Petani Indramayu Kembangkan Inovasi Produksi Garam Kristal | IVoox Indonesia

May 8, 2026

Petani Indramayu Kembangkan Inovasi Produksi Garam Kristal

Petani garam saat memanen garam kristal di Desa Juntinyuat
Petani garam saat memanen garam kristal di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Kamis (7/5/2026). ANTARA/Fathnur Rohman.

IVOOX.id – Petani garam di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, mengembangkan inovasi produksi garam kristal. Ketua Koperasi SAE Nalendra Darma Raga Carmadi mengatakan, proses produksi garam kristal dilakukan melalui tahapan penyaringan dan pengendapan air garam di dalam tunnel yang terintegrasi dengan sistem Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Setiap tunnel memiliki ukuran panjang 25 meter, lebar 4 meter, dengan tinggi air sekitar 20 sentimeter.

“Dalam satu jam, sistem SWRO mampu menghasilkan sekitar 2.000 liter air, yang kemudian menjadi sekitar 1.000 liter bahan kristalisasi setelah melalui proses penyaringan dan pembersihan,” kata Darma, Kamis (7/5/2026), dikutip dari Antara.

Carmadi menambahkan, kapasitas produksi awal bisa sekitar tiga ton garam per tunnel setiap bulan, seiring penerapan sistem produksi bertingkat yang mempercepat proses kristalisasi air garam. “Kalau sasaran marketnya industri, paling tidak membutuhkan waktu sekitar 40 hari untuk bisa panen dengan standar industri. Kalau untuk konsumsi sekitar 30 hari sudah bisa dipanen,” tuturnya.

Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri mengatakan, inovasi produksi garam kristal yang dilakukan petani di Desa Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, layak dikembangkan secara luas karena berpotensi meningkatkan produktivitas dan kualitas garam.

“Buat saya ini terobosan yang bagus. Selama ini produksi garam dengan metode penguapan biasa produktivitasnya hanya sekitar 70 ton per hektare per tahun,” kata Rokhmin di Indramayu, Kamis (7/5/2026), dikutip dari Antara.

Ia mengatakan, pemerintah sebelumnya telah mengembangkan sejumlah teknologi produksi garam, seperti geomembran dan teknik ulir, yang mampu meningkatkan produktivitas hingga sekitar 120 ton per hektare per tahun.  Sementara, kata dia, inovasi yang dikembangkan di desa tersebut mampu memberikan keuntungan ekonomi bagi pelaku usaha garam.

Rokhmin mengatakan, penerapan teknologi serupa di Indonesia masih terbatas dan baru ditemukan di beberapa wilayah di Indramayu, seperti Losarang dan Krangkeng. “Kalau di negara maju, pemerintah itu mempertemukan inovator dengan industrinya. Jadi hasil penelitian bisa berkembang menjadi inovasi yang dipakai secara luas,” katanya.

Banyak hasil penelitian, kata dia, berhenti pada tahap invensi dan belum berkembang menjadi inovasi teknologi karena lemahnya proses komersialisasi. Atas dasar tersebut, pihaknya menyarankan agar pemerintah perlu memperkuat hilirisasi hasil penelitian agar inovasi masyarakat tidak berhenti pada tahap prototipe semata.

“Nanti saya sampaikan ke dirjen dan menteri supaya jangan dibiarkan berjalan sendiri. Kalau tidak dibantu, inovasi seperti ini bisa tidak berkembang,” katanya.

0 comments

    Leave a Reply