangkalan TNI AL Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani menyatakan penyesuaian luasan area pencarian kapal cepat beserta delapan penumpang yang hilang di Selat Sunda, Pandeglang berdasarkan pemodelan dinamika arah serta kecepatan arus terkini.
Ia mengungkapkan oleh karena pertimbangan tersebut maka luasan area pencarian menyempit dari 4.586 nautical mile (NM) menjadi 3.962 NM pada hari kedelapan ini bukan karena alasan lain.
"Penghitungan area sedikit lebih menyempit berdasarkan perhitungan permodelan SAR MAP oleh rekan-rekan Basarnas yang dikomparasi dengan data Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL atau Pushidrosal," kata Wawan dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Pantai Carita, Pandeglang, Selasa (15/9/2026) malam, dikutip dari Antara.
Pemodelan berbasis data hidros-oseanografi dan SAR MAP Basarnas tersebut memberikan indikasi probabilitas tren pergerakan arus laut, sehingga pencarian target yang diperkirakan hanyut dapat difokuskan pada sektor yang paling akurat.
Adapun berdasarkan peta Basarnas, diketahui operasi SAR hari kedelapan ini, melibatkan 20 kapal utama SAR yang dibagi menjelajah sebanyak enam sektor (A-F). Masing-masing sektor melintasi pulau-pulau dan perairan sekitar Gunung Anak Krakatau mulai dari wilayah Provinsi Banten, Lampung, dan hingga Bengkulu.
"Karakteristik arus di perairan Selat Sunda sekitar Gunung Anak Krakatau bersifat dinamis dan terus mengalami perubahan arah maupun kecepatan pada setiap jamnyasampai Samudera Hindia (Enggano sebelah barat daya)," kata dia.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menambahkan bahwa secara umum gelombang perairan dalam areal pencarian bervariasi mulai dari 0,5 sampai dengan 2,5 meter.
Namun, khusus di wilayah terdekat Gunung Anak Krakatau yang masih di sekitaran Selat Sunda dilaporkan cukup kondusif hanya berkisar 0,5-0,75 meter sehingga semua rencana aksi dapat dijalankan secara baik.
Amrad menyebutkan bahwa atas kondisi tersebut petugas bisa menjangkau masuk lebih dekat ke Pulau Rakata-Pulau Sertung menggunakan Sea Reader dari KN SAR Tetuka.
Penjangkauan ini dinilai penting yakni untuk mengonfirmasi laporan tentang dugaan keberadaan objek kapal cepat Arupadhatu 1 yang dicari, meski hasilnya nihil.
"Kenapa kami nyatakan nihil, karena objek tersebut tidak nampak sama sekali. Target yang kita cari adalah speedboat dengan lambung warnanya putih termasuk yang warna deck-nya. Itu tidak ada nampak sama sekali," kata Amrad, dikutip dari Antara.
Sementara, Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten Rizky Dwianto menyampaikan hasil rapat evaluasi bersama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengindikasikan bahwa meski erupsi belum terjadi, akumulasi energi dari aktivitas vulkanik dangkal Gunung Anak Krakatau berpotensi memicu erupsi lebih besar dari yang sebelumnya.
"Hal-hal ini yang perlu antisipasi demi keselamatan tim SAR gabungan dalam melaksanakan pencarian," katanya di Posko Utama SAR Nasinal, Pantai Carita, Pandeglang, Selasa (15/9/2026), dikutip dari Antara.
Dia memastikan pergerakan tim SAR dilakukan semua atas pemantauan ketat terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang diselaraskan berdasarkan rekomendasi berkala dari PVMBG.
"Informasi perihal aktivitas Gunung Anak Krakatau yang bersumber dari PVMBG kami jadikan pedoman. Pengamatan visual menunjukkan gunung tertutup kabut, sementara pengamatan kegempaan mencatat terjadi gempa vulkanik dangkal dengan tremor secara terus-menerus," katanya.
Selain itu data analisis cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga jadi rujukan. Dalam hal ini dilaporkan kondisi cuaca di perairan Selat Sunda terpantau berawan dengan tinggi gelombang mencapai 0,5 hingga 2,5 meter mengarah ke timur laut, serta kecepatan angin berkisar 5-20 knot bergerak dari tenggara ke selatan.
Masih Tunggu Hasil DNA Jenazah di Enggano
Hasil pemeriksaan DNA dan identifikasi terhadap jenazah tanpa identitas yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, hingga saat ini masih didalami serta belum teridentifikasi sebagai bagian dari rombongan jurnalis dan kru kapal yang hilang di Selat Sunda, Banten.
Pernyataan tersebut diungkapkan Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad dan KBO Ditpolairud Polda Banten AKBP Ahmad dalam konferensi pers terkait hasil operasi pencarian hari kedelapan di Posko Utama Gabungan Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Selasa, 15 September 2026, malam.
Amrad dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa meski demikian pihaknya akan terus melakukan koordinasi intensif bersama Kantor SAR Bengkulu.
"Sore tadi kami sudah terus berkoordinasi tentang hasil tersebut dengan rekan-rekan di Kantor SAR Bengkulu, hingga saat ini masih menunggu hasil," kata Al Amrad yang juga selaku SAR Mission Coordinator (SMC) dalam operasi SAR ini, dikutip dari Antara.
Senada dengan hal tersebut, KBO Ditpolairud Polda Banten AKBP Ahmad mengonfirmasi bahwa berdasarkan informasi dari Biddokkes dan Kabid Humas Polda Banten, jenazah yang ditemukan di Enggano belum teridentifikasi sebagai korban hilang dari kapal cepat KM Arupadatu I.
"Sama sebagaimana keterangan Kabid Humas kemarin, tidak teridentifikasi kawan kita yang sedang kita cari. Ciri-cirinya tidak ada, DNA-nya masih didalami," kata Ahmad, dikutip dari Antara.
Dia menambahkan bahwa penjelasan detail mengenai bukti fisik maupun properti pakaian yang melekat pada tubuh jenazah sepenuhnya akan disampaikan oleh tim medis DVI yang menangani autopsi.
"Tim medis yang akan menjawabnya, ya," kata Ahmad menjawab pertanyaan pewarta.
Adapun penyelarasan data DNA (Antemortem) keluarga korban dengan sampel jenazah (Postmortem) ini dinilai menjadi kunci utama untuk memastikan apakah jenazah tersebut merupakan bagian dari delapan penumpang kapal.
Hal tersebut tidak lepas dari kebuntuan tim SAR gabungan yang sudah melakukan penyisiran selama delapan hari di pulau-perairan sekitar Gunung Anak Krakatau (meliputi Provinsi Banten, Lampung, dan Bengkulu) terhitung sejak kapal dan para penumpang dilaporkan hilang kontak pada Senin, 7 September 2026.
Sebanyak delapan orang yang dalam pencarian terdiri atas lima jurnalis, yakni M Bagus Khoirunnas (Kantor Berita ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), dan Donal (jurnalis lepas), sedangkan tiga lainnya, yakni Warta (kapten kapal), Surakman (ABK), serta Heriyanto (pemandu).
Sementara terkait jenazah pria tanpa identitas itu secara spesifik dilaporkan ditemukan di pesisir Sawang Bengkok, Desa Khayapu, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, pada Sabtu, 12 September 2026, ) oleh Kantor SAR Bengkulu dan warga setempat.
Jenazah dibawa menggunakan pesawat terbang dari Enggano ke di RS Bhayangkara Polda Bengkulu, Senin, 14 September 2026, guna menjalani proses autopsi dan identifikasi mendalam oleh Tim DVI Biddokkes Polda Bengkulu dan Pusdokkes Polri.


0 comments