Ekonom: Risk Premium Jadi Tantangan Utama Pasar Domestik Hadapi Tekanan Rupiah dan IHSH | IVoox Indonesia

June 21, 2026

Ekonom: Risk Premium Jadi Tantangan Utama Pasar Domestik Hadapi Tekanan Rupiah dan IHSH

antarafoto-ihsg-ditutup-melemah-ke-posisi-5941-1780494906-1
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 254,36 poin atau 4,11 persen ke posisi 5.941,07 setelah seharian berkutat di zona merah pada rentang 5.841-6.213. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin

IVOOX.id – Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan strategi pemerintah dan Bank Indonesia dengan cara menaikkan imbal hasil SBN dinilai masih berdampak terbatas untuk mendongkrak nilai tukar rupiah.

"Kenaikan imbal hasil ini merupakan bagian dari upaya koordinasi BI dan Kemenkeu untuk meningkatkan daya tarik carry rupiah bagi investor portofolio asing. Namun, dampaknya terhadap rupiah masih terbatas dan memang tidak realistis untuk diharapkan bekerja hanya dalam waktu singkat," ujar Rully kepada Ivoox.id Selasa (9/6/2026).

Menurutnya, efektivitas kebijakan tersebut masih menghadapi tantangan besar akibat tekanan eksternal. Salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dunia serta memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga AS akan tetap tinggi dalam periode yang lebih panjang.

Situasi tersebut membuat investor global cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dampaknya tidak hanya dirasakan pasar saham Indonesia, tetapi juga tercermin pada pelemahan rupiah serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah.

Di tengah kondisi tersebut, Rully menilai Indonesia perlu memperkuat komunikasi kebijakan guna menjaga kepercayaan investor dan menekan peningkatan risk premium yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

"Indonesia masih perlu memperkuat komunikasi kebijakan untuk mengurangi risk premium yang sudah naik signifikan. Jika risk premium tidak berhasil diturunkan, tekanan terhadap valuasi IHSG berpotensi berlanjut ke depan," katanya.

Sepanjang periode 2–5 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terkoreksi 8,69 persen. Tekanan berlanjut pada sesi pertama perdagangan Senin, 8 Juni 2026, ketika IHSG kembali turun 2,87 persen ke level 5.434.

Selain pasar saham, tekanan juga terlihat pada pergerakan rupiah yang terus mendekati level terlemahnya terhadap dolar Amerika Serikat. Di saat yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke kisaran 7,27 persen. Kenaikan yield tersebut menunjukkan meningkatnya premi risiko atau risk premium yang diminta investor untuk berinvestasi di aset domestik.

Ke depan, arah pergerakan pasar keuangan domestik diperkirakan masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta efektivitas langkah pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar. Menurut Mirae Asset, penurunan risk premium dan stabilisasi rupiah akan menjadi faktor penting untuk membuka peluang pemulihan pasar saham Indonesia dalam waktu mendatang.

0 comments

    Leave a Reply