Target Ekspor Ekonomi Kreatif Turun Rp23 Triliun, Legislator Minta Pemerintah Beri Penjelasan Terbuka | IVoox Indonesia

10 Maret 2026

Target Ekspor Ekonomi Kreatif Turun Rp23 Triliun, Legislator Minta Pemerintah Beri Penjelasan Terbuka

Anggota DPR RI, Putra Nababan
Anggota DPR RI, Putra Nababan dalam rapat kerja bersama Kementerian Ekonomi Kreatif di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026). IVOOX.ID/doc DPR RI

IVOOX.id – Anggota DPR RI Putra Nababan menyoroti penurunan target kinerja sektor ekonomi kreatif pada 2026 yang dinilainya mencerminkan sikap pesimistis pemerintah. Ia menilai penurunan target tersebut berpotensi menimbulkan kekhawatiran publik apabila tidak disertai penjelasan yang terbuka dan komprehensif, terutama terkait dampaknya terhadap ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

Hal itu disampaikan Putra dalam rapat kerja bersama Kementerian Ekonomi Kreatif di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026). Ia menyoroti penurunan target nilai ekspor sektor ekonomi kreatif hingga Rp23 triliun serta berkurangnya target serapan tenaga kerja sebanyak 1,34 juta orang pada 2026.

“Saya agak khawatir dengan sikap pesimis ini. Target ekspor 2026 justru turun Rp23 triliun dan tenaga kerja berkurang 1,34 juta. Ini angka yang serius. Jangan sampai publik memaknainya seolah akan ada jutaan orang kehilangan pekerjaan pada 2026,” ujar Putra.

Menurutnya, dalam praktik dunia usaha dan perencanaan pembangunan, penetapan target kinerja seharusnya bersifat progresif dan meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, penurunan target yang ditetapkan pada awal tahun anggaran perlu dijelaskan secara utuh agar tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.

Putra juga mengingatkan capaian sektor ekonomi kreatif pada 2025 yang dinilainya cukup signifikan dari sisi penyerapan tenaga kerja. Ia menyebut sektor tersebut mampu menyerap sekitar 27 juta tenaga kerja dengan nilai ekspor mencapai 29,21 miliar dolar AS. Namun demikian, besarnya serapan tenaga kerja itu belum sepenuhnya sejalan dengan peningkatan kesejahteraan para pekerja.

“Kalau dihitung kasar, rata-rata pendapatan per orang hanya sekitar Rp16 juta per tahun. Artinya, meski tenaga kerja terserap besar, nilai ekonomi yang dibawa pulang masih sangat tipis. Ini harus menjadi perhatian serius,” kata Politisi Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Selain persoalan target dan kesejahteraan tenaga kerja, Putra juga menyoroti ketimpangan arah investasi di sektor ekonomi kreatif. Ia menilai aliran investasi saat ini lebih banyak mengalir ke subsektor yang tidak padat karya, seperti aplikasi dan digital, dibandingkan subsektor yang menyerap banyak tenaga kerja.

“Subsektor aplikasi itu low labour, pekerjanya sedikit. Berbeda dengan kuliner, fesyen, dan kriya yang menyerap banyak tenaga kerja. Tapi justru investasi besar mengalir ke sektor yang minim tenaga kerja,” ujar Legislator Daerah Pemilihan DKI Jakarta I tersebut.

0 comments

    Leave a Reply