Saatnya Gen Z & Milenial Bicara Soal Adab Digital | IVoox Indonesia

February 13, 2026

Saatnya Gen Z & Milenial Bicara Soal Adab Digital

ILUSTRASI - Gen Z dan Milenial sedang bermain gadget. IVOOX.ID/AI
ILUSTRASI - Gen Z dan Milenial sedang bermain gadget. IVOOX.ID/AI

IVOOX.id, Jakarta - Belakangan ini, linimasa media sosial terasa makin bising. Video perundungan viral dalam hitungan jam. Potongan pelajar membentak guru menyebar ke berbagai platform. Ironisnya, tak sedikit dari konten tersebut justru diunggah oleh pelakunya sendiri tanpa ragu, tanpa malu, bahkan terkadang dengan harapan mendapat sorakan dan dukungan.

Fenomena ini bukan sekadar “konten bocah” atau kenakalan remaja yang dibesar-besarkan algoritma. Ada sesuatu yang lebih dalam: krisis adab di ruang digital. Dan krisis ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh di tengah budaya viral, ekonomi perhatian (attention economy), dan obsesi terhadap validasi.

Kita hidup di era ketika eksistensi sering kali diukur dari angka. Jumlah likes, views, komentar, dan followers menjadi semacam “mata uang sosial”. Semakin kontroversial, semakin ekstrem, semakin berpotensi viral. Dalam logika algoritma, sensasi sering kali lebih cepat naik daripada substansi. Tidak heran jika sebagian anak muda yang sedang dalam fase mencari jati diri terjebak pada pola pikir: yang penting ramai dulu, urusan etika belakangan.

Padahal, jejak digital tidak pernah benar-benar hilang.

Teknologi digital pada dasarnya netral. Ia memberi kita akses ilmu tanpa batas, peluang karier baru, ruang berekspresi, bahkan wadah untuk membangun gerakan sosial. Namun, kebebasan berekspresi sering disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Komentar kasar dianggap biasa. Body shaming dibungkus candaan. Perundungan diberi label “konten hiburan”. Pelan-pelan, empati terkikis dan rasa hormat terasa kuno.

Yang lebih memprihatinkan, krisis adab ini tidak hanya terjadi pada generasi muda. Banyak orang dewasa yang seharusnya menjadi panutan justru ikut mempertontonkan komunikasi yang agresif dan tidak etis di media sosial. Debat berubah menjadi hujatan.Perbedaan pendapat berujung pada serangan pribadi.

Jika orang dewasa saja gagal menunjukkan kedewasaan digital, bagaimana mungkin kita berharap anak-anak tumbuh dengan standar etika yang lebih tinggi?

Budaya validasi memperparah keadaan. Ketika nilai diri dikaitkan dengan respons warganet, keputusan pun sering diambil berdasarkan potensi viral, bukan berdasarkan nilai moral. Demi konten, sebagian rela melanggar norma sosial, merendahkan orang lain, bahkan mempertaruhkan masa depan sendiri. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membentuk karakter yang rapuh, mudah terpengaruh tren, haus pengakuan, dan miskin empati.

Padahal, menjadi generasi digital bukan hanya soal cepat beradaptasi dengan teknologi. Literasi digital bukan sekadar tahu cara mengedit video, memanfaatkan AI, atau membaca insight analytics. Literasi digital sejati adalah kemampuan memahami dampak dari setiap unggahan, menyadari konsekuensi dari setiap komentar, dan menimbang apakah sesuatu pantas dibagikan atau tidak.

Dan di sinilah pentingnya fondasi yang bernama adab.

Adab bukan konsep kuno yang hanya relevan di ruang kelas atau rumah. Di era digital, adab justru semakin relevan. Ia menjadi kompas ketika kita berada di ruang yang nyaris tanpa batas dan minim pengawasan.

Adab membuat kita bertanya sebelum mengunggah: Apakah ini menyakiti orang lain? Apakah ini mempermalukan seseorang? Apakah ini akan saya sesali beberapa tahun ke depan?

Peran keluarga sangat krusial. Anak belajar bukan dari ceramah panjang, tetapi dari contoh sehari-hari. Jika orang tua terbiasa menyebar hoaks, berkomentar kasar, atau mem-bully secara halus di grup WhatsApp, anak akan menganggap itu wajar. Sebaliknya, jika orang tua menunjukkan etika dalam berdiskusi, menghargai perbedaan, dan bijak bermedia sosial, nilai itu akan tertanam tanpa perlu banyak teori.

Sekolah pun memiliki peran strategis. Pendidikan tidak boleh hanya mengejar ranking, nilai ujian, dan kompetisi akademik. Kecerdasan tanpa karakter justru berbahaya. Siswa perlu dibekali kemampuan berpikir kritis sekaligus empati. Mereka perlu diajak berdialog tentang etika digital, konsekuensi hukum, serta dampak psikologis dari perundungan online. Guru, melalui sikap tegas namun manusiawi, dapat menjadi contoh nyata bahwa wibawa dan kasih sayang bisa berjalan beriringan.

Berbagai kajian pendidikan modern menekankan pentingnya keseimbangan antara hard skills dan soft skills. Kreativitas, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi harus sejalan dengan integritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Dunia kerja masa depan tidak hanya mencari orang yang cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara emosional dan etis.

Krisis adab digital bukan masalah satu generasi. Ini adalah refleksi dari ekosistem sosial yang kita bangun bersama. Mudah untuk menyalahkan Gen Z atau milenial. Namun, lebih sulit dan lebih penting adalah melakukan evaluasi diri sebagai orang dewasa, pendidik, orang tua, dan pengguna media sosial.

Sudah saatnya kita berhenti hanya mengejar viral dan mulai mengejar nilai. Sudah waktunya kita menempatkan adab sebagai fondasi, bukan aksesori. Karena pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang, platform akan terus berganti, dan tren akan terus berubah. Tetapi karakter itulah yang akan menentukan apakah generasi digital ini menjadi generasi yang hanya ramai di linimasa, atau benar-benar membawa dampak positif bagi masyarakat.

Menjadi keren di era sekarang bukan tentang seberapa kontroversial kita, melainkan seberapa bijak kita menggunakan ruang yang kita miliki. Dan mungkin, di tengah derasnya arus konten dan notifikasi, memilih untuk tetap beradab adalah bentuk keberanian yang paling relevan hari ini.

Penulis: Maulana Haitami

0 comments

    Leave a Reply