BSI Bukukan Laba Rp4,16 Triliun Hingga Kuartal II 2026, Tumbuh 11,08 Persen

IVOOX.id – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) membukukan laba bersih sebesar Rp4,16 triliun hingga akhir Juni 2026 atau tumbuh sebesar 11,08 persen secara tahunan (year on year/yoy), didorong oleh fee-based income yang meningkat 38,16 persen (yoy).
Pada periode yang sama, total aset BSI mencapai Rp464 triliun atau tumbuh 15,96 persen (yoy).
“Alhamdulillah, kalau kita lihat kinerja BSI pada kuartal II ini tumbuh positif dan sustain,” kata Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Jumat (21/8/2026), dikutip dari Antara.
Hingga akhir kuartal II 2026, dana pihak ketiga (DPK) BSI tumbuh 21,81 persen (yoy) yaitu Rp393 triliun, dengan tabungan mencapai Rp173 triliun atau tumbuh 22,32 persen (yoy).
Adapun rasio dana murah (current account saving account/CASA) BSI per akhir Juni 2026 mencapai 60,58 persen dari total DPK atau sebesar Rp238,30 triliun.
Perkembangan yang positif pada komponen tabungan didorong oleh tabungan payroll yang mencapai Rp61,5 triliun atau tumbuh 20,53 persen (yoy) serta tabungan haji dan umrah Rp16,7 triliun atau tumbuh 17,21 persen (yoy).
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan, pertumbuhan tabungan tersebut juga tidak lepas dari keunikan perseroan yang memiliki produk yang hanya ada di bank syariah, yaitu tabungan haji yang tumbuh secara konsisten dari waktu ke waktu.
“Termasuk juga kami sangat bersyukur semakin banyak nasabah terutama pegawai payroll yang memindahkan operastonal account-nya atau salary account-nya ke Bank Syariah Indonesia sehingga ini menjadi kontribusi terhadap pertumbuhan tabungan Bank Syariah Indonesia,” kata dia.
Ade Cahyo menambahkan bahwa pertumbuhan nasabah yang positif juga berdampak terhadap DPK, di mana perseroan mampu melakukan akuisisi terhadap sekitar 1,1 juta nasabah sepanjang semester I 2026.
“Angka ini juga merupakan angka akuisisi tertinggi yang pernah dicapai BSI sejak berdiri, di mana satu semester nasabah BSI bisa bertambah 1,1 juta sehingga mencapai 24,3 juta nasabah, yang menjadikan BSI sebagai salah satu bank terbesar dari sisi jumlah nasabah di Indonesia,” kata dia.
Di tengah persaingan likuiditas yang ketat di industri dan membaiknya pertumbuhan tabungan, perseroan mencatatkan perbaikan cost of fund (CoF) sehingga berada pada level 2,19 persen per akhir Juni 2026.
“Jadi ini sesuatu yang ingin kami pertahankan di tengah situasi yang kondisi likuiditas yang sedang atau masih ketat sampai dengan hari ini,” kata Ade Cahyo.
Sementara itu, fungsi intermediasi BSI juga berjalan dengan baik sehingga total pembiayaan tumbuh 15,98 persen (yoy) menjadi Rp340 triliun. Perkembangan ini mendorong pertumbuhan market share dari pembiayaan BSI terhadap perbankan nasional meningkat menjadi 3,75 persen.
Lebih rinci, pembiayaan wholesale BSI tumbuh sebesar 16,62 persen (yoy) mencapai Rp94,99 triliun, dengan kontributor utama berasal dari segmen korporasi yang tumbuh sebesar 21,13 persen (yoy) atau mencapai Rp75,55 triliun.
Kemudian, pembiayaan segmen ritel tumbuh 12,58 persen (yoy) mencapai Rp55,83 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari pertumbuhan dari segmen SME sebesar 19,98 persen (yoy) mencapai Rp26,89 triliun.
Selanjutnya, pembiayaan segmen consumer, gold, dan card tumbuh 16,70 persen (yoy) mencapai Rp189,28 triliun.
“Segmen ini tetap menjadi kontributor utama atau bagian terbesar dari total pembiayaan BSI yaitu lebih dari separuh. Sebesar 55,65 persen pembiayaan consumer, gold, dan card ini merupakan penopang dari pembiayaan BSI,” kata Direktur Risk Management BSI Grandhis Helmi Harumansyah.
Dari sisi kualitas, hingga akhir kuartal II 2026, rasio NPF gross dan net masing-masing membaik ke level 1,8 persen dan 0,33 persen. Cost of credit (CoC) BSI juga membaik ke level 0,62 persen.
Di sisi lain, perseroan juga memperkuat cash coverage hingga mencapai 245,3 persen per Juni 2026. Hal ini salah satunya seiring dengan implementasi dari PSAK Syariah 413 yang dilaksanakan perseroan pada tahun ini.


0 comments