Mendag: Konflik Geopolitik Global Berkepanjangan Berpotensi Tekan Pertumbuhan Ekspor | IVoox Indonesia

28 Maret 2026

Mendag: Konflik Geopolitik Global Berkepanjangan Berpotensi Tekan Pertumbuhan Ekspor

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Jumat (27/3/2026). (ANTARA/Maria Cicilia Galuh)

IVOOX.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan konflik geopolitik global yang berkepanjangan berpotensi menekan pertumbuhan ekspor Indonesia, meski permintaan dari pasar internasional masih relatif stabil.

Budi menyampaikan dampak utama konflik saat ini belum terlihat pada sisi permintaan barang, melainkan lebih terasa pada rantai logistik dan distribusi perdagangan internasional.

Namun, apabila konflik tidak segera berakhir maka akan berisiko menahan laju pertumbuhan ekspor nasional dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya.

"Tentu kalau ini (perang) nggak selesai, misalnya, nggak selesai terus-menerus ya bisa dampaknya ke ekspor kita. Paling tidak ekspor kita bisa pertumbuhannya bisa lebih rendah daripada tahun lalu. Tapi mudah-mudahan cepat selesai," kata Budi di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Jumat (27/3/2026), dikutip dari Antara. 

Ia menjelaskan kenaikan harga minyak dunia menyebabkan biaya transportasi meningkat, sementara penutupan sejumlah pelabuhan internasional memaksa pelaku usaha melakukan pengalihan rute pengiriman yang lebih panjang.

"Kemarin kita komunikasi juga dengan eksportir. Jadi menurut mereka, ini masih memenuhi permintaan sebenarnya. Permintaan ekspor ke Timur Tengah masih berjalan. Cuma itu tadi, cost-nya mungkin lebih tinggi untuk biaya transportasinya," ujar Budi

Pemerintah tetap optimistis kinerja perdagangan luar negeri Indonesia akan tetap positif.

Menurut dia, hal ini didukung oleh kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara yang sebelumnya sempat mengalami penurunan harga.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah mitigasi melalui diversifikasi pasar ekspor agar ketergantungan pada kawasan tertentu dapat dikurangi.

"Kalau kita punya peluang di situ, artinya kita bisa memanfaatkan peluang itu dengan baik, kita sebenarnya bisa masuk ke pasar-pasar itu, seperti pasar-pasar Amerika Selatan atau negara RCEP, kemudian Asia Tenggara dan juga Amerika Latin," jelasnya.

Ia menambahkan pemerintah terus memantau perkembangan situasi global sebelum menetapkan proyeksi pertumbuhan ekspor secara lebih rinci, sambil berharap konflik internasional dapat segera mereda sehingga perdagangan dunia kembali stabil.

Sementara itu, Budi menyebut bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah pada 2025 mencapai 9,87 miliar dolar AS atau setara Rp167 triliun. Sementara itu, total ekspor Indonesia ke Iran mencapai 250 juta dolar AS.

Komoditas utama ekspor Indonesia ke Iran antara lain buah-buahan senilai 86,4 juta dolar AS, kendaraan dan bagiannya sebesar 34,1 juta dolar AS, serta lemak dan minyak hewan nabati sebesar 22 juta dolar AS.

0 comments

    Leave a Reply