Tak Ingin Tradisi Hilang, Kampung Adat Cireundeu Perkuat Jejak Digital | IVoox Indonesia

June 23, 2026

Tak Ingin Tradisi Hilang, Kampung Adat Cireundeu Perkuat Jejak Digital

180626-Kampung Adat Cireundeu2_AI
ILUSTRASI - Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi, Jawa Barat mulai memperkuat promosi budaya, wisata, dan UMKM melalui website setelah mendapat pelatihan digital dari Telkom University. IVOOX.ID/AI

IVOOX.id – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang mengubah cara orang mencari informasi, sebuah kampung adat di Kota Cimahi, Jawa Barat memilih tidak hanya bertahan, tetapi juga bergerak maju.

Kampung Adat Cireundeu, yang selama ini dikenal sebagai penjaga tradisi pangan berbasis singkong dan kearifan lokal Sunda, kini mulai menapaki ruang digital melalui pengembangan website sebagai etalase budaya mereka kepada dunia.

Langkah itu bukan sekadar soal teknologi. Bagi masyarakat Cireundeu, website menjadi upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi muda sekaligus memperluas akses informasi bagi wisatawan, peneliti, hingga masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan kampung adat tersebut.

Kesadaran akan pentingnya transformasi digital inilah yang melatarbelakangi pelatihan penyusunan konten website yang digelar Telkom University melalui program KKN Tematik pada 10 Juni lalu. Kegiatan yang berlangsung di Kampung Adat Cireundeu itu melibatkan pengelola website serta para pelaku UMKM lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi dan budaya masyarakat setempat.

Banyak destinasi wisata dan kawasan budaya memiliki potensi besar, tetapi tidak semuanya mampu menjangkau publik secara luas. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan kanal informasi yang mudah diakses masyarakat.

Dosen Ilmu Komunikasi Telkom University, Haris Annisari, yang menjadi pemateri dalam pelatihan tersebut menegaskan bahwa website memiliki fungsi strategis sebagai pusat informasi digital yang dapat menyatukan berbagai informasi penting mengenai Kampung Adat Cireundeu.

Menurutnya, website bukan sekadar halaman internet yang berisi tulisan dan foto. Lebih dari itu, website merupakan "rumah digital" yang dapat menyimpan cerita, identitas, dan kekayaan lokal sebuah komunitas.

"Website merupakan rumah digital yang memuat berbagai informasi mengenai Cireundeu, mulai dari budaya, wisata, hingga produk lokal. Karena itu, kontennya perlu dikelola dengan baik agar mampu memberikan informasi yang lengkap dan menarik bagi pengunjung," ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Ivoox.id akhir pekan lalu.

Pernyataan tersebut menggambarkan tantangan baru yang dihadapi banyak komunitas budaya saat ini. Di satu sisi mereka harus menjaga nilai-nilai tradisional yang diwariskan turun-temurun, namun di sisi lain juga dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku masyarakat yang kini mengandalkan internet sebagai sumber informasi utama.

Pada pelatihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai elemen penting yang perlu ditampilkan dalam sebuah website destinasi wisata budaya. Mulai dari profil kampung adat, sejarah kawasan, kalender kegiatan budaya, informasi wisata, produk UMKM, hingga kontak dan akses lokasi.

Namun yang lebih penting dari sekadar mengisi halaman website adalah bagaimana menyusun konten yang mampu bercerita.

Peserta diajak memahami cara menghadirkan informasi yang informatif, menarik, dan mudah dipahami oleh pengunjung. Sebab dalam era persaingan informasi saat ini, konten yang baik bukan hanya memberikan data, tetapi juga mampu membangun pengalaman dan kedekatan emosional dengan pembacanya.

Kampung Adat Cireundeu mulai memperkuat promosi budaya, wisata, dan UMKM melalui website setelah mendapat pelatihan digital dari Telkom University. IVOOX.ID/dokumentasi

Kampung Adat Cireundeu mulai memperkuat promosi budaya, wisata, dan UMKM melalui website setelah mendapat pelatihan digital dari Telkom University. IVOOX.ID/dokumentasi

Diskusi berlangsung aktif. Warga dan pengelola website saling bertukar gagasan mengenai berbagai informasi yang layak ditampilkan kepada publik. Sejarah Kampung Adat Cireundeu, tradisi pangan berbasis singkong, produk batik lokal, kuliner khas, hingga berbagai potensi wisata budaya menjadi topik yang banyak dibahas.

Transformasi digital yang dilakukan Kampung Adat Cireundeu tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya. Di baliknya terdapat harapan besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui promosi wisata dan produk lokal.

Website yang dikelola secara profesional dapat menjadi media promosi yang bekerja selama 24 jam tanpa batas geografis. Wisatawan dari berbagai daerah dapat memperoleh informasi sebelum berkunjung, sementara calon konsumen dapat mengenal produk-produk UMKM yang dihasilkan masyarakat setempat.

Endah, salah seorang peserta pelatihan, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai pemanfaatan website sebagai sarana promosi digital.

Menurutnya, selama ini masyarakat memiliki banyak potensi yang belum sepenuhnya dikenal publik. Kehadiran website yang dikelola dengan baik diharapkan mampu menjembatani kebutuhan tersebut.

"Kegiatan ini sangat baik bagi kami. Banyak informasi baru yang dapat kami terapkan untuk mempromosikan Cireundeu melalui website," katanya.

Pernyataan itu mencerminkan optimisme masyarakat terhadap peluang yang dibawa oleh teknologi digital. Bagi mereka, website bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana untuk memperkuat identitas sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Pelatihan ini menjadi contoh bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran nyata dalam pengembangan masyarakat. Melalui pendidikan, pendampingan, dan transfer pengetahuan, kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pemberdayaan komunitas.

Di tengah tantangan globalisasi dan perubahan teknologi yang berlangsung cepat, kolaborasi semacam ini menjadi semakin penting. Budaya lokal membutuhkan ruang untuk terus hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi masa depan.

Bagi Kampung Adat Cireundeu, website mungkin hanyalah sebuah langkah awal. Namun dari ruang digital sederhana itu, tersimpan harapan besar agar cerita tentang kearifan lokal, ketahanan pangan berbasis singkong, serta identitas budaya yang mereka jaga selama puluhan tahun dapat terus bertahan dan menjangkau lebih banyak orang.

Karena pada akhirnya, menjaga budaya tidak selalu dilakukan dengan cara mempertahankan jarak dari teknologi. Terkadang, budaya justru bisa bertahan lebih lama ketika menemukan rumah barunya di dunia digital.

0 comments

    Leave a Reply