2,2 Juta Anak Punya Tekanan Darah di Atas Normal, IDAI: Pola Hidup dan Makan Sembarangan Jadi Faktor Utama

IVOOX.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyoroti temuan tingginya tekanan darah di atas normal pada anak usia sekolah dan remaja berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026. Hingga Juli 2026, sekitar 2,2 juta anak tercatat memiliki tekanan darah di atas normal. Temuan ini menjadi persoalan kesehatan terbesar kedua setelah karies gigi.
Menanggapi temuan tersebut, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yunarso mengatakan angka sekitar 2,21 juta anak dengan tekanan darah di atas normal harus menjadi perhatian serius. Namun, ia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengartikan seluruh anak tersebut sebagai penderita hipertensi.
"Angka sekitar 2,21 juta itu merupakan anak dan remaja yang pada saat skrining ditemukan memiliki tekanan darah di atas normal, bukan berarti semuanya sudah dapat didiagnosis sebagai penderita hipertensi," ujar Piprim kepada Ivoox.id pada Selasa (25/8/2026).
Di samping itu, Direktur Jenderal Kesehatan Primer Kemenkes RI Maria Endang Sumiwi mengatakan kondisi tersebut berkaitan dengan pola makan dan aktivitas fisik anak yang masih belum sehat. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), sekitar 50 persen anak disebut menyukai makanan manis, 40 persen menyukai makanan gurih atau asin, sedangkan sekitar 95 persen anak tidak menyukai konsumsi sayuran.
"Jadi kebugaran kita masih kurang pada anak-anak, kemudian juga pola makan. Ada satu hasil survei SKI, kalau tidak salah, anak-anak kita itu suka makan manis sekitar 50 persen," kata Maria dalam konferensi pers Cek Kesehatan Gratis di Gedung Kemenkes, Selasa (4/8/2026).Kemenkes RI menilai program CKG dapat menjadi solusi dalam menyelesaikan persoalan tersebut, sehingga masyarakat bisa memaknai Program Cek Kesehatan Gratis sebagai tindakan prefentif sejak dini sejalan dengan selogan program CKG Kemenkes “Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati”.
Maria menilai pola makan dan aktivitas fisik anak perlu segera diperbaiki. "Jadi dari sisi pola makan memang harus diperbaiki, dari sisi kebugaran, aktivitas fisik juga harus diperbaiki," ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Piprim berpendapat bahwa Diagnosis hipertensi pada anak tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu kali pemeriksaan. Pengukuran harus dilakukan dengan teknik yang benar, menggunakan ukuran manset yang sesuai, serta dilakukan ketika anak dalam kondisi tenang. Jika hasil pengukuran menunjukkan tekanan darah tinggi, pemeriksaan ulang dan evaluasi lebih lanjut diperlukan.
Meski demikian, Piprim menilai besarnya temuan tersebut merupakan peringatan penting. Faktor risiko hipertensi yang sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan orang dewasa kini mulai muncul sejak usia anak dan remaja.
Hipertensi yang tidak dicegah dan ditangani sejak dini berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, serta penyakit metabolik ketika anak memasuki usia produktif.
Piprim menjelaskan, penyebab hipertensi pada anak secara umum terbagi menjadi hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi primer semakin sering ditemukan terutama pada remaja dan berkaitan dengan kelebihan berat badan, obesitas, konsumsi makanan ultra-proses tinggi garam, gula dan kalori, minuman manis, kurang aktivitas fisik, terlalu banyak screen time, kurang tidur, serta rendahnya kebugaran.
Sementara itu, hipertensi sekunder dapat dipicu penyakit tertentu, seperti gangguan ginjal, kelainan pembuluh darah atau jantung, gangguan hormonal, sleep apnea, hingga penggunaan obat-obatan tertentu.
Karena itu, anak yang benar-benar terbukti mengalami hipertensi perlu mendapatkan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari kemungkinan penyebabnya.
Piprim juga mengingatkan orang tua agar tidak menunggu sampai anak mengalami gejala. Sebab, hipertensi sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas.
“Orang tua dianjurkan membiasakan anak aktif bergerak dan berolahraga, menjaga berat badan ideal, tidur cukup, serta memperbanyak makanan alami, sayur, buah, dan sumber protein yang baik. Sebaliknya, makanan ultra-proses, fast food, makanan terlalu asin, makanan ringan kemasan, minuman berpemanis, serta kebiasaan sedentari dan screen time berlebihan perlu dibatasi,” ujarnya.
"Pencegahan penyakit jantung dan hipertensi sebenarnya harus dimulai sejak masa anak-anak, bukan ketika seseorang sudah berusia 40 atau 50 tahun," kata Piprim.


0 comments