Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen di Kuartal II 2026, Permata bank Sebut Investasi Mulai Menguat | IVoox Indonesia

August 11, 2026

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen di Kuartal II 2026, Permata bank Sebut Investasi Mulai Menguat

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede dalam konferensi pers secara daring pada Senin (10/8/2026). IVOOX.ID/Tangkapan layar Zoom Meeting Permata Bank

Ivoox.id – Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) mencatat perekonomian Indonesia tetap tumbuh solid pada kuartal II 2026. Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat tumbuh 5,29 persen secara tahunan (YoY), meski melambat dibandingkan pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I 2026.

Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada paruh pertama 2026 tumbuh 5,45 persen YoY. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,00 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

PIER menilai terdapat perubahan komposisi mesin pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026. Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor utama, tetapi pertumbuhannya melambat dari 5,52 persen YoY menjadi 5,06 persen YoY setelah normalisasi belanja pasca-Lebaran.

Di sisi lain, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) justru mengalami akselerasi. Pertumbuhan investasi meningkat dari 5,96 persen YoY pada kuartal sebelumnya menjadi 6,87 persen YoY.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan perubahan tersebut menunjukkan struktur pertumbuhan ekonomi mulai lebih seimbang.

"Pola pertumbuhan kuartal II 2026 menunjukkan bahwa mesin ekonomi Indonesia mulai lebih seimbang. Saat konsumsi rumah tangga melandai secara musiman usai Lebaran, investasi justru menguat dan menjaga momentum pertumbuhan tetap solid di atas 5%," kata Josua dalam konferensi pers secara daring pada Senin (10/8/2026).

Moderasi konsumsi terlihat pada sejumlah kelompok pengeluaran. Belanja pakaian tumbuh 3,52 persen YoY, turun dari 5,99 persen, sementara transportasi dan komunikasi melambat menjadi 5,71 persen dari 6,91 persen. Belanja restoran dan hotel juga turun menjadi 6,47 persen dari 7,38 persen.

Meski demikian, konsumsi tetap ditopang musim libur sekolah, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta ekspansi ekonomi digital. Belanja pemerintah tumbuh 15,97 persen YoY, meski melambat dari 21,81 persen pada kuartal sebelumnya.

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menilai daya beli masyarakat masih mendapat dukungan dari inflasi yang terkendali.

"Daya beli masyarakat tertopang oleh inflasi yang mereda menjadi 2,88% YoY pada Juli 2026, seiring keputusan pemerintah untuk mempertahankan subsidi energi di tengah lonjakan harga energi global," ujarnya.

Penguatan investasi terjadi pada sebagian besar kategori aset. Investasi bangunan dan struktur tumbuh 6,61 persen YoY, meningkat dari 5,29 persen pada kuartal sebelumnya, antara lain didukung proyek infrastruktur pemerintah dan pembangunan infrastruktur Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Sebaliknya, investasi mesin dan perlengkapan melambat menjadi 1,32 persen dari 10,78 persen. Kondisi tersebut sejalan dengan melemahnya aktivitas manufaktur, yang tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global yang turun ke 46,9 pada Juni sebelum kembali naik menjadi 50,2 pada Juli 2026.

Head of Industry and Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi mengatakan pemulihan PMI menjadi sinyal positif bagi industri.

"Kami juga mencermati sejumlah subsektor berorientasi ekspor, seperti Tekstil dan Alas Kaki, yang justru menguat, sehingga membuka peluang diversifikasi mesin pertumbuhan industri di tengah tekanan pada sektor pertambangan," katanya.

Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 dipimpin sektor jasa. Listrik dan Gas tumbuh 10,81 persen YoY, sementara sektor Pertambangan dan Penggalian terkontraksi 1,64 persen.

PIER memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tumbuh 5,26 persen YoY, lebih tinggi dari 5,11 persen pada 2025. Namun, tantangan fiskal dan ketidakpastian global diperkirakan menahan laju pertumbuhan pada semester kedua.

"Kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2026 tetap resilien di kisaran 5,26 persen YoY, meningkat dibandingkan 5,11 persen YoY pada 2025," ujar Josua.

0 comments

    Leave a Reply