Pembangunan Data Center di Jatiluhur, Ekonom Indef: Gubernur Jabar Merusak Iklim Investasi

IVOOX.id – Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai Indonesia tengah menghadapi peluang besar untuk menarik investasi pusat data atau data center. Namun, peluang tersebut dinilai dapat terhambat apabila pemerintah daerah menerapkan kebijakan yang tidak memberikan kepastian bagi investor.
Didik menyebut minat investasi data center ke Indonesia mencapai sekitar Rp360 triliun. Sejumlah wilayah yang menjadi sasaran investasi antara lain Batam, Jawa Barat, Madura, dan Bali.
Menurutnya, besarnya minat investor menjadi peluang strategis bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam persaingan investasi teknologi di kawasan Asia Tenggara. Terlebih, Indonesia telah memiliki ekosistem awal dengan sekitar 182 data center yang beroperasi, dengan konsentrasi terbesar berada di Jakarta dan Batam.
Khusus Batam, investasi data center diperkirakan mencapai US$15-20 miliar dengan target kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt. Pertumbuhan ekonomi Batam yang disebut mencapai sekitar 7 persen juga dinilai dapat menjadi modal bagi daerah tersebut untuk berkembang sebagai pusat industri data center.
Namun, Didik menyoroti kondisi di Jawa Barat. Menurutnya, penghentian pembangunan data center oleh pemerintah daerah dengan alasan lingkungan, pasokan air, dan sejumlah pertimbangan lain berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap kepastian berusaha di Indonesia.
Didik mengingatkan pemerintah agar tidak mengulangi kesalahan kebijakan pada era 1980-an ketika Indonesia kehilangan peluang besar dalam industri semikonduktor.
Ia menyebut perusahaan teknologi seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto pernah membangun basis perakitan chip di Jakarta dan Bandung. Namun, konflik kebijakan mengenai otomatisasi produksi pada 1985 membuat investasi tersebut akhirnya berpindah ke Penang, Malaysia.
Indonesia yang sebelumnya memimpin industri semikonduktor di Asia Tenggara kemudian kehilangan momentum. Saat ini, Malaysia disebut menguasai sekitar 13 persen pangsa pasar global untuk aktivitas pengujian, perakitan, dan pengemasan chip.
Didik menilai pengalaman tersebut harus menjadi pelajaran dalam menyikapi investasi data center.
“Gubernur Jabar merusak iklim investasi,” tulis Didik dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Minggu (4/10/2026).
Ia meminta pemerintah pusat segera mengantisipasi kebijakan pemerintah daerah yang berpotensi menjadi hambatan investasi. Menurutnya, kepastian regulasi dan sikap ramah investasi menjadi faktor penting untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan industri data center.
Batam, kata Didik, memiliki peluang menjadi hub data center kawasan karena Singapura mulai menghadapi keterbatasan lahan dan energi. Peluang itu diperkuat oleh besarnya pasar ekonomi digital Indonesia serta rencana ekspansi sejumlah perusahaan teknologi global.
Didik juga menyebut kapasitas data center nasional diproyeksikan melampaui 2.000 MW pada 2030, dengan permintaan yang tumbuh sekitar 16,8 persen per tahun berdasarkan proyeksi Bank Dunia.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan peluang investasi tersebut tidak kembali hilang akibat kebijakan yang menciptakan ketidakpastian. Pengalaman industri semikonduktor pada masa lalu, kata dia, seharusnya menjadi peringatan agar Indonesia tidak kembali kehilangan momentum investasi strategis.


0 comments