KKP: Kenaikan Suhu Laut Empat Kali Lipat Ancam Biota dan Ekonomi Biru Global

IVOOX.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan bahwa suhu air laut mengalami peningkatan signifikan hingga empat kali lipat dibandingkan kondisi pada 1985. Lonjakan suhu tersebut dinilai berpotensi serius mengancam kelestarian biota laut serta keseimbangan ekosistem perairan secara global.
Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Hendra Yusran Siry, menjelaskan bahwa kenaikan suhu air laut bahkan sebesar satu derajat saja dapat menimbulkan dampak besar terhadap kehidupan organisme laut. “Misalnya beberapa spesies yang sangat tidak toleran terhadap suhu, nanti mungkin akan dominan jantan atau dominan betinanya. Contohnya pada penyu,” kata Hendra dalam konferensi pers di Kantor KKP, Jakarta, Rabu (28/1/2025).
Menurut Hendra, persoalan kenaikan suhu laut menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam inisiatif Blue Davos pada rangkaian World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu. Isu ini tidak hanya menyangkut kelestarian biota laut, tetapi juga berdampak luas terhadap kehidupan manusia. Ia menyebutkan, kenaikan suhu air berpotensi memicu banjir yang dapat memengaruhi hingga 1,8 miliar penduduk dunia.
Selain ancaman banjir, krisis air tawar juga menjadi perhatian serius. Hendra menyampaikan bahwa sekitar 75 persen populasi global saat ini tinggal di negara-negara yang menghadapi krisis air tawar yang kian memburuk. Kerusakan ekosistem perairan akibat perubahan iklim dan tata kelola yang tidak berkelanjutan disebut telah menimbulkan kerugian ekonomi global yang sangat besar. “Namun investasinya baru sekitar 2%–3%. Jadi memang harus ada lebih banyak fokus pada air,” ujar Hendra.
Dalam forum tersebut, isu tata kelola dan akses terhadap air tawar turut mengemuka sebagai agenda penting. Ke depan, KKP melihat adanya peluang pengembangan skema pendanaan dan kemitraan internasional untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air tawar. “Ada inovasi dalam keamanan air,” kata Hendra.
Selain itu, pembahasan juga menyoroti konsep blue food yang menekankan pentingnya menjaga laut sebagai sumber protein yang berkelanjutan. Perlindungan laut dan pengembangan ekonomi biru menjadi tema utama yang diharapkan dapat berjalan seimbang antara aspek ekologi dan ekonomi.
KKP menegaskan bahwa investasi yang masuk ke sektor kelautan ke depan diharapkan mendukung percepatan ekonomi biru yang berkelanjutan, bukan semata-mata bersifat eksploitasi. “Tidak dilakukan dengan upaya pengaturan berlebihan, tetapi lebih menekankan keseimbangan,” kata Hendra.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Tim Kerja Sama Multilateral KKP, Desri Yanti, menyampaikan bahwa Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono telah menandatangani letter of intent dengan World Economic Forum sebagai perwakilan pemerintah Indonesia. Ia menilai WEF merupakan think tank global yang kredibel dalam penyelenggaraan forum internasional.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya tarik dan pamor Ocean Impact Summit yang akan digelar di Bali pada Juni mendatang. “Tentu saja kita, dengan berkolaborasi dan menggunakan jaringan yang dimiliki World Economic Forum, ingin mendapatkan akses langsung kepada investor maupun pelaku bisnis global,” ujar Desri.


0 comments