Survei: 65 Persen Pekerja Indonesia Masih Nikmati Kenaikan Gaji di Tengah Tekanan Inflasi

IVOOX.id – Mayoritas pekerja di Indonesia masih mencatatkan kenaikan gaji di tengah tekanan inflasi yang mendorong kenaikan harga berbagai barang dan jasa. Temuan itu terungkap dalam survei terbaru Jobstreet by SEEK bertajuk Salary Pulse 2026 yang memotret dinamika kompensasi pekerja di Tanah Air sepanjang tahun lalu.
Survei tersebut menunjukkan sebanyak 62 persen pekerja di Indonesia mengalami kenaikan gaji. Dari kelompok tersebut, mayoritas atau 71 persen memperoleh kenaikan upah tanpa berpindah jabatan. Rinciannya, 45 persen menerima kenaikan berbasis kinerja, 30 persen karena kebijakan perusahaan secara keseluruhan, dan 22 persen melalui negosiasi individu. Sementara itu, 14 persen responden mendapatkan kenaikan gaji setelah memperoleh promosi jabatan.
Riset yang melibatkan 1.010 profesional berusia 18 hingga 64 tahun pada Februari 2026 itu juga mencatat bahwa besaran kenaikan gaji yang diterima pekerja relatif beragam. Sebanyak 45 persen responden memperoleh kenaikan hingga 5 persen, 39 persen menerima kenaikan pada kisaran 6–10 persen, dan 16 persen lainnya menikmati kenaikan di atas 10 persen.
Managing Director Jobstreet Indonesia, Wisnu Dharmawan, menilai tren tersebut menunjukkan bahwa kenaikan gaji yang diterima sebagian pekerja masih cukup untuk mengimbangi laju inflasi. Menurut dia, hal itu terlihat dari besarnya proporsi pekerja yang menerima kenaikan upah di atas tingkat inflasi nasional yang masih berada di bawah 5 persen.
“Jadi, sebenarnya bagi yang mengalami kenaikan gaji, itu cukup besar (jumlah) karyawan yang masih mengalami kenaikan gaji di atas inflasi pada tahun 2025 kemarin,” ujar Wisnu saat ditemui di Jakarta, Selasa, (23/6/2026).
Tak hanya soal kenaikan gaji, survei itu juga mengungkap strategi pekerja ketika permintaan kenaikan upah tidak dikabulkan perusahaan. Sebanyak 28 persen responden memilih meminta tambahan benefit seperti tunjangan, bonus, fasilitas makan siang, fasilitas kesehatan, tunjangan transportasi, hingga opsi work from home sebagai kompensasi tambahan.
Menurut Wisnu, manfaat non-gaji tersebut dapat menjadi bantalan penting bagi pekerja di tengah tekanan biaya hidup. Ia juga menilai situasi inflasi justru bisa menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi pekerja saat bernegosiasi dengan perusahaan mengenai penyesuaian gaji.
Temuan survei menunjukkan sebanyak 58 persen pekerja merasa nyaman mendiskusikan kenaikan gaji, 64 persen pernah mengajukannya secara langsung, dan 83 persen di antaranya berhasil memperoleh kenaikan upah setelah negosiasi dilakukan.
“Jadi, kalau dari riset ini sarannya, dibicarakan dulu secara internal di perusahaan soal kenaikan gaji dibanding langsung buru-buru untuk mencari alternatif lain di perusahaan lain,” kata Wisnu.
Ia menambahkan, pekerja sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan nominal gaji semata, tetapi juga melihat prospek jangka panjang seperti reputasi perusahaan dan peluang pengembangan keterampilan. “Skill development itu bisa meningkatkan value dari karyawan itu sendiri. Sehingga, dalam jangka panjang, value-nya akan lebih tinggi, baik untuk internal company atau individu karyawan jika perlu mencari pekerjaan lainnya,” ujarnya.
Gen Z Paling Berani Negosiasi Gaji
Laporan terbaru bertajuk Salary Pulse 2026 yang memotret dinamika pengupahan pekerja di Indonesia sekaligus mengungkap perubahan perilaku tenaga kerja dalam menyikapi kompensasi. Survei yang dilakukan pada Februari 2026 terhadap 1.010 profesional berusia 18–64 tahun itu menunjukkan Generasi Z menjadi kelompok paling proaktif dalam memulai diskusi kenaikan gaji dengan perusahaan.
Dalam laporan tersebut, sebanyak 60 persen pekerja Gen Z di Indonesia mengaku pernah memulai pembicaraan atau negosiasi gaji dengan atasan maupun tim sumber daya manusia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Generasi Y atau milenial yang berada di level 55 persen, serta Generasi X yang hanya mencapai 37 persen. Temuan ini memperlihatkan adanya pergeseran pola komunikasi dalam dunia kerja, di mana generasi muda dinilai lebih terbuka menyampaikan ekspektasi kompensasi kepada perusahaan.
Managing Director Jobstreet Indonesia, Wisnu Dharmawan, menilai keberanian Gen Z dan Gen Y tidak lepas dari perubahan zaman yang membuat akses informasi semakin terbuka. Menurut dia, generasi yang tumbuh di era digital cenderung lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat, termasuk saat membahas soal gaji.
“Lebih banyak juga mungkin mengemukakan pendapat. Lahir di era yang sudah demokratis juga gitu, dan bisa dikomunikasikan secara offline, online, segala macam. Dengan informasi yang banyak, maka lebih tidak sungkan gitu ya,” ujar Wisnu.
Selain faktor keterbukaan informasi, Wisnu menilai tahap kehidupan juga memengaruhi keberanian seseorang dalam bernegosiasi. Menurutnya, Gen X cenderung lebih berhati-hati karena dibentuk oleh situasi masa lalu yang berbeda, termasuk ketika akses terhadap informasi dan diskusi soal kompensasi belum sefleksibel saat ini.
“Ditambah juga barangkali mereka (Gen X) merasa sudah cukup atau selesai dengan segala urgensi kebutuhan hidup, seperti anak yang sudah dewasa dan sebagainya. Berbeda dengan Gen Z dan Y yang baru merajut kehidupan finansialnya,” katanya.
Meski paling aktif memulai negosiasi, tingkat kepuasan terhadap kelayakan gaji di kalangan Gen Z dan Gen Y justru sama, yakni 49 persen. Sementara itu, pada kelompok Gen X, hanya 41 persen yang merasa gaji mereka sudah sesuai. Data ini menunjukkan bahwa tingkat penghasilan yang lebih tinggi tidak selalu sejalan dengan rasa puas terhadap kompensasi yang diterima.


0 comments