Setelah Sumatera Selatan, Kemenhut Uji Coba Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla di Kalimantan Tengah

IVOOX.id – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan rencana uji coba penggunaan dry ice atau es kering untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dengan sasaran awal membuka kembali akses penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya.
“Alhamdulillah, walaupun pemasok dry ice ini susah, tetapi alhamdulillah sudah ditemukan pemasoknya di Kalimantan dan insya Allah mulai besok siang barangnya sudah sampai. Operasi dry ice-nya akan dimulai ke arah Palangka Raya untuk membuka dulu Bandara Tjilik Riwut,” kata Raja Juli di Sampit, Sabtu (16/10/2026) malam, dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan, penggunaan dry ice menjadi salah satu upaya yang sedang dikembangkan pemerintah untuk mengurangi dampak asap karhutla. Metode tersebut sebelumnya telah diteliti oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama pihak dari Thailand.
Namun, hasil penelitian dan penerapannya masih terus dikembangkan sehingga efektivitas metode tersebut perlu dibuktikan melalui serangkaian uji coba dan evaluasi.
“Ini salah satu penelitian yang sudah dilakukan oleh teman-teman di BMKG bersama negara Thailand, tetapi hasilnya memang masih dalam usaha, yang terus dicoba,” ungkapnya.
Raja Juli mengatakan pemerintah telah melakukan intervensi menggunakan dry ice di Sumatera Selatan selama dua hari dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut).
Berdasarkan laporan Gubernur Sumatera Selatan yang diterimanya, intervensi tersebut diikuti peningkatan jarak pandang dari sekitar 300 meter menjadi 2.800 meter. Sementara itu, angka PM2.5 yang dilaporkan sebagai indikator kualitas udara turun dari 660 menjadi 200.
Meski begitu, ia menegaskan perubahan tersebut belum dapat sepenuhnya dikaitkan dengan penggunaan dry ice. BMKG masih akan mengevaluasi kemungkinan adanya faktor lain yang turut mempengaruhi perubahan jarak pandang dan kualitas udara.
“Teman-teman BMKG mengatakan kita akan evaluasi, apakah benar penurunan itu murni karena dry ice atau mungkin ada kontribusi faktor lain. Jadi, sekali lagi, ini masih sedang dikembangkan,” ujarnya.
Raja Juli menyebutkan, uji coba tersebut merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah untuk mencari alternatif penanganan kabut asap, terutama ketika kondisi atmosfer dan cuaca belum mendukung penurunan konsentrasi asap secara alami.
Ia mengakui belum menguasai secara terperinci aspek teknis penerapan metode tersebut. Karena itu, Kemenhut terus berkomunikasi dengan BMKG untuk memperoleh penjelasan dan perkembangan mengenai pelaksanaannya.
Ia menambahkan, uji coba di Kalimantan Tengah akan melibatkan sejumlah pihak, termasuk TNI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan operasional serta dukungan pendanaan yang tersedia.
“Namanya ikhtiar, namanya usaha, kita sebagai manusia akan terus lakukan. Kita coba, karena ini adalah suatu hal yang baru, kita akan trial and error,” ucapnya.
Apabila hasil evaluasi menunjukkan metode tersebut efektif membantu mengurangi dampak kabut asap, penerapannya akan diperluas secara bertahap ke kabupaten-kabupaten lain di Kalimantan Tengah yang membutuhkan penanganan serupa.
Uji coba itu diharapkan dapat menjadi salah satu opsi tambahan dalam menghadapi dampak karhutla, khususnya gangguan jarak pandang yang berpotensi menghambat aktivitas penerbangan dan mobilitas masyarakat.
Hasil pengujian di Kalimantan Tengah tetap akan menjadi bahan evaluasi untuk menilai sejauh mana metode dry ice dapat memberikan manfaat dalam penanganan kabut asap di wilayah tersebut.
“Kalau seandainya nanti efektif, kita geser terus ke kabupaten-kabupaten lain,” demikian Raja Juli.
OMC Dry Ice Kurangi Konsentrasi Asap Karhutla di Sumsel
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengatakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan bahan semai dry ice dapat membantu mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas Nifinluri mengatakan OMC sinergi Kemenhut dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan TNI tersebut berlangsung pada 16-25 Oktober 2026.
“Semai dry ice menjadi metode untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Operasi dilakukan berdasarkan kondisi atmosfer di lapangan dan dapat dikombinasikan dengan penyemaian garam (NaCl) apabila kondisi atmosfer mulai mendukung pertumbuhan awan hujan,” kata Thomas dalam keterangannya di Jakarta, pada Sabtu (16/10/2026), dikutip dari Antara.
Lebih lanjut, dia mengatakan OMC ini dilakukan dengan menggunakan anggaran APBN Kemenhut, dan terus dilakukan monitoring.
Hasil sementara berdasarkan data BMKG, OMC dry ice di Sumatera Selatan berhasil menurunkan konsentrasi PM atau kualitas udara, serta jarak pandang (visibility) meningkat dari 300 meter di jam 09.00 WIB menjadi 2.800 meter pada sore hari.
“Untuk membantu mengatasi kondisi tersebut, dilaksanakan modifikasi cuaca untuk penanganan asap akibat karhutla. Pendekatan secara khusus menggunakan bahan semai dry ice ditujukan untuk menipiskan asap karhutla dengan memengaruhi kondisi suhu atmosfer dan membantu mengganggu kestabilan lapisan inversi, sehingga pergerakan udara menjadi lebih baik dan konsentrasi asap di dekat permukaan berpotensi berkurang,” jelas Thomas.
Pada hari pertama pelaksanaan, OMC dilakukan melalui satu sortie penerbangan dengan membawa sekitar 800 kilogram bahan semai dry ice di sekitar wilayah Palembang.
Pada hari berikutnya, penerbangan direncanakan sebanyak dua sortie atau disesuaikan dengan kondisi cuaca dan atmosfer.
Thomas menjelaskan operasi akan terus menyesuaikan perkembangan kondisi atmosfer. Jika lapisan inversi mulai menipis dan terdapat potensi pertumbuhan awan hujan, penyemaian dry ice dapat dikombinasikan dengan bahan semai garam untuk mendukung proses pembentukan hujan.
Sementara itu, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kemenhut Dwi Januanto Nugroho mengatakan penanganan karhutla terus dilakukan bersama TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni Kemenhut, Masyarakat Peduli Api (MPA), dan relawan.
“Upaya penanganan karhutla perlu dilakukan secara terpadu, tidak hanya melalui pemadaman di lokasi kebakaran, tetapi juga dengan langkah-langkah untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat,” kata Dwi, dikutip dari Antara.
Menurut dia, pelaksanaan OMC dengan pendekatan penipisan asap menjadi salah satu upaya pendukung yang diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas udara di wilayah terdampak.


0 comments