Produksi Garam Nasional 2025 Tembus 1 Juta Ton, KKP Fokus Intensifikasi dan Ekstensifikasi Lahan | IVoox Indonesia

5 Maret 2026

Produksi Garam Nasional 2025 Tembus 1 Juta Ton, KKP Fokus Intensifikasi dan Ekstensifikasi Lahan

antarafoto-rumah-produksi-garam-tradisional-di-bali-1764753911-1
Wisatawan mancanegara menyaksikan petani menyiram air laut ke lahan pasir saat pembuatan garam tradisional di Klungkung, Bali, Rabu (3/12/2025). Menurut petani setempat, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke rumah produksi garam tradisional tersebut rata-rata 5-10 orang per hari untuk melihat proses pembuatan garam sekaligus membeli garam yang dijual seharga Rp20 ribu-Rp40 ribu per bungkus sesuai ukuran. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo

IVOOX.id – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat produksi garam nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 1 juta ton. Angka tersebut berasal dari produksi tambak garam rakyat maupun pelaku usaha. Meski demikian, capaian tahun ini tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya akibat faktor cuaca yang kurang mendukung, terutama tingginya curah hujan.

Direktur Sumber Daya Kelautan Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Frista Yorhanita, menjelaskan bahwa kondisi cuaca sangat memengaruhi proses pembentukan kristal garam. Intensitas hujan yang tinggi membuat proses penguapan air laut tidak optimal, sehingga berdampak langsung pada volume produksi.

“Produksi nasional saat ini masih sekitar 2 juta ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 4,5 hingga 5 juta ton. Karena itu kita masih melakukan impor sekitar 2,6 sampai 3 juta ton per tahun, terutama untuk kebutuhan industri,” ujar Frista dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (30/12/2025).

Ia mengakui penurunan produksi pada 2025 menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mengejar target swasembada garam pada 2027. Untuk menjawab tantangan tersebut, KKP menjalankan dua strategi utama, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi lahan tambak garam.

Program intensifikasi difokuskan pada peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada. Sepanjang 2025, langkah ini dilaksanakan di empat wilayah sentra garam, yaitu Indramayu, Cirebon, Pati, dan Sabu Raijua. Upaya yang dilakukan meliputi revitalisasi tambak, perbaikan saluran air untuk mengatasi sedimentasi di kawasan Pantura Jawa, serta pembangunan fasilitas pendukung seperti gudang penyimpanan.

KKP juga menyalurkan bantuan gudang rakyat berkapasitas 100 ton, serta gudang garam skala besar dengan kapasitas 2.000 hingga 7.000 ton. Selain itu, petambak mendapatkan bantuan geomembran untuk mempercepat proses evaporasi, serta pengenalan inovasi teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Teknologi SWRO dinilai mampu meningkatkan kualitas garam hingga memiliki kadar NaCl di atas 97 persen, sehingga sesuai dengan kebutuhan industri dalam negeri. “Harapan kami dengan yang sudah kami lakukan di 2025 ini, untuk intensifikasi tadi kami bisa meningkatkan produksi 30 persen dari produksi eksisting sekarang,” kata Frista.

Sementara itu, program ekstensifikasi dilakukan dengan membuka lahan tambak garam baru. Salah satu proyek utama berada di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, dengan luas mencapai 800 hektare. Tambak tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada 2026.

Dengan asumsi produktivitas sekitar 200 ton per hektare, kawasan Rote Ndao diperkirakan mampu menyumbang tambahan produksi garam nasional sebesar 160 ribu ton per tahun.

0 comments

    Leave a Reply