IHSG Menguat Didorong Upaya Regulator Pulihkan Kepercayaan

IVOOX.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 21 Oktober 2026, ditutup menguat didorong langkah-langkah regulator pasar modal Indonesia yang berupaya memulihkan kepercayaan investor.
IHSG ditutup menguat 49,47 poin atau 0,94 persen ke posisi 5.328,36. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 5,41 poin atau 1,02 persen ke posisi 535,76.
"Langkah tersebut mencakup penyesuaian terhadap saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, serta peningkatan keterbukaan informasi mengenai afiliasi pemegang saham," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (21/10/2026), dikutip dari Antara.
Selain itu, Nico mengatakan sentimen juga didorong oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate tetap di level yang sama 5,75 persen atau sesuai ekspektasi pasar.
Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan periode Oktober 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen. Namun, suku bunga deposit facility diputuskan untuk naik sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen, sementara suku bunga lending facility diputuskan untuk tetap pada 6,5 persen.
Senada, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta mengatakan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berbalik menguat (rebound) salah satunya dipicu oleh pelaku pasar yang mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) untuk menahan BI-Rate di level 5,75 persen.
Selain itu, menurut dia, BI juga konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Meski demikian, pemulihan IHSG masih perlu dicermati secara hati-hati karena sentimen terkait evaluasi klasifikasi Indonesia oleh MSCI belum sepenuhnya mereda. Oleh karena itu, rebound saat ini lebih tepat dipandang sebagai fase pemulihan awal yang masih membutuhkan konfirmasi dari keberlanjutan arus beli, stabilitas rupiah dan efektivitas reformasi pasar modal,” ujar Nafan di Jakarta, Rabu (21/10/2026), dikutip dari Antara.
Nafan menjelaskan rebound IHSG pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kombinasi technical rebound setelah tekanan jual yang cukup signifikan pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026.
IHSG berbalik menguat 18,54 poin atau 0,35 persen ke posisi 5.297,43 pada perdagangan pada Rabu pukul 14.45 WIB, setelah sebelumnya pada perdagangan sesi I ditutup melemah 44,53 poin atau 0,84 persen ke posisi 5.234,36.
“Aksi bargain hunting terhadap saham-saham yang mengalami koreksi tajam, serta respons positif terhadap langkah pembenahan pasar modal yang dilakukan oleh OJK dan BEI,” ujar Nafan.
Secara sektoral, Nafan menyebut rebound IHSG ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, energi dan pertambangan, serta barang baku dan konsumer.
Ia menjelaskan, saham perbankan menjadi motor pemulihan karena memiliki bobot signifikan dalam indeks dan relatif likuid, sehingga perubahan minat beli terhadap saham-saham unggulan dapat memberikan dampak besar terhadap pergerakan IHSG.
Sementara itu, lanjutnya, sektor energi dan pertambangan berpotensi memperoleh dukungan dari dinamika harga komoditas global, sedangkan sektor konsumer dapat menarik minat investor yang mencari emiten dengan permintaan relatif stabil.
“Kendati demikian, penguatan sektoral perlu dikonfirmasi berdasarkan data transaksi dan pergerakan harga aktual, mengingat rebound indeks belum tentu diikuti kenaikan yang merata pada seluruh saham,” ujar Nafan.
Nafan menjelaskan, investor global saat ini cenderung masih bersikap cautious atau berhati-hati terhadap pasar saham Indonesia, terutama karena persoalan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi free float, dan risiko perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI.
Lanjutnya, kondisi tersebut mendorong investor asing untuk lebih selektif dalam menentukan eksposur terhadap aset domestik, sembari menunggu bukti konkret bahwa reformasi pasar modal mampu meningkatkan kredibilitas dan aksesibilitas pasar.
Di sisi lain, Ia menyebut investor domestik berpotensi memanfaatkan koreksi tajam untuk melakukan akumulasi secara selektif terhadap saham-saham berfundamental kuat dan memiliki valuasi menarik.
“Namun, perilaku bargain hunting tersebut belum tentu mencerminkan pulihnya kepercayaan secara menyeluruh. Karena itu, indikator penting yang perlu dicermati adalah keberlanjutan arus dana asing, peningkatan kualitas transaksi, serta kemampuan IHSG mempertahankan penguatannya setelah rebound,” ujar Nafan.
Dalam jangka pendek, Nafan memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan pemulihan teknikal, namun volatilitas diperkirakan masih tinggi karena investor terus mencermati perkembangan MSCI, stabilitas rupiah, dan implementasi reformasi pasar modal.
Ia menjelaskan penguatan yang disertai peningkatan volume transaksi serta perbaikan arus dana asing akan menjadi indikasi bahwa rebound memiliki fondasi yang lebih kuat.
Sebaliknya, apabila penguatan hanya ditopang oleh aksi beli spekulatif dan tidak diikuti perbaikan kepercayaan investor, IHSG berisiko kembali mengalami tekanan jual.
Dalam jangka menengah, Ia memproyeksikan prospek IHSG akan sangat bergantung pada keberhasilan OJK dan BEI memperbaiki transparansi kepemilikan, meningkatkan kredibilitas pembentukan harga, dan memperkuat perlindungan investor.
“Apabila reformasi tersebut berjalan konsisten, peluang pemulihan kepercayaan pasar akan semakin terbuka. Strategi investasi yang disarankan adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham berfundamental solid, memiliki likuiditas memadai, dan valuasi yang atraktif, dengan tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” ujar Nafan.
Sementara, Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai investor global maupun domestik saat ini cenderung lebih selektif dan menjaga risk appetite (selera risiko).
Setelah volatilitas yang tinggi, lanjutnya, pelaku pasar masih menunggu kepastian terkait reformasi transparansi pasar modal Indonesia, serta respons investor asing terhadap perkembangan tersebut.
"Dalam kondisi ini, sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan atau menunggu momentum yang lebih jelas sebelum kembali melakukan akumulasi,” ujar Elandry di Jakarta, Rabu (20/10/2026) dikutip dari Antara.
Ia melanjutkan tekanan IHSG perlu dilihat dari pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks.
Selain itu, sektor energi dan sektor komoditas maupun saham-saham yang sebelumnya mengalami kenaikan tajam juga perlu dicermati, karena berpotensi mengalami aksi profit taking.
“Besarnya kontribusi setiap sektor terhadap pelemahan tetap bergantung pada pergerakan harga saham pada perdagangan hari ini,” ujar Elandry.
Dalam jangka pendek hingga menengah, Elandry memproyeksikan IHSG masih berpotensi bergerak volatil, yang mana penguatan perdagangan kemarin belum cukup untuk memastikan bahwa pasar telah memasuki fase reversal, karena masih ada risiko koreksi lanjutan dan tekanan jual.
“Investor sebaiknya tetap selektif, tidak mengejar harga saat rebound, dan menggunakan trading plan yang jelas dengan target keuntungan serta batas risiko yang terukur,” ujar Elandry.


0 comments