Harga Beras Naik, Kemendag: Dipicu Naiknya Harga Gabah

IVOOX.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras dalam dua pekan terakhir dipicu meningkatnya harga gabah di tingkat petani serta naiknya biaya distribusi.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Direktorat Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Nawandaru Dwi Putra mengatakan berdasarkan hasil pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), harga gabah saat ini berada pada kisaran Rp7.600 hingga Rp8.000 per kilogram, yang kemudian mendorong kenaikan harga beras di tingkat eceran.
"Perlu kami laporkan, tingginya harga beras pada kurun waktu 2 minggu ini disinyalir karena tingginya harga gabah di pasar," ujar Nawandaru dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Senin (11/5/2026), dikutip dari Antara.
Kenaikan harga beras, kata dia, juga dipengaruhi meningkatnya biaya transportasi serta harga kemasan plastik yang turut menambah beban distribusi.
Ia memperingatkan, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena beras masih menjadi salah satu penyumbang inflasi nasional. Pada April, komoditas beras tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen secara bulanan dan 0,18 persen secara tahunan. Pemerintah mendorong penguatan instrumen stabilisasi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras untuk menjaga stabilitas harga.
Nawandaru berharap pemerintah daerah dapat berkoordinasi dengan Perum Bulog agar penyaluran beras SPHP dilakukan secara merata dan berkelanjutan hingga ke pasar rakyat. "Kami harapkan untuk wilayah kabupaten/kota yang tadi disampaikan ini perlu juga minta bantuan Bulog untuk mendeliver secara merata dan kontinyu," katanya.
Ia mengatakan, penyaluran SPHP dinilai perlu dioptimalkan langsung kepada pedagang pengecer di pasar rakyat. Hal ini telah dilakukan pada mekanisme distribusi Minyakita melalui penugasan BUMN.
Berdasarkan pantauan SP2KP, harga beras medium masih bervariasi antarwilayah. Di zona 1, harga beras medium berada di level Rp13.400 per kilogram atau masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp13.500 per kilogram.
Namun di zona 2, harga beras medium mencapai Rp14.500 per kilogram atau 3,38 persen di atas HET, sedangkan di zona 3 mencapai Rp17.500 per kilogram atau 13,05 persen di atas HET. Sementara itu, harga beras premium di seluruh zona menunjukkan tren kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Di zona 1 harga beras premium tercatat Rp15.000 per kilogram atau 0,38 persen di atas HET. Zona 2 mencapai Rp16.300 per kilogram atau 5,59 persen di atas HET, dan zona 3 menyentuh Rp20.000 per kilogram atau 26,49 persen di atas HET.
Terpisah, Anggota DPR RI Azis Subekti mengatakan stok beras nasional yang diklaim pemerintah mencapai lebih dari 5 juta ton harus diiringi dengan kekuatan rantai pasok yang pada akhirnya bermuara pada stabilitas harga.
"Seluruh capaian itu pada akhirnya harus bermuara pada satu hal, harga yang stabil; karena di situlah rakyat merasakan kehadiran negara," kata Azis dalam keterangan diterima di Jakarta, Senin (11/5/2026), dikutip dari Antara.
Menurut dia, cadangan beras mencapai 5,23 juta ton yang dikelola Perum Bulog mencerminkan kapasitas negara dalam menjaga ketahanan pangan pada level yang belum pernah dicapai sebelumnya. "Dalam waktu yang tidak terlalu panjang, stok ini meningkat tajam. Dibanding dua tahun lalu, lonjakannya bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat," ucapnya.
Namun, Azis menekankan swasembada beras tidak berhenti pada jumlah stok di gudang. "Ia diuji di pasar karena rakyat tidak merasakan angka 5 juta ton, rakyat merasakan harga di warung," ujarnya.
Dalam tataran itu, ia menilai kekuatan rantai pasok menjadi penentu. Produksi yang tinggi, menurut dia, harus diikuti dengan distribusi yang presisi. Stok beras yang besar perlu diiringi dengan pergerakan logistik yang cepat dan efisien. Tanpa itu, negara bisa saja memiliki cadangan melimpah, tetapi harga tetap bergejolak di berbagai daerah.
"Pengalaman global menunjukkan hal tersebut. Banyak negara memiliki produksi besar, tetapi gagal menjaga stabilitas harga karena distribusi, logistik, dan tata kelola pasarnya lemah," ujar Azis.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan stok beras nasional yang dikelola perusahaan tersebut telah mencapai 5,23 juta ton untuk menjaga ketahanan pangan hingga tahun depan secara aman.
"Untuk seluruh Indonesia stok (cadangan beras pemerintah yang dikelola) Bulog itu sekarang sudah mencapai 5,23 juta ton dan ini bisa untuk ketahanan pangan kita sampai tahun depan," kata Rizal di Jakarta, Kamis (7/5/2026), dikutip dari Antara.
Ia memastikan ketersediaan stok tersebut cukup menghadapi potensi gangguan produksi pangan, termasuk ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun mendatang.


0 comments