Tren Pencarian Kerja Setelah Libur Lebaran, Gaji Bukan Satu-satunya Faktor

IVOOX.id – Banyak perusahaan mengaitkan fenomena meningkatnya pencarian kerja setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dan libur Lebaran dengan perilaku karyawan yang berpindah kerja demi gaji lebih tinggi. Laporan terbaru Jobstreet by SEEK menunjukkan bahwa alasan di balik keputusan resign jauh lebih kompleks.
Talent Acquisition Manager Jobstreet by SEEK, Ria Novita, menjelaskan bahwa meskipun terjadi peningkatan pencarian kerja setelah Lebaran, angka pengunduran diri tidak setinggi yang kerap diasumsikan.
"Fenomena resign sesudah Lebaran ini memang terjadi, akan tetapi tidak dalam jumlah yang signifikan dibanding periode lainnya seperti akhir tahun atau setelah performance review yang biasanya berkaitan dengan promosi dan kenaikan gaji," jelas Ria kepada Ivoox.id Sabtu (28/3/2026).
Ia menambahkan, sebagian besar karyawan yang resign setelah Lebaran sebenarnya telah merencanakan keputusan tersebut jauh sebelumnya, namun menunggu pencairan THR agar hak mereka tetap terpenuhi.
"Bagi yang resign setelah Lebaran, biasanya dikarenakan mereka memang sudah berniat sejak jauh hari, namun masih menunggu pembayaran THR agar mendapatkan haknya secara penuh. Jadi, pengunduran dirinya baru dilakukan sesudah THR diterima," ujarnya.
Ria juga menegaskan bahwa pengunduran diri setelah menerima THR tetap sah secara etika dan regulasi selama karyawan mengikuti prosedur yang berlaku.
"Selama karyawan memenuhi ketentuan masa kerja dan mengikuti prosedur pengunduran diri yang berlaku di perusahaan—misalnya memberikan pemberitahuan sesuai notice period, menyelesaikan tanggung jawab dengan baik, dan mendukung proses serah-terima—resign setelah menerima THR pada dasarnya tetap dapat dipandang sebagai sesuatu yang sah dan etis," katanya.
Lebih jauh, laporan Workplace Happiness Index mengungkap bahwa meskipun 54 persen pekerja di Indonesia menganggap gaji lebih tinggi dapat meningkatkan kebahagiaan, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu loyalitas. Dua faktor utama yang memengaruhi kepuasan kerja adalah keseimbangan kehidupan kerja dan makna pekerjaan.
Karyawan yang merasa memiliki tujuan dalam pekerjaannya terbukti lebih bahagia dan cenderung bertahan lebih lama. Bahkan, pekerja yang bahagia memiliki peluang 24 persen lebih besar untuk memberikan kinerja ekstra bagi perusahaan.
Ria menilai, fenomena ini seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi perusahaan, bukan sekadar dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas tenaga kerja.
"Dari kacamata perusahaan, setiap keputusan resign pasti membawa konsekuensi, baik berupa waktu maupun biaya untuk rekrutmen dan pelatihan," ujarnya.
Menurutnya, perusahaan perlu memahami alasan di balik pengunduran diri karyawan serta memperbaiki aspek penting seperti jenjang karier, kompensasi, dan budaya kerja.
"Yang lebih penting bagi perusahaan adalah bagaimana memanfaatkan momen ini sebagai bahan evaluasi. Pahami alasan di balik keputusan resign, dan perbaiki aspek-aspek krusial seperti jenjang karier, kompensasi, hingga budaya kerja. Dengan menyeimbangkan gaji yang kompetitif serta membangun lingkungan kerja yang memiliki tujuan (purpose) dan work-life balance yang sehat, tingkat turnover ke depannya bisa menjadi lebih sehat dan tidak hanya terkonsentrasi di satu periode saja," kata Ria.


0 comments