DPR Pastikan Penanganan dan Pemulihan Korban Penyekapan di RSHS Bandung | IVoox Indonesia

July 5, 2026

DPR Pastikan Penanganan dan Pemulihan Korban Penyekapan di RSHS Bandung

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSHS Bandung dr. Fitra Hergyana
Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSHS Bandung dr. Fitra Hergyana saat memberikan keterangan di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (25/6/2026). (ANTARA/Rubby Jovan)

IVOOX.id – Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinator Ekonomi dan Keuangan, Sari Yuliati, mengunjungi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk memastikan proses penanganan dan pemulihan Yuvita, korban penyekapan yang masih menjalani perawatan intensif. Kunjungan tersebut menegaskan komitmen DPR dalam memastikan korban memperoleh pendampingan menyeluruh, mulai dari perawatan medis hingga rehabilitasi psikologis.

Usai meninjau kondisi penanganan korban di RSHS, Sari menegaskan bahwa fokus utama kunjungannya adalah memastikan negara hadir bagi korban, bukan membahas proses hukum terhadap pelaku yang kini menjadi ranah aparat penegak hukum.

"Kami semua berkonsentrasi kepada korban. Soal pelaku sudah menjadi kewenangan aparat penegak hukum. Tugas kami adalah memastikan Yuvita mendapatkan pendampingan dan pemulihan terbaik, baik secara fisik maupun psikologis," ujar Sari dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id pada Jumat (3/7/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Sari didampingi Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Ahmad Hidayat dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Dr. R. Vini Adiani Dewi. Rombongan diterima Direktur Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Penelitian RSHS Bandung, Dr. Fitra Hergyana, bersama tim tenaga medis yang menangani korban.

Sari mengapresiasi langkah cepat rumah sakit dalam memberikan penanganan komprehensif kepada Yuvita. Berdasarkan penjelasan tim medis, proses pemulihan telah dirancang secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi fisik maupun psikologis korban, termasuk rehabilitasi jangka panjang.

"Tadi dokter menjelaskan bahwa proses penyembuhan sudah dirancang dengan sangat baik. Pemulihan fisik dan psikologis sudah memiliki tahapan yang jelas, bahkan diperkirakan berlangsung hingga satu tahun ke depan. Tentu kita akan mengawal bersama agar seluruh proses berjalan optimal, termasuk memastikan tidak ada kendala dalam pembiayaannya," katanya.

Meski berada di rumah sakit, Sari memilih tidak menemui Yuvita secara langsung karena menghormati prosedur medis. Saat ini korban masih menjalani perawatan dalam ruang steril sehingga membutuhkan kondisi yang tenang untuk mendukung proses penyembuhan.

"Saya hanya bertemu dengan keluarga korban. Saya tidak ingin mengganggu proses penyembuhan karena itu merupakan bagian penting dari terapi medis. Yang terpenting adalah memberikan dukungan moril kepada keluarga agar mereka tetap kuat mendampingi Yuvita menghadapi masa pemulihan yang panjang," ujarnya.

Ia menambahkan, pemulihan Yuvita akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Selain penyembuhan jaringan tubuh, korban dijadwalkan menjalani sejumlah operasi rekonstruksi, mulai dari operasi tulang rahang, bedah plastik, hingga rehabilitasi psikologis secara bertahap.

"Proses perbaikan fisiknya membutuhkan waktu panjang. Akan ada beberapa tahapan operasi yang harus dijalani. Karena itu, seluruh pihak harus bergotong royong memberikan dukungan agar korban benar-benar dapat pulih dan kembali menjalani kehidupannya dengan baik," katanya.

Pada kesempatan itu, Sari juga mengajak perempuan yang mengalami atau mengetahui adanya tindak kekerasan maupun penyekapan agar segera melapor kepada keluarga maupun pihak berwenang.

"Jangan memendam sendiri. Apabila ada tanda-tanda atau mengalami kejadian serupa segera berbicara kepada keluarga, orang terdekat, atau pihak yang berwenang. Jangan sampai kasus seperti ini terlambat ditangani sehingga menimbulkan dampak yang jauh lebih berat," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSHS Bandung, Dr. Fitra Hergyana, menyampaikan apresiasi atas perhatian DPR terhadap kondisi korban. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi motivasi bagi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan terbaik. 

Ia menjelaskan, rumah sakit telah membentuk tim multidisiplin yang melibatkan sekitar 40 dokter dari berbagai bidang keahlian untuk menangani Yuvita secara terpadu.

"Kami membentuk tim yang terdiri dari dokter bedah plastik, bedah mulut dan rahang, dokter mata, dokter rehabilitasi medik hingga psikiater. Semua bekerja secara terpadu agar pasien mendapatkan penanganan yang maksimal. Harapan kami, Yuvita dapat pulih dan nantinya kembali beraktivitas seperti sediakala," katanya.

Ia juga mengungkapkan kondisi korban terus menunjukkan perkembangan positif.

"Alhamdulillah kondisi pasien saat ini terus membaik. Korban sudah bisa makan, duduk, dan mengobrol dengan baik. Saat ini kami tinggal mempersiapkan tahapan operasi lanjutan sesuai rencana medis yang telah disusun," ujarnya.

0 comments

    Leave a Reply