Maudy Ayunda, Mindfulness, dan Dilema Anak Muda di Tengah Dunia yang Berisik

IVOOX.id, Jakarta - Di tengah dunia yang tidak pernah berhenti memberi kabar buruk, mungkin pertanyaan sebenarnya bukan lagi “apa yang sedang terjadi?”, tetapi “seberapa banyak informasi yang sanggup kita terima?”
Setiap hari, layar ponsel membawa kita bertemu dengan perang, bencana, krisis ekonomi, konflik sosial, politik, hingga masalah kehidupan orang lain.
Kita bahkan bisa mengetahui sesuatu yang terjadi di belahan dunia lain hanya beberapa menit setelah peristiwa itu terjadi. Informasi menjadi semakin mudah didapat, tetapi ketenangan justru terasa semakin mahal.
Fenomena inilah yang membuat pembahasan mengenai mindfulness yang disampaikan Maudy Ayunda menarik perhatian.
Gagasan untuk mengambil jeda dari kabar buruk sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Namun, ketika hidup kita sudah begitu dekat dengan berbagai persoalan melalui media sosial, ajakan untuk sesekali berhenti, menarik napas, dan tidak terus-menerus mengonsumsi informasi terasa semakin relevan. Masalahnya, tidak semua orang melihatnya dengan cara yang sama.
Bagi sebagian orang, mengambil jarak dari berita buruk adalah bentuk menjaga kesehatan diri. Bagi yang lain, itu bisa terasa seperti kemewahan karena persoalan tersebut justru merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di sinilah dilema anak muda hari ini muncul. Kita ingin tetap aware, tetapi juga tidak ingin terus-menerus merasa cemas. Kita ingin peduli terhadap isu sosial, tetapi pada saat yang sama merasa lelah melihat perdebatan yang tidak ada habisnya di media sosial.
Kita takut disebut tidak peduli ketika memilih disconnect, tetapi jika terus mengikuti semuanya, kepala juga tidak pernah benar-benar punya waktu untuk beristirahat. Kita hidup dalam kondisi selalu terhubung, tetapi justru semakin sulit merasa benar-benar hadir.
Mindfulness mungkin bukan tentang memilih antara peduli atau tidak peduli. Lebih dari itu, ia bisa menjadi upaya untuk menyadari batas diri. Kita tetap bisa mengetahui apa yang terjadi tanpa harus mengonsumsi semua informasi yang lewat di timeline.
Kita bisa peduli tanpa harus membaca setiap komentar, menyuarakan pendapat tanpa harus terlibat dalam setiap perdebatan, dan mengambil jeda tanpa harus merasa bersalah. Sebab, mengetahui lebih banyak tidak selalu berarti melakukan lebih banyak.
Pada akhirnya, kepedulian juga membutuhkan energi. Terlalu banyak menerima informasi buruk tanpa memberi ruang untuk diri sendiri bisa membuat kita mengalami information fatigue atau kelelahan akibat terus-menerus dibanjiri informasi.
Ketika semuanya terasa penting, tidak ada lagi yang benar-benar terasa bisa kita lakukan. Karena itu, mengambil jeda bukan selalu berarti menutup mata terhadap keadaan. Bisa jadi justru merupakan cara untuk menjaga agar kita tetap punya energi ketika memang dibutuhkan untuk bertindak.
Perdebatan mengenai Maudy dan mindfulness pada akhirnya membuka percakapan yang lebih besar tentang cara kita hidup di era digital. Kita tidak mungkin menyelesaikan semua masalah yang muncul di layar ponsel, dan kita juga tidak harus merasa bersalah karena sesekali memilih untuk tidak melihatnya.
Dunia akan tetap berisik meski kita berhenti mendengarkan untuk sementara. Yang penting adalah memastikan ketika kita kembali mendengarnya, kita masih punya cukup ruang di kepala untuk memahami, cukup energi untuk peduli, dan cukup kesadaran untuk menentukan apa yang benar-benar perlu kita lakukan.


0 comments