Privy Siapkan Infrastruktur Verifikasi Agen AI di Sektor Perbankan | IVoox Indonesia

July 14, 2026

Privy Siapkan Infrastruktur Verifikasi Agen AI di Sektor Perbankan

CEO dan Co-Founder Privy, Marshall Pribadi
CEO dan Co-Founder Privy, Marshall Pribadi dalam sesi panel Beyond Banking: Rewiring the Financial System pada Indonesia Digital Bank Summit (IDBS) 2026 pada Senin (13/7/2026). IVOOX.ID/doc AFTECH

IVOOX.id – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) diperkirakan akan mengubah cara industri keuangan beroperasi dalam beberapa tahun mendatang. AI tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu analisis atau otomatisasi, tetapi juga berpotensi mengambil keputusan hingga mengeksekusi transaksi keuangan secara mandiri. Kondisi tersebut memunculkan tantangan baru terkait kepastian identitas, otorisasi, dan akuntabilitas hukum atas setiap tindakan yang dilakukan agen AI.

Menjawab tantangan tersebut, Privy sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSrE) menyiapkan pengembangan infrastruktur digital trust untuk memverifikasi identitas agen AI melalui pendekatan kriptografi. Skema ini memungkinkan setiap tindakan AI memiliki identitas dan otorisasi yang dapat dibuktikan secara matematis sehingga transaksi digital tetap aman, sah, dan dapat dipertanggungjawabkan.

CEO dan Co-Founder Privy, Marshall Pribadi, mengatakan kebutuhan terhadap mekanisme identitas digital akan semakin penting seiring meningkatnya kemampuan AI dalam menjalankan berbagai aktivitas yang memiliki konsekuensi hukum.

"Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan memasuki era ketika AI tidak hanya membantu manusia mengambil keputusan, tetapi juga menjalankan berbagai proses dan transaksi secara mandiri. Ketika tindakan yang dilakukan AI mulai menimbulkan hak dan kewajiban hukum, kebutuhan akan mekanisme identitas dan otorisasi yang dapat dibuktikan secara kuat akan menjadi semakin penting," ujar Marshall dalam keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Senin (13/7/2026).

Menurut Marshall, sektor jasa keuangan Indonesia saat ini tengah memasuki fase beyond banking, ditandai dengan semakin terintegrasinya layanan perbankan, fintech, dan berbagai platform digital melalui konsep Universal Banking, Embedded Finance, dan Open Finance. Dalam ekosistem tersebut, kepercayaan digital menjadi fondasi utama agar berbagai layanan dapat saling terhubung secara aman.

"Setiap keputusan dan transaksi yang dijalankan AI harus memiliki rekam jejak identitas serta otorisasi yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan secara hukum," katanya.

Marshall menambahkan, hingga kini banyak lembaga keuangan masih membangun sistem verifikasi identitas secara terpisah untuk meminimalkan risiko penipuan. Menurutnya, pendekatan tersebut meningkatkan biaya operasional sekaligus membuat pengalaman pengguna menjadi kurang efisien.

"Transformasi menuju era beyond banking membutuhkan fondasi kepercayaan yang sama kuatnya dengan infrastruktur teknologinya. Karena itu, kami melihat digital trust sebagai infrastruktur bersama yang dapat diandalkan berbagai pelaku industri untuk memperkuat kepastian identitas, mengurangi kompleksitas verifikasi, dan mendukung pertumbuhan ekosistem keuangan yang lebih efisien," ujarnya.

Urgensi penguatan digital trust juga sejalan dengan meningkatnya inklusi keuangan nasional. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat inklusi keuangan Indonesia telah mencapai 80,51 persen. Tantangan berikutnya bukan lagi memperluas akses, melainkan memastikan setiap transaksi, baik yang dilakukan manusia maupun mesin, berlangsung secara aman dan tepercaya.

Sebagai PSrE, Privy menyediakan layanan identitas digital dan tanda tangan elektronik tersertifikasi yang mendukung berbagai proses digital, mulai dari verifikasi identitas, pembukaan rekening, electronic Know Your Customer (e-KYC), pengajuan pembiayaan, penerbitan polis asuransi, hingga penandatanganan dokumen elektronik yang memiliki kekuatan hukum.

Senada dengan Marshall, Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Firlie Ganinduto, menilai keberhasilan transformasi menuju era beyond banking sangat bergantung pada hadirnya standar kepercayaan yang dapat digunakan bersama oleh seluruh pelaku industri.

"Transformasi menuju era beyond banking pada dasarnya adalah upaya membangun ekosistem keuangan yang semakin terhubung dan berpusat pada kebutuhan masyarakat. Namun semakin tinggi tingkat konektivitas tersebut, semakin penting pula keberadaan fondasi kepercayaan yang dapat digunakan bersama oleh seluruh pelaku industri," kata Firlie.

0 comments

    Leave a Reply