Sampai 2030, Sekitar 66 Ton Makanan Dibuang Setiap Detik

IVOOX.id, Jakarta – Limbah makanan setiap tahun akan bertambah sepertiga dalam 12 tahun ke depan. Menurut laporan Boston Colsulting Group, sampai 2030 sebanyak 66 ton makanan akan hilang atau dibuang setiap detik.

“Sampai 2030 limbah dan hilangnya makanan per tahun akan mencapai 2,1 miliar ton dengan nilai US$1,5 triliun,” kata laporan tersebut seperti dilansir Antara, Sabtu (25/8).

Laporan itu memperingatkan reaksi global terhadap limbah makanan terkotak-kotak dan tidak memadai, dan masalah tersebut berkembang dengan tingkat yang mengkhawatirkan. “Setiap tahun, 1,6 miliar ton makanan dengan nilai US$1,2 triliun hilang atau mengalir ke tempat limbah,” lanjut laporan itu.

Ironisnya, laporan tersebut mengatakan, masalah ini terus berkembang. Volume makanan yang hilang dan menjadi limbah akan naik 1,9% per tahun dari 2015 sampai 2030. “Sementara nilai dolar akan naik 1,8%,” lanjut laporan tersebut.

Di negara berkembang limbah terjadi selama proses produksi. Sedangkan di negara maju, kebanyakan limbah dihasilkan oleh pengecer dan konsumen, yang seringkali membeli terlalu banyak makanan atau makanan yang tidak memenuhi standard estetika.

Organisasi Makanan dan Pertanian PBB (FAO) sendiri memperkirakan, hilangnya dan limbah makanan berjumlah 8% dari buangan gas rumah kaca global. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, PBB telah menetapkan sasaran, guna mengurangi sampai setengah limbah makanan per kapita global, dan mengurangi hilangnya makanan sepanjang rantai produksi dan pasokan sampai 2030.

Namun, laporan itu mengatakan hanya ada sedikit kesempatan untuk memenuhi sasaran tersebut kecuali tindakan mendesak dilakukan oleh pemerintah, perusahaan dan konsumen. Eko-label, menurut laporan tersebut, adalah satu cara untuk mendorong bagi pengurangan limbah makanan. Salah satunya dengan mendorong konsumen agar membeli dari perusahaan yang telah berkomitmen untuk mengurangi limbah.

“Metode lain, yang meliputi perubahan dalam peraturan pemerintah, juga diperlukan,” laporan menuliskannya.

Kesenjangan Pangan
Di Indonesia, ada kesenjangan pangan yang terjadi di masyarakat dan tentu saja memerlukan solusi. Selain untuk mereduksi tingkat kemiskinan di Indonesia, juga untuk meminimalisir sampah makanan yang dihasilkan.

Atas dasar itulah Foodbank of Indonesia (FOI) muncul pada tahun 2015. Organisasi yang bergerak di bidang sosial, khususnya bantuan makanan kepada orang-orang yang kurang mampu dan tidak memiliki akses terhadap makanan ini berfokus dalam pemecahan masalah gizi buruk.

FOI pada prinsipnya menjadi jembatan antara pihak yang memiliki kelebihan makanan dengan pihak yang kekurangan. Ada tiga program yang dimiliki oleh FOI. Yakni pos pangan lansia, Sadari (Sayap Dari Ibu) dan Mentari Bangsaku.

Lewat pos pangan lansia ini FOI membagikan makanan yang sudah dikumpulkan dari pada donatur dan membagikannya kepada lansia. Program ini dilakukan setidaknya dua kali seminggu.

“Memang tidak menyelesaikan masalah, namun setidaknya bisa membantu meringankan,” Ketua Pembina Foodbank of Indonesia (FOI), Hendro Utomo kepada Validnews, kemarin.

Berbeda dengan pos pangan, Sadari Ibu menyasar ibu hamil dan menyusui. Lantas, program Mentari Bangsaku berfokus pada pemenuhan kebutuhan makanan anak-anak PAUD dan SD.

“PAUD terutama untuk memerangi kelaparan di sekolah, karena angkanya juga tinggi sekitar 40% secara makro. Intinya kalau anak-anak sekolah dengan perut kosong, susah ya mau diajarin apapun,” kata Hendro.

Hingga kini terdapat sekitar 9.000 anak menikmati sarapan yang disediakan FOI sebelum memulai pelajaran di sekolah.

Pada mulanya FOI yang berdiri 15 Mei 2015 hanya mengandalkan zakat, infaq dan sedekah untuk menggalang bantuan makanan, meskipun sudah ada dua perusahaan besar yang bersedia berpartisipasi dari awal. Dua perusahaan besar ini adalah Danone, produsen makanan dan minuman, dan Breadlife, produsen roti.

Namun, sejak tiga bulan lalu FOI menggagas terobosan untuk meningkatkan jumlah dukungan. Lewat program bertajuk blessing to share, FOI mengajak pasangan pengantin untuk mendonasikan sebagian hidangan pesta pernikahan yang berlebih untuk disalurkan kepada mereka yang kekurangan.

Terbaru, FOI tengah menyusun program Indonesia Ceria. Lewat program ini, FOI menggandeng perusahaan-perusahaan untuk ikut memberikan bantuan. Mirip dengan Sadari, Indonesia Ceria pun menyasar ibu hamil dan menyusui, Namun, program ini memiliki misi lebih khusus, yakni penanganan masalah stunting.

Berbagi Makanan Lebih
Di Bandung, Jordan Syein mendirikan sebuah komunitas yang memiliki tujuan untuk berbagi makanan berlebih kepada sesama yang membutuhkan.

“Jadi Brotherfood itu sebuah komunitas untuk membuat kebiasaan baru di kalangan masyarakat, dengan cara membagikan makanan yang berlebih kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Jordan Syein yang menjadi pendiri komunitas Brotherfood.

Syein mengatakan, komunitasnya sudah terbentuk sejak awal bulan Januari 2018 lalu. Brotherfood terbentuk karena kebiasaan sehari-harinya yang sering membungkus makanan berlebih di tempat kerjanya.

Pada mulanya, Syein mengaku risih ketika melihat makanan yang terbuang sia-sia di tempat kerjanya di Jakarta. Akhirnya, dengan visi dan misi yang sama, hingga saat ini sudah ada sembilan orang yang bersedia bergabung.

“Ketika saya melihat makanan yang terbuang sia-sia di kantor, itu di luar sana masih banyak saudara kita yang susah untuk makan,” kata dia lagi.

Dirinya menuturkan bahwa saat ini telah melakukan kampanye untuk mengajak masyarakat untuk berbagi makanan kepada sesama. Karena menurutnya masih banyak orang yang kelaparan dan membutuhkan uluran tangan.

Komunitas ini bersifat terbuka, tidak ada syarat-syarat khusus untuk bergabung, asalkan makanan yang hendak dibagi masih bagus atau layak dikonsumsi.

“Orang lain bisa ngelakuin ini kapan saja dan di mana saja, jadi sebagai langkah awal kita sekarang lagi kampanye untuk ngajak dulu,” kata Syein.

Brotherfood, menurut dia, mempublikasikan cara-cara mengemas makanan untuk dibagikan dengan layak melalui akun instagramnya @brotherfood_org.

Biasanya, mereka membagikan makanannya untuk masyarakat yang lebih membutuhkan di sekitaran jalan dekat kantornya. “Target kita memang orang-orang yang lebih membutuhkan saja, daripada makanannya kebuangkan mending dibagiin tapi secara layak,” ujar Jordan Syein.

Ke depannya, jika sudah terbentuk tim baru dari setiap wilayah, mereka akan menerima donasi dalam bentuk makanan, alat pendukung seperti kertas nasi dan lain-lainnya, serta materi

Jordan Syein berharap agar komunitas ini bisa berhasil membuat kebiasaan baru di kalangan masyarakat, khususnya pekerja kantoran dan juga mahasiswa.

“Di saat bersamaan kita juga ingin merealisasikan visi zero waste dan zero hunger melalui Brotherfood ini,” tutupnya.