Rupiah dan Foreign Flow Menguat, Reksa Dana Bisa Jadi Pilihan Investasi

IVOOX.id – Penguatan pasar keuangan domestik mulai membuka peluang bagi investor untuk kembali mengevaluasi dan menata portofolio investasi. Kendati sejumlah indikator pasar menunjukkan perbaikan, investor dinilai tetap perlu selektif dalam memilih instrumen dan tidak hanya mengejar momentum penguatan pasar.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, mengatakan strategi portofolio saat ini lebih tepat diarahkan pada balanced selective risk taking dibandingkan aggressive risk-on. Menurutnya, risk-reward aset domestik mulai membaik seiring penguatan rupiah dan masuknya aliran dana asing. Namun, investor tetap perlu memperhitungkan tekanan inflasi dan perkembangan suku bunga global.
Dari pasar valuta asing, rupiah tercatat menguat dari sekitar Rp17.722 per dolar AS pada akhir Agustus menjadi Rp17.642 per dolar AS pada 4 September 2026. Penguatan tersebut, ditambah meningkatnya foreign flow, dinilai menunjukkan ketahanan aset domestik meski tekanan dari pasar global masih perlu diwaspadai.
Di pasar pendapatan tetap, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mencapai sekitar 7,11 persen. Kondisi ini membuat entry yield kembali lebih menarik bagi investor. Meski demikian, strategi investasi disarankan dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhitungkan volatilitas suku bunga.
“Reksa dana obligasi kembali sedikit lebih menarik setelah SBN 10Y naik ke 7,11 persen, tetapi preferensi tetap pada portofolio yang berfokus pada obligasi short-to-medium duration, dengan extension ke tenor panjang dilakukan bertahap karena volatilitas duration masih tinggi,” ujar Novani dalam keterangan resmi Selasa (8/9/2026).
Sementara itu, membaiknya aliran dana asing dan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memberikan ruang bagi investor untuk mempertahankan eksposur pada saham-saham dengan fundamental berkualitas. Fokus dapat diarahkan terutama pada saham berkapitalisasi besar dan likuid, meski potensi volatilitas serta dispersion yang meningkat tetap perlu menjadi perhatian.
Novani juga menilai reksa dana pasar uang masih memiliki peran penting sebagai liquidity anchor dalam portofolio. Meski forward return berpotensi mengalami normalisasi apabila biaya likuiditas menurun ke depan, instrumen tersebut dinilai tetap lebih menarik dibandingkan apabila dana hanya ditempatkan pada deposito perbankan.
Dengan kondisi pasar tersebut, pendekatan investasi yang lebih seimbang dinilai penting. Bagi investor dengan profil moderat, indikasi alokasi portofolio dapat terdiri dari 35 persen reksa dana pasar uang, 40 persen reksa dana pendapatan tetap, dan 25 persen reksa dana saham.
Komposisi tersebut bersifat indikatif dan tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, kebutuhan likuiditas, serta horizon investasi masing-masing investor.
Head of Fund Services PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Francisca Gerungan, mengatakan investor juga perlu memahami fungsi masing-masing jenis reksa dana dalam portofolio sebelum menentukan pilihan. Keputusan investasi, menurutnya, harus mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, dan jangka waktu yang dimiliki.
Investor dengan kebutuhan likuiditas dan dana jangka pendek dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang. Sementara itu, kenaikan yield obligasi mulai membuka peluang pada reksa dana pendapatan tetap. Adapun investor dengan horizon lebih panjang dan toleransi risiko lebih tinggi dapat menjadikan reksa dana saham sebagai bagian dari alokasi pertumbuhan dengan penambahan eksposur secara bertahap.
“Investor sebaiknya tidak hanya bertanya produk mana yang memberikan return paling tinggi, kemudian hanya melihat kinerja 1 tahun terakhir sebagai acuan, tetapi juga apa fungsi produk tersebut di dalam portfolionya. Dengan begitu, keputusan investasi dapat lebih terarah sesuai kebutuhan dan tidak hanya didasarkan pada kondisi pasar dalam jangka pendek,” ujar Francisca.
Bagi investor dengan profil moderat, kombinasi beberapa jenis reksa dana dapat membantu setiap instrumen menjalankan fungsi berbeda dalam portofolio, mulai dari menjaga likuiditas, mengelola volatilitas, hingga memberikan potensi pertumbuhan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, kondisi pasar yang mulai membaik dapat menjadi momentum bagi investor untuk mengevaluasi kembali portofolionya. Namun, penataan investasi tetap perlu dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan profil risiko, kebutuhan likuiditas, dan tujuan investasi masing-masing, bukan semata-mata mengikuti pergerakan pasar dalam jangka pendek.


0 comments