Subuh di Al-Aqsa dan Hangatnya Solidaritas Jamaah
Subuh di Al-Aqsa dan Hangatnya Solidaritas Jamaah
IVOOX.id - Pukul 04.30 waktu Yerusalem atau Al-Quds, sebagaimana warga Palestina menyebutnya, langit masih gelap dan udara menggigit. Layar gawai menunjukkan suhu 3 derajat Celsius. Angin dini hari berembus tajam, menyusup ke sela-sela pakaian, membuat setiap hela napas terasa beruap. Langkah kaki memecah keheningan, bergema di atas bebatuan licin kawasan di Kota Tua Yerusalem.
Batu-batu tua itu seakan menyimpan ribuan kisah yang tak lekang oleh waktu, doa-doa yang pernah dilantunkan, air mata yang pernah jatuh, dan jejak-jejak sejarah yang terus hidup dalam ingatan. Lorong-lorong sempit masih lengang, hanya terdengar derap para jamaah yang berjalan cepat menuju satu tujuan, yaitu Al-Haram al-Sharif, kompleks suci yang dimuliakan.
Sebelum memasuki kawasan kota tua, seorang warga Palestina yang mendampingi kami berpesan pelan agar tidak mengenakan atribut Palestina. “Lebih aman,” katanya singkat. Nasihat itu bukan tanpa alasan. Di gerbang masuk menuju kompleks Masjid Al-Aqsa, pemeriksaan oleh tentara Israel (IDF) kerap berlangsung ketat. Di tempat ini, ibadah dan kewaspadaan berjalan beriringan.
Kami melintasi Bab al-Hitta, salah satu pintu menuju kompleks suci tersebut. Di hadapannya, berdiri megah Dome of the Rock dengan kubah emasnya yang temaram diterpa cahaya subuh. Meski langit masih gelap, bangunan itu tetap memancarkan keagungan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Beberapa jamaah berwudhu di pelataran. Air dingin menyentuh kulit tanpa keluhan, seolah rasa dingin tak lagi berarti di hadapan panggilan iman.
Jamaah laki-laki kemudian melangkah menuju Masjid Qibli, bangunan berkubah timah di sisi selatan kompleks. Di sanalah shalat utama didirikan, di tempat yang pernah menjadi kiblat pertama umat Islam.
Memasuki ruang dalam masjid, aroma karpet tua yang bersih bercampur samar dengan wangi minyak zaitun. Di salah satu sudut, tersedia roti ka’ak (roti wijen khas Yerusalem), serta teh panas beraroma mint yang kuat. Kepulan uapnya menjadi penawar dingin, sekaligus simbol keramahan yang tak pernah padam.
Tak lama kemudian, takbir pertama berkumandang. Dalam sekejap, dunia di luar sana seakan menguap. Suara imam melantunkan ayat-ayat Al Quran dengan tartil yang tenang dan mendalam. Sesekali terdengar isak tangis tertahan dari barisan jamaah. Tangis yang lahir dari harap, rindu, dan keyakinan. Di tempat ini, doa terasa lebih berat, namun juga lebih khusyuk.
Usai salam, jamaah saling berjabat tangan dan bertukar senyum hangat. Beberapa duduk membentuk halakah kecil, melanjutkan dzikir dan tilawah. Lalu hidangan sederhana dibagikan untuk disantap bersama, menghadirkan keakraban yang tulus di tengah segala keterbatasan.
Perlahan, cahaya pagi menyingsing dari arah Bukit Zaitun (Mount of Olives). Sinar matahari menyentuh kubah emas dan batu-batu putih Yerusalem, memantulkan cahaya lembut yang menutup waktu subuh dengan keindahan yang nyaris sempurna.
Di Masjid Al-Aqsa, shalat Subuh bukan sekadar rutinitas. Ia menjadi simbol keteguhan iman dan solidaritas. Berdiri di tanah para nabi, di tempat Rasulullah SAW diyakini pernah mengimami para rasul dalam peristiwa Isra Miraj, membuat setiap gerakan terasa sarat makna. Di sana, di antara dingin yang menusuk dan cahaya yang perlahan merekah, iman terasa begitu dekat dan nyata.
Foto & teks: Muhammad Adimaja
Editor: R. Rekotomo


0 comments