BRIN Dukung Riset untuk Capai Target Penambahan 2 Juta Sapi,

IVOOX.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan riset pengembangan sapi unggul dan pakan ternak guna mengurangi ketergantungan impor hasil ternak dan susu di Indonesia.
"Riset yang saat ini dikembangkan BRIN adalah bagaimana kita menghasilkan sapi-sapi unggul melalui breeding dan juga nutrisi untuk pakan ternak," kata Kepala BRIN, Arif Satria di sela kegiatan International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation di Kantor BRIN, Jakarta, Jumat (27/3/2026), dikutip dari Antara.
Arif mengungkapkan bahwa riset tersebut terus digenjot karena BRIN saat ini memiliki program unggulan (flagship program) di bidang pangan, yang cakupannya secara langsung menyentuh sektor peternakan.
Dalam pelaksanaannya, Arif menekankan bahwa BRIN tidak bekerja sendiri, melainkan menggandeng perguruan tinggi, Kementerian Pertanian, serta mitra swasta.
"Partner swasta ini memang bisa bersinergi dengan BRIN untuk menghasilkan inovasi-inovasi tersebut," ujarnya.
Langkah kolaboratif itu bermuara pada satu tujuan utama, yakni menekan ketergantungan impor nasional melalui peningkatan produksi dan produktivitas susu dalam negeri.
"Oleh karena itu, saat ini yang sedang dilakukan pada tahap pertama adalah riset untuk menghasilkan sapi-sapi unggul, untuk bisa menghasilkan produksi susu yang meningkat tersebut," kata dia.
Selain fokus pada produksi, Arif menyebut langkah kedua yang menjadi perhatian BRIN adalah menciptakan riset dan inovasi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim agar tercipta sistem peternakan yang tangguh.
"Supaya yang tercipta adalah sustainable livestock. Jadi, bagaimana kita menciptakan peternakan yang berkelanjutan," ucap Arif Satria.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy menegaskan bahwa penguatan penelitian dan pengembangan menjadi kunci untuk mendorong peningkatan produktivitas sektor peternakan nasional.
Oleh karena itu, menurut dia, peran BRIN dinilai sangat strategis dalam membangun fondasi peningkatan produktivitas, mulai dari subsektor unggas hingga hewan ternak, seperti sapi potong dan sapi perah.
"Bibit adalah sumber daripada kemajuan peningkatan produksi dan produktivitas," tutur Rachmat Pambudy, dikutip dari Antara.
Target Penambahan Populasi Sapi 2 Juta Ekor
Sementara Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) menargetkan untuk menambah populasi sapi ternak (breeding cattle) sebanyak 2 juta ekor hingga tahun 2029, sebagai langkah strategis memperkuat produksi daging dan susu nasional.
Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti dalam acara International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Jumat, 27 Maret 2026, menyampaikan langkah ini menjadi bagian penting dalam mendukung swasembada pangan.
Dijelaskan dia, sejumlah komoditas peternakan telah mencapai swasembada, seperti daging ayam dan telur. Produksi daging ayam broiler diproyeksikan mencapai 5,4 juta ton pada 2029, sementara produksi telur ayam ras diperkirakan mencapai 7,3 juta ton.
Namun demikian, tantangan masih dihadapi pada komoditas daging sapi dan susu, terutama terkait keterbatasan populasi ternak. Untuk itu, pemerintah menargetkan peningkatan populasi sapi ternak 2 juta ekor hingga 2029.
Lebih lanjut, ia menambahkan peningkatan kebutuhan ini juga untuk mencapai swasembada dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang akan mendorong lonjakan permintaan produk peternakan.
Pemerintah menurutnya, memastikan kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.
Dalam upaya memperkuat ekonomi lokal, Kemenko Pangan juga mendorong peran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai penggerak utama distribusi dan pengolahan produk peternakan.
Koperasi kata dia, diharapkan menjadi wadah bagi peternak kecil untuk berkembang dan terhubung langsung dengan rantai pasok program MBG.
Menurutnya, koperasi dapat menjadi pusat distribusi sekaligus pengolahan produk peternakan, serta membuka ruang partisipasi generasi muda dalam pengembangan ekonomi berbasis kerakyatan.
Lebih lanjut, Widiastuti menekankan bahwa kebijakan ini merupakan wujud nyata kedaulatan pangan, di mana masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan pengelola sumber pangan.
“This is a manifestation of food sovereignty where the people produce, the people manage, and the people enjoy the nutritional benefits,” tuturnya, dikutip dari Antara.
Diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan lahan seluas 1,5 juta hektar sebagai area investasi untuk pengembangan peternakan sapi perah dan potong.
Kementan juga mengusulkan 21 lokasi menjadi proyek strategis nasional (PSN) untuk mempermudah investasi di sektor tersebut.


0 comments