Rupiah Tembus Rp18.000, IHSG Anjlok | IVoox Indonesia

June 5, 2026

Rupiah Tembus Rp18.000, IHSG Anjlok

antarafoto-nilai-tukar-rupiah-terendah-terhadap-dolar-as-1780481925-1
Nasabah melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Pada perdagangan Rabu (3/6) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp17.975 yaitu paling rendah dari rekor terendah sebelumnya. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

IVOOX.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan 0,27 persen hingga menembus Rp18.015 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, pagi. Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir sekaligus menandai mata uang Garuda ke ambang psikologis baru Rp18.000 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai pelemahan ini mencerminkan kuatnya tekanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ditambah sentimen domestik yang masih kurang kondusif.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” kata di Jakarta, Kamis (4/6/2026), dikutip dari Antara.

Selain itu, sejumlah data ekonomi AS yang dirilis lebih baik dari perkiraan pasar turut memperkuat mata uang Negeri Paman Sam. Data ketenagakerjaan AS serta indeks aktivitas sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan kinerja lebih kuat dari ekspektasi memperbesar optimisme terhadap ekonomi AS.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Sementara dari dalam negeri, sentimen pasar juga dinilai belum cukup kuat untuk menopang pergerakan rupiah.

Meski demikian, Lukman memperkirakan pelemahan rupiah berpotensi tertahan oleh langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI). Dengan kurs yang kembali mendekati level psikologis baru, bank sentral diperkirakan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologi baru, kemungkinan Bank Indonesia akan mengintervensi secara agresif,” tambahnya.

Sementara, Bank Indonesia (BI) memastikan terus melakukan intervensi di pasar valas dengan intensitas yang lebih tinggi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut hingga ke level Rp18.000-an per dolar AS.

“Bank Indonesia terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (4/6/2026), dikutip dari Antara.

Selain itu, Destry menambahkan bahwa bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.

“Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” tegas Destry.

Ia menambahkan koordinasi serta komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya juga terus dilakukan secara intensif.

Destry menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai. Hal ini kemudian mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging. Di samping itu, kebutuhan valas di domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri (ULN).

Menurut Destry, pelemahan rupiah secara umum masih sejalan dengan regional, dengan pelemahan secara tahun kalender berjalan (year to date/ytd) -7,44 persen. Di sisi lain, BI memastikan cadangan devisa tetap terjaga yakni berada pada level 146,2 miliar dolar AS pada akhir April 2026.

Sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar, BI mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema local currency transaction (LCT). Kerja sama tersebut telah terjalin dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS dibandingkan full year tahun lalu yang sekitar 25,7 miliar dolar AS,” kata Destry.

IHSG Anjlok Lebih dari 4 Persen

Sementara, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis 4 Juni 2026, dengan penurunan lebih dari 4 persen. IHSG sempat tercatat melemah 246,14 poin atau 4,14 persen ke level 5.694,91.


Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai koreksi tajam IHSG menunjukkan pasar sedang menghadapi krisis kepercayaan yang cukup serius. “Koreksi tajam IHSG hingga menembus level psikologis 6.000 dan ditutup di 5.941 pada perdagangan 3 Juni 2026 menjadi sinyal bahwa pasar sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius,” kata Hendra di Jakarta, Kamis (4/6/2026), dikutip dari Antara.

Menurut dia, pelemahan pasar saham tidak hanya dipengaruhi sentimen eksternal, namun juga diperparah oleh sejumlah faktor domestik. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing yang menjadi faktor yang mendorong investor mengurangi investasinya pada aset berisiko di Indonesia.

Hendra memandang kondisi itu terlihat kontras karena sebagian besar bursa saham Asia justru bergerak menguat. “Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar domestik lebih banyak berasal dari faktor internal dibandingkan eksternal,” jelasnya.

Ia mengatakan pasar cenderung bergerak berdasarkan persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan, bukan semata-mata dipengaruhi pernyataan optimistis mengenai kondisi ekonomi. Ketika pemerintah menyampaikan fundamental ekonomi masih kuat, namun di saat yang sama rupiah terus melemah, IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk secara global tahun ini.

“Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya. Ketika kepastian kebijakan berkurang dan pelaku pasar kesulitan memproyeksikan arah ekonomi ke depan, investor cenderung memilih menunggu atau bahkan memindahkan dananya ke negara lain yang dianggap lebih stabil,” jelas Hendra.

Dari sisi arus modal, Hendra mencatat investor asing kembali membukukan penjualan bersih (net sell) sekitar Rp864 miliar pada perdagangan hari ini. Sementara secara akumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia mencapai sekitar Rp67 triliun. Besarnya arus keluar modal tersebut menjelaskan tekanan jual yang terus terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama indeks.

Ia memperkirakan volatilitas pasar masih akan tinggi selama arus keluar dana asing berlanjut dan belum ada katalis positif yang mampu memulihkan kepercayaan investor global terhadap pasar Indonesia. Meski demikian, Hendra menilai kondisi saat ini tidak harus disikapi secara berlebihan. Ia melihat banyak saham unggulan telah mengalami koreksi cukup dalam sehingga valuasinya mulai menarik bagi investor jangka panjang.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar yang tengah mengalami krisis sentimen sering kali bergerak tidak rasional dalam jangka pendek.

“Oleh karena itu, kemungkinan IHSG masih dapat mengalami tekanan lanjutan dan menguji area psikologis berikutnya di sekitar 5.800 hingga 6.000 sebelum akhirnya menemukan keseimbangan baru dan berpeluang melakukan pemulihan secara bertahap,” tuturnya.

Sementara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tak menyiapkan intervensi khusus untuk menghadapi tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebab, kata dia, fundamental ekonomi yang kuat bisa menjadi andalan untuk menopang pergerakan IHSG.

“Kalau dari saya sih enggak ada (intervensi). Yang penting adalah saya jelaskan bahwa fondasi ekonomi kita bagus dan akan membaik terus. Itu harusnya menjadi landasan ke penilaian harga saham,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (4/6/2026), dikutip dari Antara.

Purbaya mengatakan, berbagai indikator perekonomian bisa mendorong IHSG kembali bergerak positif. Salah satunya yaitu inflasi pada Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy) yang masih dalam rentang target Bank Indonesia 2,5 plus minus 1 persen. Selain itu, penerimaan pajak tercatat mencapai Rp646,3 triliun per 30 April 2026, tumbuh sebesar 16,1 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Ia menilai gejolak IHSG saat ini bersifat kekhawatiran jangka pendek, yang dipengaruhi oleh isu-isu negatif di dalam negeri. Dia pun memastikan bakal menjaga kinerja perekonomian sekaligus sentimen pasar tetap stabil.

0 comments

    Leave a Reply