Tanggapi Pidato Prabowo di Sidang Tahunan MPR, IESR Soroti Transisi Energi dalam Arah Pembangunan Nasional

IVOOX.id – Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai arah pembangunan nasional yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI perlu diselaraskan dengan agenda transisi energi, ketahanan energi, dan penguatan daya saing ekonomi jangka panjang Indonesia.
CEO IESR Fabby Tumiwa mengatakan, sejumlah agenda yang disampaikan pemerintah perlu diikuti dengan kebijakan yang konsisten dan indikator yang terukur. Hal itu termasuk kesiapan menghadapi fenomena El Niño yang diprediksi memiliki intensitas sangat kuat.
Menurut IESR, pernyataan kesiapan pemerintah menghadapi El Niño perlu diterjemahkan ke dalam rencana dan tindakan yang transparan. Peringatan terkait potensi kemarau panjang juga perlu menjadi dasar penguatan ketahanan energi, pangan, dan air.
IESR turut menyoroti kebijakan mandatori biodiesel B50 yang mulai diterapkan pada Juli 2026. Kebijakan pencampuran 50 persen biodiesel dengan solar tersebut disebut mampu menghemat devisa hingga Rp170 triliun atau sekitar US$9,5 miliar. Namun, IESR mengingatkan agar implementasinya ditinjau secara hati-hati karena berpotensi meningkatkan beban subsidi.
Selain itu, agenda hilirisasi seperti pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) untuk menggantikan LPG dan pembangunan smelter mineral dinilai perlu dikaji berdasarkan kontribusinya terhadap transisi energi. Tidak seluruh agenda hilirisasi otomatis sejalan dengan pembangunan rendah karbon.
IESR juga menilai penguatan tata kelola pasar karbon melalui Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) dan bursa karbon merupakan langkah penting untuk mendukung ekonomi hijau serta pembiayaan iklim. Namun, pengurangan emisi tetap harus menjadi tujuan utama, bukan sekadar aktivitas perdagangan karbon.
Di sektor kelautan, besarnya potensi ekonomi perikanan Indonesia juga perlu dikelola secara berkelanjutan. Sementara dalam pembangunan manusia, agenda pengentasan stunting, perbaikan sekolah, digitalisasi pembelajaran, serta penguatan layanan di wilayah 3T membutuhkan dukungan energi yang andal dan terjangkau.
Fabby menilai momentum pembangunan tersebut harus diarahkan menuju ekonomi rendah karbon dan ketahanan energi jangka panjang.
“Pertumbuhan ekonomi, penguatan industri, ketahanan pangan, pendidikan, dan kesehatan akan lebih kokoh bila ditopang oleh energi bersih yang andal dan terjangkau, tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan, serta perlindungan terhadap masyarakat dan ekosistem yang rentan,” ujar Fabby dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Sabtu (15/8/2026).
Menurut IESR, transisi energi perlu ditempatkan sebagai fondasi pembangunan, bukan sekadar pelengkap. Dengan demikian, manfaat pertumbuhan ekonomi saat ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan beban fiskal, emisi, dan kerusakan lingkungan bagi generasi mendatang.


0 comments