Jenazah ABK Rombongan Jurnalis Ditemukan, Basarnas Tetap Lakukan Pemantauan | IVoox Indonesia

Jenazah ABK Rombongan Jurnalis Ditemukan, Basarnas Tetap Lakukan Pemantauan

antarafoto-hari-kesepuluh-pencarian-jurnalis-hilang-kontak-1789651381-1
Personel Basarnas menurunkan jangkar dari atas KN SAR 247 Tetuka saat operasi pencarian kapal cepat beserta rombongan jurnalis yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda, sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Pandeglang, Banten, Kamis (17/9/2026). Pada hari kesepuluh operasi SAR atau H+3 perpanjangan, Tim SAR gabungan kembali melaksanakan pencarian terhadap lima jurnalis, dua awak kapal, dan seorang pemandu yang dilaporkan hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau, dengan luas pencarian hingga 8.509 mil laut persegi yang dibagi menjadi 10 sektor. ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto

IVOOX.id – Jenazah Anak Buah Kapal (ABK) Arupadhatu 1 yang membawa rombongan jurnalis hilang kontak di perairan Selat Sunda saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau telah ditemukan. Korban ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu pada hari kelima pencarian atau Sabtu (12/9/2026) oleh warga. 

Terkait ditemukannya satu jenazah ABK tersebut, Kabasarnas Banten Al Amrad menjelaskan bahwa operasi pencarian dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, yakni selama tujuh hari dan kemudian dilakukan perpanjangan selama tiga hari berdasarkan hasil evaluasi di lapangan.

“Secara aturan, pencarian kami terlaksana selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, kami lakukan perpanjangan selama tiga hari. Pada pelaksanaan tujuh hari tersebut kami mendapatkan informasi adanya penemuan jenazah pada tanggal 12, kemudian sampai tanggal 14 kami lakukan evaluasi dan kami perpanjang tiga hari,” ujar Al Amrad kepada awak media Rabu (24/9/2026).

Al Amrad menambahkan, selama pelaksanaan perpanjangan operasi selama tiga hari, tim tidak menemukan tanda-tanda korban lainnya selain sejumlah objek yang sebelumnya telah disampaikan.

“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan pada saat di lapangan. Karena itu, kami melakukan tindak lanjut evakuasi dan penghentian operasi pencarian,” jelasnya.

Terkait jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Al Amrad menjelaskan bahwa informasi tersebut tidak langsung disampaikan sebagai bagian dari korban kapal Arupadhatu 1 karena masih harus menunggu proses identifikasi secara ilmiah dan pencocokan dengan data keluarga.

“Kenapa tidak disampaikan dari awal? Karena seperti yang tadi disampaikan Kapolda, kita harus menunggu hasil identifikasi lebih lanjut dengan data keluarga. Setelah proses identifikasi dan pencocokan dilakukan, hasilnya dapat kita sampaikan bersama,” ungkapnya.

Setelah operasi pencarian dihentikan, Basarnas tetap melakukan langkah tindak lanjut melalui koordinasi dengan sejumlah Kantor SAR dan unsur terkait di wilayah yang diperkirakan memiliki keterkaitan dengan area pencarian.

“Hingga saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, termasuk dengan para nelayan yang ada di sekitar wilayah tersebut,” kata Al Amrad.

Menurutnya, koordinasi dan pemantauan juga masih dilakukan oleh unsur SAR di Bengkulu, termasuk penyisiran di sekitar Pulau Enggano berdasarkan informasi yang diterima.

“Untuk wilayah Bengkulu sampai saat ini teman-teman dari tim gabungan masih melakukan penyisiran dengan informasi-informasi yang kami terima. Tindakan yang saat ini kami lakukan adalah koordinasi, termasuk edukasi kepada instansi terkait, nelayan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, termasuk di sekitar Pulau Enggano,” ujarnya.

Al Amrad menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari tindak lanjut setelah operasi pencarian resmi dihentikan berdasarkan hasil evaluasi dan ketentuan operasi SAR.

Pencarian kapal Arupadhatu 1 melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi dan mencakup wilayah perairan yang luas, mulai dari wilayah Banten, Lampung hingga Bengkulu. Selama pelaksanaan operasi, petugas mengerahkan unsur Alut untuk melakukan penyisiran di sejumlah sektor pencarian.

Polri dan Basarnas juga terus melakukan koordinasi dengan unsur terkait serta masyarakat pesisir untuk menindaklanjuti setiap informasi yang berpotensi berkaitan dengan keberadaan korban maupun objek yang berasal dari kapal Arupadhatu 1.

0 comments

    Leave a Reply