Wamenperin Sebut Indonesia Eksportir Makanan dan Minuman Terbesar Kedua di Asia

IVOOX.id – Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan Indonesia menjadi eksportir produk makanan dan minuman terbesar kedua di Asia setelah China dengan pangsa sebesar 23 persen dari pasar ekspor makanan dan minuman.
“Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai eksportir makanan dan minuman terbesar kedua di Asia, setelah Tiongkok, dengan pangsa 23 persen dari pasar ekspor makanan dan minuman,” kata Faisol dalam pembukaan Food Ingredients (Fi) Asia Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (16/9/2026), dikutip dari Antara.
Menurut Faisol, posisi tersebut sejalan dengan kinerja ekspor makanan dan minuman Indonesia yang pada 2025 mencapai 49,5 miliar dolar AS, atau menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan surplus perdagangan sebesar 36,1 miliar dolar AS.
“Nilai ekspor makanan dan minuman pada 2025 mencapai titik tertinggi dalam lima tahun terakhir, yaitu 49,5 miliar dolar AS, dengan surplus perdagangan mencapai 36,1 miliar dolar AS,” ujarnya.
Faisol mengatakan nilai ekspor Indonesia juga mengungguli sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura.
Ia mengatakan capaian ekspor tersebut terutama ditopang oleh sejumlah komoditas utama, yakni minyak kelapa sawit, produk perikanan, margarin dan kakao olahan.
Di sisi impor, nilai impor produk makanan dan minuman mencapai 13,4 miliar dolar AS yang sebagian besar terdiri atas produk makanan olahan lainnya dan bahan baku industri, seperti bungkil dan residu, susu bubuk, serta daging.
Kinerja perdagangan tersebut berlanjut pada semester I 2026 dengan nilai ekspor makanan dan minuman mencapai 24,61 miliar dolar AS dan impor sebesar 7 miliar dolar AS.
Faisol mengatakan kepercayaan investor terhadap prospek sektor makanan dan minuman tetap kuat. Hal itu tercermin dari realisasi investasi sektor tersebut yang mencapai Rp26,82 triliun pada semester I 2026.
“Kepercayaan investor terhadap prospek sektor ini tetap kuat,” kata Faisol.
Menurut dia, capaian tersebut perlu terus diperkuat di tengah berbagai tantangan global, mulai dari ketidakpastian geopolitik yang memicu kenaikan harga energi dan inflasi hingga gangguan rantai pasok.


0 comments