Sutradara: Semangat Pemuda di "Laut Bercerita" Relevan di Lintas Negara

IVOOX.id – Sutradara film "Laut Bercerita" Yosep Anggi Noen menilai semangat perlawanan dan cinta tanah air yang digambarkan melalui kelompok Winatra dalam film tersebut memiliki relevansi lintas negara dan lintas sejarah. Relevansi itu terlihat dari respons penonton internasional setelah film tersebut ditayangkan perdana di Busan International Film Festival.
"Kemarin waktu film ini ditayangkan perdana di Busan International Film Festival, tiba-tiba saya mendapatkan pesan langsung atau DM dari seseorang yang tidak saya kenal... dia menceritakan bahwa dirinya merasa sangat tersentuh dengan film ini karena kisahnya mengingatkan pada bagian dari sejarah masa lalunya sendiri pada tahun 1980-an di Korea saat ada pergerakan mahasiswa di Gwangju," tutur Anggi dalam konferensi pers menjelang gala perdana "Laut Bercerita" di bioskop kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026), dikutip dari Antara.
Anggi mengatakan, penonton dari Korea Selatan merasakan kedekatan emosional dengan kisah perjuangan anak muda dalam film tersebut karena mengingatkan mereka pada pengalaman sejarah di negara mereka sendiri.
Menurut Anggi, respons tersebut menunjukkan bahwa kisah tentang perjuangan, ketidakadilan, dan perlawanan anak muda dapat melampaui batas geografis maupun perbedaan latar belakang sejarah.
Ia menegaskan bahwa idealisme kaum muda merupakan salah satu kekuatan utama yang mendorong perubahan bangsa. Karena itu, semangat tersebut perlu terus dipelihara di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
"Jika berbicara mengenai relevansi terhadap realitas sekarang, fakta bahwa ketidakadilan masih ada di sekitar kita adalah hal yang paling buruk. Namun di balik keburukan situasi tersebut, kita harus melihat ada satu relevansi besar yang patut disyukuri, yaitu semangat kaum muda yang tidak pernah padam," pungkas Anggi.
Anggi mengaku sengaja membatasi penggunaan teknologi modern dalam latar film tersebut untuk menghadirkan suasana autentik akhir era 1990-an sekaligus memperkuat gambaran kerinduan antarkarakter.
Anggi menilai kemajuan teknologi komunikasi saat ini, seperti panggilan video dan pesan instan, dapat mengurangi intensitas kerinduan yang dialami seseorang ketika terpisah dari orang-orang terdekatnya. Kondisi tersebut berbeda dengan masa lalu ketika sarana komunikasi masih terbatas.
"Di masa sekarang, kerinduan bisa dengan mudah tereduksi melalui 'WhatsApp call', kirim-kiriman foto, atau panggilan video. Kita punya alat modern untuk mereduksi rasa rindu tersebut. Namun di zaman itu, sedikit sekali alat yang bisa membawa kita untuk sekadar menghapus rasa rindu," ungkapnya.
Melalui pembatasan unsur teknologi modern, tim produksi berupaya membangun atmosfer yang sesuai dengan periode waktu cerita sekaligus menghadirkan pengalaman emosional yang lebih mendalam bagi penonton.
Pendekatan tersebut juga dimaksudkan untuk menegaskan bahwa kehilangan dan kerinduan merupakan pengalaman kemanusiaan yang universal, yang dapat dirasakan siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu.
"Menyingkirkan teknologi masa kini di dalam set film adalah salah satu cara paling kuat bagi kami untuk bisa menghadirkan atmosfer kerinduan versi masa lalu secara mendalam," kata Anggi.
Produser film "Laut Bercerita" Wisnu Darmawan menyebut penggarapan film tersebut menghabiskan waktu sekitar sembilan tahun, sejak novel karya Leila S. Chudori pertama kali diterbitkan pada 2017.
"Ini memang sebuah perjalanan yang sangat panjang, tetapi menurut saya ini adalah proses yang memang harus dilalui karena tidak ada jalan yang instan. Sepanjang perjalanan sembilan tahun itu, kami terus berproses dan dipertemukan dengan teman-teman yang memiliki visi yang sama hingga pada akhirnya bisa bekerja sama mewujudkan film ini," ujar Wisnu dalam konferensi pers menjelang gala perdana "Laut Bercerita" di bioskop kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026), dikutip dari Antara.
Wisnu mengatakan perjalanan produksi film itu mencakup proses adaptasi novel ke dalam versi film pendek yang berdurasi kurang lebih 30 menit dan disutradarai Pritagita Arianegara hingga penyelesaian film panjang yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen.
Seluruh tahapan tersebut dijalani melalui kolaborasi berbagai pihak yang memiliki visi serupa untuk mewujudkan karya tersebut.
Menurut dia, proses panjang tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatif yang memungkinkan berbagai pihak saling bertemu dan membangun kerja sama hingga film itu dapat diwujudkan.
Produser Gita Fara menambahkan bahwa produksi "Laut Bercerita" melibatkan kerja kolektif berskala besar, mulai dari jajaran pemain senior hingga ratusan pemeran figuran yang terlibat dalam adegan demonstrasi.
Sejumlah aktor senior yang terlibat dalam film tersebut antara lain Christine Hakim dan Arswendy Bening Swara. Kehadiran para pemain berpengalaman serta banyaknya pemeran figuran menunjukkan besarnya dukungan dan kolaborasi yang dibutuhkan dalam proses produksi.
"Saya bisa katakan bahwa film ini adalah sebuah kerja kolektif yang sangat masif. Kolaborasi ini tidak hanya datang dari satu perusahaan produksi saja, karena ada banyak sekali kolaborator yang terlibat dan mendukung penuh karya ini," jelas Gita, dikutip dari Antara.
Aktor Reza Rahadian, pemeran Biru Laut, mengatakan film yang bercerita tentang pergerakan mahasiswa di tahun 90-an itu masih relevan dengan era pergerakan masa kini yakni sama-sama menggemakan harapan.
"Saya selalu yakin bahwa kita tidak bisa berhenti untuk bertumpu pada harapan. Hal itu karena pada akhirnya, salah satu hal paling berharga yang bisa kita pegang teguh adalah harapan itu sendiri. Film ini turut menggemakan harapan-harapan tersebut. Sebuah harapan pada kekuatan suara-suara anak muda, serta harapan pada bagaimana sikap kritis mereka dalam melakukan berbagai macam hal," kata Reza, dikutip dari Antara.
Baginya, keberadaan anak muda yang terus menyuarakan persoalan publik menjadi alasan untuk tetap optimistis tentang masih adanya harapan, bahkan ketika Indonesia memiliki pengkhianat dalam sejarah pergerakan mahasiswa.
“Bagi saya pribadi, selama masih ada anak-anak muda yang terus konsisten menyuarakan hal-hal penting demi kebaikan, maka di saat yang bersamaan — apa pun kondisi berat yang mungkin sedang kita hadapi hari ini dari berbagai macam aspek — kita tetap bisa yakin bahwa kita masih memiliki harapan yang baik untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik ke depan,” kata Reza.
Reza mengatakan, tema pengkhianatan yang diramu oleh sutradara film "Laut Bercerita" Yosep Anggi Noen tetap relevan dengan penonton masa kini, meski dibuat untuk merefleksikan dinamika gerakan dan perlawanan pada masa lalu, terutama di akhir era 90-an.
Pengkhianatan, kata dia, adalah hal yang paling mematahkan hati dalam hubungan antarsesama manusia, baik dalam kehidupan sehari-hari, persahabatan, maupun lingkungan kerja. Luka dan memori akibat pengkhianatan tersebut, menurut dia, memerlukan waktu yang sangat lama untuk sembuh.
"Bahwa hal yang paling mematahkan perasaan, baik kita sebagai manusia dalam hubungan kita dengan manusia lain dalam keseharian, persahabatan, lingkungan kerja, dan lain-lain, adalah pengkhianatan," ujar Reza.
Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang yang dianggap dekat, bersahabat, serta memiliki visi perjuangan dan nilai-nilai yang sama kemudian melakukan pengkhianatan, hal itu menjadi ujian yang sangat berat bagi individu manapun.
Reza juga mengungkapkan keterlibatannya dalam proyek "Laut Bercerita" telah dimulai sejak pembuatan versi film pendek yang diproduksi untuk peluncuran novel tersebut. Proyek awal itu melibatkan Leila S. Chudori, Gita Fara, Wisnu Darmawan, dan Dian Sastrowardoyo, sebelum kisah tersebut dikembangkan menjadi film panjang.
Perjalanan itu membuat Reza dapat menyaksikan perkembangan proyek hingga akhirnya hadir dalam format film panjang. Menurut dia, kisah yang diangkat tetap relevan untuk mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya harapan, keberanian bersikap kritis, dan peran generasi muda dalam mendorong perubahan.
Aktor Iswadi Pratama yang memerankan karakter Mata Merah di film "Laut Bercerita", menyoroti perannya yang dinilai berhasil menghadirkan teror psikologis yang intens bagi penonton saat gala perdana film tersebut di bioskop kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.
"Saya ingin membuka tanggapan ini dengan mengutip pemikiran Bertrand Russell, bahwa penyakit terbesar dari peradaban dunia adalah ketika terlalu banyak orang bodoh yang sangat yakin, sementara terlalu banyak orang pintar yang justru ragu-ragu," ujar Iswadi di lokasi, Selasa (20/102/2026), dikutpi dari Antara.
Iswadi Pratama memberikan ulasan filosofis mengenai dimensi kejiwaan dari karakter Mata Merah yang lekat dengan simbol kekejaman sebuah rezim. Kehadiran karakternya di dalam film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori ini sebagai pengingat krusial bagi publik mengenai bahaya laten dari sebuah otoritarianisme.
Menurutnya, untuk menghayati peran Mata Merah, ia harus meruntuhkan rasa kemanusiaannya sendiri guna menyelami bagaimana seorang manusia bisa merasa menang dan divalidasi eksistensi hidupnya hanya dengan cara menyiksa dan mematikan orang lain. Meskipun memegang porsi karakter yang kelam, dia menegaskan bahwa komposisi para tokoh kritis yang bersatu di atas panggung memberikan pesan optimisme yang kuat.
"Film dan novel ini memberitahu kita bahwa sesungguhnya kegelapan itu tidak pernah eksis. Bahkan dalam ilmu fisika pun kegelapan tidak ada; ia ada hanya karena tidak hadirnya cahaya. Dan bagi kita semua, film Laut Bercerita ini adalah salah satu cahaya tersebut," papar Iswadi, dikutip dari Antara.
Rumah produksi Pal8 Pictures menggelar konferensi pers perdana film panjang "Laut Bercerita" setelah tampil di Busan International Film Festival, Korea Selatan.
Acara yang dihadiri oleh seluruh jajaran sineas, produser, sutradara, serta para pemeran ini menjadi ruang refleksi mendalam mengenai nilai kemanusiaan, sejarah pergerakan mahasiswa era 90-an, hingga rincian proses kreatif di balik layar.
"Film ini memang mengisahkan berbagai hal tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu, terutama di akhir era 90-an. Namun, di balik peristiwa tersebut, ada manusia, ada orang-orang, serta ada keluarga yang sebetulnya merupakan inti utama dari cerita ini. Kisah tentang keluarga Laut adalah cerita tentang kita semua, karena narasi tentang kemanusiaan itu tidak pernah mengenal batas geografis maupun waktu," kata produser Budi Setyarso, dikutip dari Antara.
"Laut Bercerita" adalah film drama keluarga menegangkan tentang aktivis yang dihilangkan selama pergerakan mahasiswa di akhir era 1990-an, diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Leila S. Chudori, "Laut Bercerita".
Skenario film juga ditulis oleh Yosep Anggi Noen bersama Leila S. Chudori dengan melibatkan jajaran pemeran antara lain Reza Rahadian, Yunita Siregar, Eva Celia, Christine Hakim, Arswendy Bening Swara, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Kevin Julio, Ben Nugroho, Dewa Dayana, Nagra Kautsar, Ibnu Jamil, Natalius Chendana, dan Afrian Arisandy.
Film yang diproduseri oleh Gita Fara, Leila S.Chudori, Wisnu Darmawan dan Budi Setyarso itu dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026.


0 comments