Ekonom: Waspadai Dampak Usulan Reklasifikasi MSCI terhadap Saham dan Rupiah

IVOOX.id – Ekonom PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mewaspadai potensi tekanan arus modal asing menyusul usulan MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Perubahan tersebut dinilai berisiko memengaruhi likuiditas pasar saham, kepercayaan investor global, hingga stabilitas pasar obligasi pemerintah.
MSCI memulai konsultasi atas usulan reklasifikasi tersebut pada 15 Oktober 2026. Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian meliputi transparansi struktur kepemilikan saham, kualitas free float, serta dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi. Keputusan final dijadwalkan paling lambat akhir Juni 2027.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menjelaskan bahwa apabila reklasifikasi diterapkan, saham-saham Indonesia berpotensi dikeluarkan dari indeks Emerging Market yang menjadi acuan berbagai produk investasi global. Kondisi itu dapat memicu penjualan oleh investor pasif dan penyesuaian alokasi oleh investor institusional aktif.
“Risikonya bukan hanya berapa besar dana asing yang berpotensi keluar. Dalam jangka lebih panjang, perubahan klasifikasi ini dapat mempersempit basis investor institusional, mengurangi likuiditas pasar, dan meningkatkan premi risiko yang diminta investor untuk berinvestasi di saham Indonesia. Dengan kata lain, dampaknya bisa lebih luas daripada tekanan jual yang kita lihat saat ini,” kata Rully dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Jumat (16/10/2026).
Meski demikian, Mirae Asset menilai perubahan klasifikasi tersebut belum menjadi kepastian. Masa konsultasi dinilai memberikan kesempatan bagi otoritas pasar modal untuk memperbaiki transparansi kepemilikan, memperkuat pengawasan perdagangan terkoordinasi, serta memastikan penerapan aturan free float secara konsisten.
“Yang akan menjadi perhatian investor global bukan sekadar komitmen untuk melakukan perbaikan, tetapi sejauh mana reformasi tersebut benar-benar dilaksanakan dan dapat diverifikasi. Karena itu, perkembangan respons regulator terhadap kekhawatiran MSCI akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kepercayaan investor ke depan,” ujar Rully.
Dalam menghadapi volatilitas pasar, Mirae Asset menyarankan investor menerapkan strategi yang lebih selektif. Investor dengan cadangan kas memadai dapat mempertimbangkan masuk kembali ke pasar secara bertahap, terutama pada saham yang relatif rendah kepemilikan investor institusional asing dan memiliki eksposur lebih terbatas terhadap tekanan jual terkait MSCI.
“Kami tidak melihat perlunya investor terburu-buru kembali masuk ke pasar secara agresif. Namun, koreksi yang sangat tajam juga dapat membuka peluang secara selektif. Dalam kondisi seperti ini, kami lebih memilih saham yang relatif tidak bergantung pada aliran dana asing, sambil tetap mempertahankan fleksibilitas kas untuk menghadapi kemungkinan volatilitas lanjutan,” kata Rully.
Tekanan juga berpotensi merambat ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui perubahan sentimen dan arus modal asing. Fixed Income Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menyebut yield SBN tenor 10 tahun dilaporkan mencapai 7,33 persen pada pembukaan pasar, sementara rupiah berada di atas Rp18.000 per dolar AS.
“Kenaikan yield SBN tenor 10 tahun ke 7,24 persen ketika yield US Treasury turun sebelumnya juga mengindikasikan adanya tekanan domestik tambahan. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah risiko nilai tukar. Jika sentimen MSCI memburuk dan mendorong investor mengurangi kepemilikan aset domestik, konversi dana ke valuta asing dapat menambah tekanan terhadap rupiah,” kata Jessica.
Menurut Mirae Asset, meningkatnya persepsi risiko dapat mendorong investor meminta imbal hasil SBN lebih tinggi. Pelemahan rupiah juga berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia sehingga penurunan yield domestik tertahan.
Di tengah kondisi tersebut, Mirae Asset menilai yield SBN menarik untuk diakumulasi secara bertahap, terutama pada tenor pendek. Namun, investor tetap perlu memperhitungkan risiko nilai tukar dan ketidakpastian arus modal. Perusahaan juga menyarankan sikap lebih selektif terhadap obligasi berdurasi panjang yang sensitif terhadap perubahan yield, dengan preferensi pada tenor pendek hingga menengah.
Perkembangan keputusan MSCI, stabilitas rupiah, serta pergerakan arus dana asing dan domestik akan menjadi faktor penting dalam menentukan strategi investasi berikutnya.


0 comments