SMBC Indonesia Economic Forum 2026 Soroti Pentingnya Stabilitas dan Investasi Berkelanjutan | IVoox Indonesia

May 23, 2026

SMBC Indonesia Economic Forum 2026 Soroti Pentingnya Stabilitas dan Investasi Berkelanjutan

Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar
Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan Republik Indonesia Herman Saheruddin (tengah), bersama Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar (dua kiri), Wakil Direktur Utama SMBC Indonesia Michellina Laksmi Triwardhany (kiri), Komisaris Utama SMBC Indonesia Chow Ying Hoong (tiga kanan), dan Wakil Direktur Utama SMBC Indonesia Jun Saito (dua kanan), di SMBC Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026). IVOOX.ID/doc Bank SMBC

IVOOX.id – PT Bank SMBC Indonesia Tbk kembali menyelenggarakan SMBC Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta, 19 Mei 2026. Mengusung tema “Resilience in a Shifting Global Landscape”, forum tersebut membahas pentingnya strategi adaptif dan investasi berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global.

Direktur Utama PT Bank SMBC Indonesia Tbk, Henoch Munandar, mengatakan sektor perbankan memiliki peran penting dalam memperkuat resiliensi ekonomi melalui intermediasi keuangan dan dukungan terhadap investasi jangka panjang.

“Kami melihat pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi di era yang penuh ketidakpastian, sembari memastikan momentum pertumbuhan tetap terjaga. Di tengah dinamika global, hal ini membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor publik dan swasta,” kata Henoch dalam keterangannya.

Ia berharap forum tersebut dapat menjadi ruang dialog konstruktif antar pemangku kepentingan untuk memperkaya perspektif dalam menghadapi tantangan ekonomi ke depan.

Di tengah tantangan global seperti ketegangan geopolitik, fluktuasi nilai tukar, hingga tekanan fiskal, Indonesia dinilai perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional. Dalam konteks tersebut, sinergi pemerintah, sektor keuangan, dan dunia usaha disebut menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru.

Head of Economics Portfolio Alignment and Sustainability Danantara Indonesia, Masyita Crystallin, menilai Indonesia memiliki sejumlah instrumen strategis untuk menghadapi perubahan arsitektur perdagangan global dan volatilitas ekonomi dunia.

“Fokus Danantara saat ini mencakup beberapa sektor strategis, yaitu mineral, digital energy, digital infrastructure, health care, financial service, kemudian infrastructure utility, industrial asset, food and industry. Poin terpenting, Danantara tidak hanya berfokus pada dampak ekonomi nasional dan menghasilkan imbal hasil yang berkelanjutan, tetapi juga bergerak aktif berdasarkan peluang investasi yang tersedia,” ujar Masyita dalam keynote speech.

Sementara itu, Distinguished Fellow Asia Research Institute National University of Singapore, Kishore Mahbubani, menilai kekuatan kolektif kawasan ASEAN menjadi faktor penting dalam menghadapi persaingan geopolitik global.

“Menghadapi persaingan geopolitik, akan sulit bagi kita jika harus bergerak sendiri-sendiri. Namun secara kolektif, jika seluruh negara anggota ASEAN bersatu dan menyampaikan pesan yang sama maka dampaknya akan jauh lebih kuat,” ujarnya.

Ekonom senior Raden Pardede juga menekankan pentingnya transformasi ekonomi nasional berbasis teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Transformasi ekonomi harus bergerak dari agriculture ke manufacturing, lalu ke services, dan pada saat yang sama diiringi peningkatan produktivitas serta kualitas SDM,” katanya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menilai kepastian kebijakan menjadi faktor utama yang dibutuhkan pelaku usaha dan investor.

“Yang paling rasional bagi dunia usaha adalah kepastian. Dunia usaha tidak bisa diberikan ketidakpastian dan volatilitas, yang mereka butuhkan adalah arah kebijakan yang jelas, angka, dan data,” ujarnya.

Forum tersebut juga menghadirkan diskusi mengenai prospek pasar obligasi dan saham Indonesia pada 2026 bersama Lilis Setiadi dari PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen dan Arief Wana dari PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. Keduanya menilai pasar keuangan Indonesia masih memiliki prospek positif meski volatilitas global tetap perlu diantisipasi melalui strategi investasi yang lebih selektif dan defensif.

0 comments

    Leave a Reply