Sejumlah Nama Kandidat Ketua Umum PBNU Beredar, Terbaru Gus Kikin | IVoox Indonesia

August 15, 2026

Sejumlah Nama Kandidat Ketua Umum PBNU Beredar, Terbaru Gus Kikin

Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz saat memaparkan Qanun Asasi
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz saat memaparkan Qanun Asasi pada ratusan kader NU dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di Makassar, Jumat malam (14/08). ANTARA/Nur Suhra Wardyah (B)

IVOOX.id – Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setelah mendapat dorongan dan penugasan dari Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Gus Kikin mengaku, dirinya akan mengusung dan memperkuat Qanun Asasi sebagai dokumen dasar NU yang disebut pernah diberlakukan pada masa awal berdirinya organisasi.

"Ke Makassar ini satu silaturahim. Kedua, saya menyampaikan ada buku Qanun Asasi," kata Gus usai bertemu dengan ratusan kader NU dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat di Makassar, Jumat malam (14/8/2026), dikutip dari Antara.

Kader NU ini mengatakan kunjungannya tersebut selain untuk bersilaturahmi dengan para ulama dan sesepuh NU, juga untuk menyampaikan kembali keberadaan Qanun Asasi.

Menurut dia, Qanun Asasi merupakan dokumen yang pernah menjadi pedoman NU pada masa awal organisasi berdiri, namun kemudian tidak lagi ditemukan hingga akhirnya kembali ditemukan.

Ia berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Qanun Asasi dapat kembali diterapkan dalam kehidupan organisasi NU. Jika dipercaya memimpin PBNU, ia menyebut misi utamanya adalah menghidupkan kembali nilai-nilai Qanun Asasi.

"Mudah-mudahan bisa diaplikasikan lagi di NU. Supaya NU nanti itu jadi guyub, jadi adem, jadi tenang semuanya," ujarnya.

Gus menjelaskan, kunjungannya ke sejumlah daerah merupakan bagian dari agenda silaturahmi setelah dirinya mendapat penugasan dari PWNU Jawa Timur untuk mencalonkan diri sebagai Ketua PBNU.

"Saya ditugaskan oleh PWNU Jawa Timur untuk mencalonkan diri. Nah itu akhirnya sekarang inilah saya harus ke mana-mana ini," katanya.

Gus Kikin menekankan bahwa kepemimpinan di NU harus dipandang sebagai bentuk pengabdian atau khidmat, bukan kesempatan untuk menikmati jabatan.

Menurut dia, penerapan prinsip tersebut pada masa awal berdirinya NU telah membangun suasana organisasi yang guyub dan penuh kekeluargaan melalui Qanun Asasi.

Ia juga mengatakan konsep dan kepengurusan NU saat ini perlu dibandingkan dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam Qanun Asasi untuk menentukan bagian yang perlu diperbaiki.

Ketua PBNU Sebut Banyaknya Kandidat Ketua Umum Tanda Kegairahan Tokoh NU

Sebelumnya, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla menilai banyaknya nama yang muncul dalam bursa calon ketua umum PBNU pada Muktamar ke-35 merupakan tanda kuatnya kegairahan para tokoh NU untuk membesarkan organisasi.

“Ini muktamar yang termasuk seru karena banyak kandidatnya. Jadi dibanding dengan Muktamar ke-34 di Lampung, Muktamar ke-35 di Tambakberas ini ramai kandidat,” ujar Ulil di Jakarta, Kamis (15/8/2026), dikutip dari Antara.

Ulil menyebut terdapat sekitar enam hingga tujuh kandidat yang digadang-gadang bakal masuk dalam bursa calon ketua umum PBNU. Menurut dia, kondisi tersebut memberikan lebih banyak pilihan bagi para muktamirin dalam menentukan pemimpin organisasi.

Sejumlah nama yang disebut-sebut bakal turut berkontestasi meliputi Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar.

Kemudian, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli, dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).

“Selain Gus Yahya, ada juga para kandidat-kandidat lain. Saya hitung ada sekitar enam kandidat seluruhnya, atau tujuh. Luar biasa,” ujarnya.

Namun, Ulil menekankan bahwa banyaknya kandidat tidak semata-mata menunjukkan persaingan dalam perebutan posisi ketua umum. Lebih dari itu, ia melihat fenomena tersebut sebagai bentuk antusiasme para tokoh NU untuk mengambil bagian dalam pengembangan organisasi.

“Bagi saya itu menandakan kegairahan tokoh-tokoh NU untuk membesarkan organisasi,” katanya.

Ia menambahkan dinamika Muktamar ke-35 NU masih memungkinkan munculnya sejumlah kejutan. Bahkan, menurut Ulil, kejutan-kejutan tersebut sudah mulai terlihat dalam proses menuju muktamar.

“Insya Allah banyak kejutan ya, dan sekarang pun sudah banyak kejutan,” ujar Ulil.

0 comments

    Leave a Reply