CORE Sarankan Industri Mulai Jajaki Substitusi Bahan Impor Hadapi Pelemahan Rupiah | IVoox Indonesia

May 20, 2026

CORE Sarankan Industri Mulai Jajaki Substitusi Bahan Impor Hadapi Pelemahan Rupiah

antarafoto-peningkatan-tkdn-untuk-penguatan-kapasitas-industri-nasional-17703002
Pekerja menyelesaikan proses pemotongan pipa gas di pabrik produksi pipa gas PT Dwi Sumber Arca Waja Kura di Kawasan Industri Terpadu Kabil, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (5/2/2026). SKK Migas mempertegas kewajiban pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri di sektor hulu migas guna menekan impor serta meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebagai bagian dari penguatan kapasitas industri nasional, yang menyasar kontraktor kontrak kerja sama (K3S) dan pelaku usaha migas yang masih bergantung pada produk impor. ANTARA FOTO/Teguh Prihatna

IVOOX.id – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menyarankan industri agar mulai mencari dan bermitra dengan pemasok lokal sebagai alternatif pengganti (substitusi) bahan baku impor untuk menghadapi dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Adapun nilai tukar rupiah pada Selasa, 19 Mei 2026, per 11.02 WIB bergerak melemah 60 poin atau 0,34 persen menjadi Rp17.728 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.

“Apa yang harus dilakukan pelaku industri untuk memitigasi dampak? Tentu saja biasanya jadi kalau nilai tukar terus berkurang, (industri) mencari alternatif pasokan dari dalam negeri yang tidak terlalu banyak terdampak karena pelemahan nilai tukar, dan juga melakukan diversifikasi dari rantai pasok,” kata Faisal, Selasa (19/5/2026), dikutip dari Antara.

Faisal mengatakan, pelemahan nilai rupiah akan berdampak pada meningkatnya biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada produk atau bahan baku impor seperti industri kimia hingga farmasi.

Selain karena terdapat disrupsi rantai pasok, terdapat juga peningkatan inflasi bahan baku dari negara asal atau pengimpor, serta peningkatan biaya distribusi atau logistik imbas harga minyak dunia yang juga fluktuatif.

“Jadi artinya ada peningkatan beban biaya produksi yang lebih besar. Walaupun tidak seragam antara semua pelaku usaha pelaku industri, tapi tentu saja (peningkatannya) tetap besar,” katanya.

Dengan meningkatnya biaya produksi, lanjut dia, tentunya industri merespons dengan melakukan efisiensi, tak terkecuali kemungkinan untuk mengurangi jumlah tenaga kerja.

Faisal menambahkan, potensi pengurangan tenaga kerja ini bisa semakin besar jika dari sisi penjualan atau pasar juga ikut menurun.

“Maka kita tahu bahwa dari tekanannya juga ada di sisi hilir, di sisi market. Jadi kalau penjualan itu turun dimana itu turun otomatis mengurangi jumlah tenaga kerja. Jadi memang ada potensi pemutusan hubungan kerja atau PHK,” kata Faisal.

Selain mitigasi dari sisi pelaku industri, ia mengatakan pemerintah juga harus berperan langsung melalui rangkaian kebijakan pendukung guna mengantisipasi kemungkinan buruk akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini.

“Menurut saya salah satu faktor dari pelemahan nilai tukar bukan hanya dari faktor global tapi juga faktor domestik. Stabilitas makroekonomi termasuk masalah fiskal itu yang harus dijaga oleh pemerintah, termasuk disiplin fiskal yang juga menjadi sorotan,“ kata Faisal.

“Selain itu, termasuk governance dalam hal pelaksanaan program-program prioritas untuk meningkatkan atau menjaga kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia, dan juga kredibilitas daripada kebijakan pemerintah,” ujarnya menambahkan.

0 comments

    Leave a Reply