Korban Tewas Akibat Serangan Militer Amerika Serikat di Venezuela Capai 80 Orang

IVOOX.id – Jumlah korban tewas akibat serangan militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela pada Sabtu, 3 Januari 2026, meningkat menjadi 80 orang.
Dikutip dari Antara, seorang pejabat senior Venezuela seperti dilaporkan The New York Times, Minggu, 4 Januari 2026, menyebutkan angka korban masih berpotensi bertambah.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menyatakan bahwa sebagian besar tim pengamanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro tewas dalam operasi militer AS itu. Namun, ia tidak merinci jumlah pasti korban.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tindakan militer AS di Venezuela berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Trump juga menyatakan akan menegaskan kendali AS atas Venezuela untuk sementara waktu, termasuk dengan mengerahkan pasukan AS jika diperlukan.
Maduro dan istrinya tiba di New York pada Sabtu malam dan kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn.
Keduanya menghadapi dakwaan federal di Amerika Serikat terkait perdagangan narkoba serta dugaan kerja sama dengan kelompok kriminal yang ditetapkan sebagai organisasi teroris.
Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut. Sementara itu, sejumlah pejabat di ibu kota Venezuela, Caracas, menyerukan pembebasan pasangan tersebut.
Menlu AS Klaim Bukan Invasi
Terpisah, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengatakan operasi AS di Venezuela tidak memerlukan persetujuan Kongres karena bukan merupakan invasi atau pendudukan militer, melainkan operasi penegakan hukum untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
“Ini bukan tindakan yang memerlukan persetujuan Kongres. Bahkan, tidak mungkin memerlukan persetujuan Kongres karena ini bukan invasi dan bukan operasi militer berkepanjangan," kata Rubio kepada NBC News saat ditanya mengapa Presiden AS Donald Trump tidak meminta persetujuan Kongres sebelum operasi tersebut, dikutip dari Antara.
"Ini adalah operasi yang sangat presisi dan hanya berlangsung beberapa jam. Operasi ini juga sangat sensitif. Ini bukan serangan terhadap Venezuela, melainkan operasi penegakan hukum,” kata Rubio melanjutkan.
Pada Sabtu, 3 Januari 2026, Trump menyatakan bahwa AS telah melancarkan serangan besar ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta pemindahan keduanya ke luar negeri.
Sejumlah media melaporkan adanya ledakan di Caracas dan mengaitkan operasi tersebut dengan unit Delta Force AS.
Otoritas Venezuela menyatakan tidak memiliki informasi mengenai keberadaan Maduro dan menuntut bukti bahwa ia masih hidup.
Trump kemudian membagikan sebuah foto yang diklaim memperlihatkan Maduro berada di atas kapal perang USS Iwo Jima.
Media AS juga menyiarkan pendaratan sebuah pesawat di Negara Bagian New York yang disebut membawa Maduro dan istrinya, yang kemudian dikawal puluhan aparat penegak hukum.
Sejumlah anggota Kongres AS mengecam operasi tersebut dan menyebutnya ilegal, sementara pemerintahan Trump menegaskan Maduro akan diadili.
Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan akan membawa persoalan ini ke organisasi internasional dan meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, yang dijadwalkan berlangsung pada 5 Januari.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritasnya kepada Venezuela.
Moskow mengungkapkan keprihatinan mendalam atas laporan pemindahan paksa Maduro dan istrinya dalam apa yang disebut sebagai agresi AS, serta menuntut pembebasan keduanya dan menyerukan langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut terkait Venezuela.


0 comments