“Sexy Killers”, Ungkap Sisi Gelap Industri Batubara dan Pembangunan PLTU

Foto: Youtube Watchdog Image

IVOOX.id, Banjarmasin – Sebuah film dokumenter, Sexy Killers, kini tengah merambah di Tanah Air. Film dokumenter produksi WatchdoC Documentary yang merupakan karya kolaborasi Ekspedisi Indonesia Biru melibatkan 13 videografer, 5 pilot drone, dan 2 underwater fotografer itu telah diputar serentak, setidaknya di 17 kota di Indonesia.

Pemutaran atau nonton bareng (Nobar) dilangsungkan antara 5 – 13 April 2019. Tak heran jika demam  menonton bareng film Sexy Killer mulai merambah kalangan intelektual kampus, aktivis lingkungan, hingga komunitas urban.

Film dokumenter garapan Watchdoc ini dinilai menjadi tontonan bermutu dalam mengungkap sisi gelap industri tambang batubara dan pembangunan PLTU di Indonesia. Film yang dihasilkan dua jurnalis Dandy Dwi Laksono dan Ucok Suparta, setelah setahun mengelilingi Indonesia sejak 1 Januari-Desember 2015 ini merupakan film produksi Watchdoc ke-12, lanjutan dari film-film sebelumnya seperti Samin vs Semen (2015), Kala Benoa (2015), The Mahuzes (2015) dan Asimetris (2018).

Sexy Killers menampilkan adanya keterlibatan para pejabat dan purnawirawan di sektor pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit. Mereka terlibat secara aktif sebagai direksi, komisaris, pemilik saham, dan sebagainya. Keterlibatan para pejabat ini secara tidak langsung menjadi alasan mengapa pemerintah seakan tidak menunjukkan komitmen yang kuat. Kondisi itu setidaknya juga tercermin di Provinsi Kalimantan Selatan.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Selatan, Kisworo Dwi Cahyono menanggapi kehadiran Sexy Killers membuka mata khalayak bahwa industri tambang batu bara memang lebih membawa dampak buruk kepada masyarakat.

Di Kalsel, ia menyinggung soal maraknya pertambangan dan industri kelapa sawit, khususnya di areal Pegunungan Meratus. Sesuai data, Walhi Kalsel mencatat dua industri skala besar tersebut sudah merambah setengah lahan wilayah provinsi seluas 37.530,52 km². Kata Kisworo, setengah wilayah Kalsel yang sudah rusak ini tentu menjadi masalah jika seluruh elite politik juga masuk dalam oligarki tambang batubara.

“Artinya, alih-alih mendapatkan peluang, masyarakat Kalsel justru cuma memperoleh ancaman kerusakan lingkungan hidup jika penguasa,” ucap Cak Kiss, sapaan akrab aktivis lingkungan ini.

Apalagi, bisnis pertambangan batu bara memang selalu bikin ‘silau’ mata para pengusaha. Namun, tidak untuk masyarakat yang terdampak. Alih-alih dapat untung, warga sekitar justru banyak merugi.

Potret muram inilah yang coba digambarkan dalam film dokumenter Sexy Killers ini. Pada film ini,  jurnalis Dandhy Dwi Laksoso dan Suparta mencoba menghubungkan bagaimana para elite politik Indonesia saling bekerjasama dalam bisnis pertambangan batu bara. Serta bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia mencari energi terbarukan seperti penggunaan solar cell system.

Melalui film dokumenter Sexy Killers ini diharapkan akan membuka mata kaum urban yang selama ini menikmati aliran listrik dari PLTU penuh konflik dan intrik dalam mendapatkan bahan bakunya berupa batubara.

Listrik Indonesia kurang lebih 50% di topang dari PLTU yang bersumber dari bahan batubara hal ini terjadi karena batubara adalah bahan baku pembangkit listrik termurah dibandingkan dengan minyak bumi, gas, angin maupun panel surya. Kondisi inilah yang memicu maraknya pertambangan batubara, seperti di Kalimantan khususnya Kalimantan Timur. Padahal pertambahan membawa dampak negatif ke lingkungan sekitar. (luthfi ardi)