Setiap Hari Ada 100 Kasus di Indonesia, Dokter Jelaskan Cara Cegah Kanker Serviks

IVOOX.id – Kanker serviks merupakan kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia, selain kanker payudara. Jumlah per hari di Indonesia mencapai 100 kasus dan ada juga cukup banyak kasus meninggal.
Menurut dokter spesialis OB-GYN RS Immanuel Bandung, dr. Inggrid Olyvia Nababan, Sp.OG, berdasarkan data nasional, setiap jam ada dua wanita yang meninggal karena kanker serviks.
"Jadi jangan takut untuk melakukan skrining, untuk melakukan vaksin. Baik yang sudah menikah pun yang belum, juga tidak ada masalah untuk melakukan vaksin sejak awal. Tujuannya untuk mencegah kanker serviks," terang Inggrid dalam acara Bincang Sehat Seputar Kesehatan RS Immanuel, Senin (18/5/2026).
Inggrid menerangkan kanker serviks merupakan salah satu kanker yang sebenarnya bisa dicegah. Sayangnya, sering kali banyak individu yang tidak menaruh perhatian lebih atau mungkin tidak berani untuk menjalani vaksinasi maupun melakukan skrining.
Inggrid menjelaskan, vaksinasi merupakan kategori pencegahan primer dan pencegahan sekunder dengan melakukan skrining.
"Jadi, kalau pencegahan primer itu, kita lakukan dengan cara pemberian vaksin. Kayak vaksin HPV gitu ya, sekarang bahkan sudah dilakukan sejak usia sekolah di berbagai program usia 9-14 tahun sampai usia remaja," sebut Inggrid.
Cara pencegahan lainnya adalah dengan memberikan pendidikan seksual kepada remaja. Dengan menjelaskan tentang pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi dan kesehatan seksual secara terperinci.
Sedangkan pencegahan sekunder dengan skrining, Inggrid menyebut dapat dilakukan dengan menjalani pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA), Pap Smear, COT dan HPV DNA.
"Malah sebenarnya program vaksin itu tidak hanya untuk wanita, tapi juga untuk pria. Karena pria sendiri pun bisa terinfeksi HPV dan menjadi keganasan juga gitu," sebut Inggrid.
Penyebab Kanker Serviks
Inggrid menuturkan penyebab terbesar kanker serviks yakni virus HPV 16-18. Pemicu selebihnya disebabkan oleh hal lain, walaupun sangat jarang terjadi.
Misalnya, karena adanya paparan bahan karsinogenik seperti merokok, adanya mutasi genetik spontan, dan faktor imun.
"Mungkin imunnya lagi kondisinya rendah atau ada peradangan kronis dalam waktu lama sehingga dapat terjadi perubahan sel. Tapi kasusnya sangat jarang, kebanyakan memang betul karena virus HPV tadi," ucap Inggrid.
Inggrid menyebut penularan virus HPV disebabkan oleh hubungan seksual sebesar 70-80 persen, bisa genital to genital dan genital to oral. Sedangkan faktor lain pemicu penularan virus HPV yang sangat jarang terjadi yaitu adanya sentuhan kulit yang terinfeksi.
"Kemudian juga ada transmisi dari ibu ke janin juga bisa. Kemudian diduga dari benda-benda seperti misalnya alatnya terkontaminasi. Kemudian kalau seperti kayak handuk dan sebagainya itu memang lebih jarang karena memang virus HPV sendiri kalau di luar sel inang memang dia terbatas untuk jangka hidupnya," terang Inggrid.
Namun, agar terhindar dari paparan virus HPV, Inggrid menyarankan agar mewaspadai beberapa gejala yang berpeluang terjadinya kanker serviks. Pasalnya, kata Inggrid, kanker serviks pada awalnya gejalanya tidak terpantau sama sekali sehingga memerlukan kewaspadaan setiap individu.
"Jadi memang kanker serviks sendiri sering kali pada stadium awal itu tidak bergejala. Jadi kebanyakan datang ke poli sudah bergejala dan stadiumnya, stadiumnya sudah lanjut gitu," ungkap Inggrid.
Sering kali saat wanita mengalami keputihan atau keluar darah, tapi dianggapnya mungkin hal biasa. Sayangnya sebut Inggrid, hal itu keluhan yang sering terjadi tersebut tidak dilakukan skrining.
Meningkatkan Kewaspadaan
Inggrid menyarankan perlunya skrining guna terhindar dari paparan virus HPV. Gunanya setiap perubahan dalam tubuh diluar kenormalan harus diwaspadai.
"Jadi beberapa gejala memang misalnya ada keputihan berulang atau kok diobatin kambuh-kambuhan, atau malah sembuh, atau misalnya ada keluar darah di luar siklus haid, atau maaf setelah berhubungan misalnya atau sering dibilang postcoital bleeding," sebut Inggrid.
Selain itu, gejala lainnya yang merujuk terpapar virus HPV, adanya nyeri di area panggul kadang bisa menjalar sampai ke paha. Dalam beberapa kasus lain, bisa terjadi nyeri ketika buang air kecil, buang air besar, atau kadang bercampur darah.
Inggrid juga menjelaskan perbedaan polip dan kanker serviks agar tidak salah dalam diagnosis awal. Untuk kanker serviks, diawali dengan adanya perubahan lesi pleksik kanker, kemudian baru menjadi kanker serviks. "Jadi kalau polip sih kebanyakan memang sifatnya jinak ya gitu," ujar Inggrid.
Hingga kini gejala kanker serviks saat masuk stadium awal jarang sekali yang terdeteksi, meski adanya daerah jaringan yang abnormal (lesi). Padahal lesi tersebut, lanjut Inggrid, merupakan perubahan sel yang tidak sesuai dengan aslinya dan belum menjadi kanker kategori ganas.
"Nah, itu biasanya sering kali malah enggak bergejala. Jadi sering kedapatannya pada waktu skrining gitu seperti itu," tukas Inggrid.
Penulis: Arie Nugraha
Kontributor


0 comments