Walhi dan Warga Pulau Pari Tanam 7.000 Mangrove pada Hari Keanekaragaman Hayati Dunia | IVoox Indonesia

May 23, 2026

Walhi dan Warga Pulau Pari Tanam 7.000 Mangrove pada Hari Keanekaragaman Hayati Dunia

Walhi dan Warga Pulau Pari Tanam 7.000 Mangrove
Walhi dan Warga Pulau Pari Tanam 7.000 Mangrove pada Hari Keanekaragaman Hayati Dunia. IVOOX.ID/doc WALHI

IVOOX.id – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bersama warga Pulau Pari melakukan rehabilitasi pesisir dengan menanam 7.000 bibit mangrove dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 22 Mei itu melibatkan mahasiswa dari 20 kelompok Mahasiswa Pecinta Alam dan BEM, Kelompok Perempuan Pulau Pari (KPPP), serta Forum Peduli Pulau Pari (FPPP).

Aksi rehabilitasi tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga mencakup kajian sosial-ekologi pra-penanaman, pelatihan rehabilitasi, hingga monitoring pertumbuhan mangrove secara berkala.

Pengkampanye Perlindungan Laut dan Pesisir Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Mida Saragih, mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi warga dan generasi muda dalam menjaga ekosistem pesisir serta memperkuat ketahanan pulau kecil terhadap dampak perubahan iklim.

“Rangkaian aksi rehabilitasi mangrove ini merupakan kerja bersama warga dan orang muda dalam menjaga keanekaragaman hayati pesisir dan membangun ketangguhan ekosistem pulau kecil terhadap perubahan iklim. Bagi kami, menanam mangrove juga berarti menjaga ruang hidup, serta biota pesisir dan kekayaan hayati Pulau Pari,” ujar Mida dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Sabtu (23/5/2026).

Pulau Pari yang berada di wilayah Kepulauan Seribu diketahui memiliki luas sekitar 41,32 hektare dan termasuk kategori pulau kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan tersebut menghadapi ancaman abrasi pantai, alih fungsi kawasan, hingga dampak krisis iklim yang dinilai semakin mengancam kehidupan masyarakat pesisir.

Hasil kajian sosial-ekologi yang dilakukan Walhi bersama tim akademisi menemukan sedikitnya tujuh jenis mangrove di Pulau Pari, di antaranya Avicennia marina, Bruguiera cylindrica, Excoecaria agallocha, Lumnitzera racemosa, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, dan Cylocarpus moluccensis.

Dalam kegiatan rehabilitasi ini, jenis mangrove yang ditanam adalah Rhizophora stylosa atau bakau kecil yang merupakan spesies dominan di Pulau Pari. Penanaman dilakukan menggunakan metode rumpun berjarak dengan 20 hingga 30 propagul dalam satu rumpun untuk meningkatkan ketahanan bibit terhadap gelombang laut sekaligus mempercepat proses rehabilitasi.

Selain penanaman, Walhi bersama warga juga mengembangkan sistem monitoring berbasis citizen science yang dilengkapi basis data sederhana untuk mencatat perkembangan mangrove. Mahasiswa dan warga yang terlibat turut mendapatkan pelatihan mengenai identifikasi jenis mangrove, teknik penanaman, serta pemantauan ekosistem pesisir.

“Gerakan dan aksi rehabilitasi mangrove ini adalah pertemuan antara gerakan moral kemanusiaan dan gerakan perlindungan lingkungan,” kata Mida.

Ketua Kelompok Perempuan Pulau Pari, Asmania, menegaskan pentingnya perlindungan wilayah kelola masyarakat pesisir dari ancaman kerusakan lingkungan.

“Pulau Pari adalah ruang hidup kami. Pemerintah perlu menghentikan perusakan mangrove dan memastikan perlindungan bagi pulau kecil serta hak masyarakat pesisir,” ujarnya.

Warga juga meminta Kementerian Kelautan dan Perikanan mengambil langkah lebih kuat untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Pulau Pari. Menurut mereka, kondisi lingkungan yang sehat menjadi penopang utama keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal.

“Bagi kami aksi menumbuhkan mangrove adalah aksi untuk jaga pulau. Pulau Pari adalah ruang hidup kami,” ujar Aas.

0 comments

    Leave a Reply