TNI Terjunkan Ribuan Prajurit Tangani Kebakaran Hutan dan Lahan di Seluruh Indonesia

IVOOX.id – TNI mengerahkan 14.167 personel untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh Indonesia. Ribuan personel itu masih melakukan proses pemadaman hingga saat ini.
"Upaya yang dilakukan meliputi pemadaman, patroli, pemantauan, pencegahan, dan penanganan dampak karhutla sesuai dengan kondisi dan perkembangan situasi di masing-masing wilayah," kata siaran pers resmi Puspen TNI, Jumat (21 Agustus 2026), dikutip dari Antara.
Selama menjalankan tugas, personel TNI dibantu oleh petugas dari berbagai instansi mulai dari pemerintah daerah, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, hingga ragam instansi terkait lainnya.
Di sisi lain, TNI saat ini juga tengah menyiagakan seluruh satuan di daerah untuk memberikan dukungan penuh terhadap proses pemadaman api.
"Kesiapsiagaan dilakukan melalui penyiapan personel dan materiil, pemantauan wilayah, patroli serta koordinasi dengan unsur terkait, sehingga kekuatan TNI dapat digerakkan secara cepat dan tepat apabila sewaktu-waktu dibutuhkan dalam penanganan karhutla," kata siaran pers tersebut.
Dengan memaksimalkan dukungan dari satuan wilayah, TNI yakin proses pemadaman dapat dilakukan dengan lebih maksimal.
Pihak Mabes TNI juga memastikan ribuan personel dan satuan TNI di daerah itu akan terus dikerahkan hingga situasi di lokasi bencana karhutla kembali kondusif.
Terpisah, Kementerian Kehutanan mengerahkan sebanyak 12.880 personel gabungan dalam operasi pemadaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan yang kini telah memasuki hari ke-48 penanganan.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan Yudho Mustiko mengatakan bahwa operasi intensif tersebut melibatkan personel Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, TNI, Polri, BPBD, DLHK, pemerintah daerah, serta unsur masyarakat terkait.
"Operasi belum selesai. Pemadaman darat dan udara terus berjalan, terutama di lokasi yang membutuhkan penanganan panjang," kata Yudho dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (21/8/2026), dikutip dari Antara.
Dia menjelaskan bahwa khusus dari unsur Kemenhut, ada sebanyak 758 personel Manggala Agni dikerahkan di lapangan, terdiri atas 265 personel di Kalimantan Barat, 208 di Kalimantan Tengah, 174 di Kalimantan Selatan, dan 111 di Kalimantan Timur.
Kemenhut juga menyiagakan 45 personel Bantuan Kendali Operasi (BKO) dari Jawa, Sulawesi, dan Kalsel untuk memperkuat area rawan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Skema penanganan karhutla yang dilakukan secara terpadu itu memanfaatkan pemadaman darat, pembasahan lahan gambut, serta dukungan udara berupa patroli dan penyiraman air dari udara atau water bombing.
"Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca telah dilaksanakan sebanyak 45 kali penerbangan dengan menyemai 45 ton bahan semai guna merangsang pertumbuhan awan hujan," cetus Yudho.
Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menegaskan penanganan karhutla yang panjang ini berfokus pada perlindungan keselamatan warga serta efektivitas tim di garis depan, sekaligus mengimbau perusahaan dan masyarakat untuk memperketat penjagaan mencegah munculnya titik api baru.
Kemenhut mengkonfirmasi berdasarkan data sementara, total luas karhutla di Kalimantan mencapai puluhan ribu hektare, dengan rincian 38.319 hektare di Kalimantan Barat, 8.019 hektare di Kalimantan Selatan, 7.635 hektare di Kalimantan Tengah, 2.715 hektare di Kalimantan Timur, dan 400 hektare di Kalimantan Utara.
Memasuki pekan ketujuh operasi, Kemenhut menerapkan skema rotasi personel, pemeriksaan kesehatan rutin, penguatan logistik, serta pembuatan sumur bor darurat di sekitar lokasi kebakaran untuk mempermudah pasokan air pemadaman.
"48 hari operasi menunjukkan beratnya pekerjaan menghadapi karhutla namun semakin banyak kebakaran yang bisa kita cegah sejak awal, semakin kecil risiko yang harus ditanggung masyarakat dan lingkungan,” kata Dwi Januanto, dikutip dari Antara.
Kemenhut, menurut dia secara prinsip tekah menjalankan kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam menghadapi periode rawan karhutla dengan memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan kemampuan merespons kebakaran sejak dini.
Kerja Manggala Agni bersama MPA, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, sukarelawan, dunia usaha, dan masyarakat ini dinilai menjadi kekuatan penting untuk menjaga hutan sekaligus melindungi kesehatan, keselamatan, ruang hidup, dan aktivitas ekonomi masyarakat dari dampak kebakaran.
Lokasi Karhutla
Sementara itu, pemerintah memfokuskan penanganan karhutla di enam provinsi yang paling rawan, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
"Dari daerah yang kita waspadai sebagai daerah yang paling kritis ada enam provinsi yakni Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau," kata Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (10/8/2026), dikutip dari Antara
Menurut Djamari, enam provinsi tersebut menjadi perhatian karena memiliki kawasan lahan gambut yang rentan terbakar ketika kondisi kering pada musim kemarau dan diperparah pengaruh El Niño.
Selain enam provinsi tersebut, kebakaran juga terjadi antara lain di kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur, Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat, dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.
Pemerintah mengerahkan sekitar 43 helikopter untuk membantu pemadaman karhutla dari udara di berbagai wilayah terdampak.
"Kita mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed-wing juga bisa antara 10 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan," katanya.
Selain pemadaman melalui udara, pemerintah melakukan penanganan dari darat dengan menggunakan tangki fleksibel sebagai tempat penampungan air sementara untuk mendukung petugas di lapangan.
Djamari mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memastikan penanganan kebakaran berjalan secara terpadu.


0 comments