Hotspot Karhutla Bertambah 228 Titik, Kalimantan Tengah Jadi Perhatian Utama | IVoox Indonesia

Hotspot Karhutla Bertambah 228 Titik, Kalimantan Tengah Jadi Perhatian Utama

Alat berat membuat parit di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau
Ilustrasi: Alat berat membuat parit di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau sebagai upaya mengisolasi api agar tidak merambat ke titik lain pada Ahad (21/9/2026). ANTARA/HO-BPBD Lingga

IVOOX.id – Kementerian Kehutanan mendeteksi adanya peningkatan hotspot secara nasional hingga 559 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence per Minggu, 27 September 2026, pukul 21.10 WIB. Jumlah tersebut meningkat 228 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 331 titik.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Ristianto Pribadi mengatakan, Kemenhut masih terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada wilayah yang menunjukkan peningkatan hotspot.

"Pergerakan hotspot pada enam provinsi prioritas menunjukkan kondisi yang bervariasi," katanya dalam siaran pers dikutip Senin (28/9/2026).

Menurutnya wilayah Kalimantan Tengah menjadi perhatian utama setelah jumlah hotspot high confidence meningkat dari 30 menjadi 134 titik. Sementara itu, perkembangan positif terlihat di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan yang mencatat penurunan.

Ia menegaskan bahwa peningkatan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan dan penguatan operasi, terutama di Kalimantan Tengah. Patroli, groundcheck, pemadaman, pembasahan, mopping up, dan pendinginan terus dilaksanakan untuk mencegah api meluas maupun kembali menyala.

Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Oleh karena itu, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas area yang terbakar, dan seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga dapat memengaruhi habitat serta keselamatan satwa liar. Masyarakat yang menemukan satwa liar keluar dari habitatnya atau berada di sekitar wilayah terdampak kebakaran diminta tidak menangkap atau melakukan evakuasi secara mandiri. Jaga jarak, catat lokasi dan kondisi satwa apabila memungkinkan, kemudian segera laporkan kepada Balai KSDA atau petugas kehutanan terdekat.

0 comments

    Leave a Reply