Lima Tuntutan BEM UI dalam Aksi #IndonesiaSadar di Bundaran HI

IVOOX.id – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama elemen mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi unjuk rasa bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Aksi demonstrasi bertajuk #IndonesiaSadar berlangsung di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Rabu, 28 Oktober 2026.
Demonstrasi tersebut tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga buruh, petani, dan berbagai kelompok masyarakat sipil. Kepala Departemen Kajian Strategis BEM UI 2026, Namora Siahaan, mengatakan Bundaran HI akan menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
“Pelaksanaan aksi di tanggal 28 di Bundaran HI nanti, itu tidak hanya menjadi tempat aksi bagi mahasiswa semata, tapi juga jadi tempat aksi bagi mahasiswa, buruh, tani, dan seluruh unsur-unsur rakyat,” ujar Namora dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id pada Rabu (28/10/2026).
Konsolidasi tersebut digelar untuk menampung keresahan masyarakat sekaligus menyusun strategi pelaksanaan demonstrasi. BEM UI ingin memastikan aksi menjadi ruang partisipasi yang inklusif dan aman bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Namora menjelaskan, peserta konsolidasi akan merembukkan berbagai rencana kegiatan agar titik demonstrasi tidak hanya menjadi tempat penyampaian orasi, tetapi juga ruang bersama untuk menyuarakan persoalan masyarakat.
“Kita akan merembukkan rencana-rencana bagaimana cara menjadikan titik aksi sebagai ruang untuk rakyat. Jadi dia tuh tidak terpusat dan tidak ada penokohan,” katanya.
Lima Tuntutan Aksi #IndonesiaSadar
Dalam demonstrasi tersebut, BEM UI akan menyampaikan lima tuntutan yang mencakup sejumlah persoalan nasional. Isu yang diangkat meliputi lingkungan, ekonomi, pendidikan, reformasi hukum dan tata kelola pemerintahan, serta hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi.
Kelima tuntutan itu meliputi penanganan kebakaran hutan dan lahan serta pemulihan ekosistem; pembenahan kebijakan ekonomi dan pengurangan ketimpangan sosial; penurunan biaya pendidikan dan perbaikan sistem pendidikan; pemberantasan korupsi serta pembenahan penyelenggaraan negara; hingga perlindungan HAM dan ruang sipil.
Selain menyusun tuntutan, peserta konsolidasi turut membahas kemungkinan langkah lanjutan apabila pemerintah tidak memberikan respons substantif. Namora menyebut aksi lanjutan hingga pembangkangan sipil atau civil disobedience menjadi salah satu opsi yang dibicarakan.
Menurutnya, mahasiswa mempertimbangkan kemungkinan pemerintah hanya memberikan jawaban normatif tanpa menyelesaikan persoalan yang disampaikan masyarakat.
BEM UI juga mengkritik kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang mendekati dua tahun masa pemerintahan. Namora menilai sejumlah janji kampanye, terutama terkait penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, belum terpenuhi sesuai harapan.


0 comments